Budaya Membaca Tertanam Sejak Kecil

Budaya Membaca Tertanam Sejak Kecil

  Kamis, 9 November 2017 10:00
TOKOH BACARAZIN MEMBACA: M Zeet Hamdy Assovie sejak kecil sudah dilatih dilingkungan keluarga untuk razin membaca.

Berita Terkait

Tokoh Baca Kalbar; Sosok Inspirasi Menuju Generasi Gemar Membaca

Membaca menjadi salah satu kegiatan yang menghadirkan manfaat sangat besar bagi perkembangan pengetahuan dan otak. Manfaat ini kemudian menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan seseorang. Itu pula yang dirasakan M Zeet Hamdy Assovie.

MARSITA RIANDINI, Pontianak 

KENYATAAN bahwa kegemaran membaca buku berbanding lurus dengan keberhasilan dibuktikan oleh banyak tokoh di dunia. Di Indonesia saja, kita dapat menyebutkan beberapa tokoh yang sangat terkenal sebagai pembaca buku yang antusias. Sebut saja Soekarno, Gus Dur,  M Hatta, Buya Hamka, dan tokoh-tokoh lainnya. 

Manfaat membaca juga dirasakan oleh M Zeet Hamdy Assovie. Bagi Sekda Kalbar ini, membaca menjadi ritual wajib. Malam hari menjadi pilihan baginya menyerap ilmu dari lembaran demi lembaran buku. 

Budaya membaca M Zeet sudah terdidik sejak kecil. Bahkan sejak zaman kakeknya. Bagi dia, membaca tidak hanya secara tekstual saja tetapi juga kontekstual. Termasuk pula dalam membaca kitab suci. 

“Iqra (bacalah) itu ada disemua sumber-sumber bacaan kitab suci. Iqra  ditemukan di Taurat, Injil, terakhir di Alquran. Itulah kemudian kita didik dari kecil baca ayat, baca alam, akhirnya terbiasa,” ujar dia. 

Membaca menjadi cara dia untuk mencari referensi memecahkan persoalan. Seperti dalam menentukan kebijakan di pemerintahan. Referensi itu bisa berupa hasil riset, maupun jurnal ilmiah. Termasuk mengadopsi pemikiran-pemikiran para penulis yang disesuaikan dengan kebutuhan. 

“Itu sering saya adopsi untuk menjelaskan pada staf. Karena kalau hanya baca peraturan, tidak semua bisa memahami esensi peraturan. Kenapa paraturan dibuat, apa yang menjadi filosofinya,” ulasnya. 

M Zeet  lebih menyenangi buku-buku yang bersifat aplikatif terhadap pemberdayaan ekonomi. Menurut dia, buku-buku tersebut berguna dalam meningkatkan daya saing masyarakat. 

Selain itu, M Zeet juga menyadari, saat ini bentuk dan model bacaan berbeda. Bahan bacaan tidak hanya menyangkut persoalan-persoalan sosial, tetapi juga masalah politik. “Mau tidak mau, masyarakat harus memahami dan mengikuti persoalan-persoalan politik yang terjadi,” ujarnya. 

Kesibukan M Zeet, tak menghalangi dia untuk menulis. Sejak tamat S2, tahun 1997 lalu dia mulai menulis. Dia telah menulis 13 buku yang umumnya berkaitan tentang tourism. Menurut dia, potensi wisata di Indonesia sangat besar. Sayangnya belum bisa dimaksimalkan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat. 

Ada juga satu buku tentang NU Menggenggam Dunia. Buku tersebut untuk menginspirasi anak NU. “Meskipun dari Pondok Pesantren, tetapi bisa menguasai dunia, dengan prinsip ideologi yang moderat, yang akomodatif, tidak ke barat tidak ke timur, tidak kapitalism, tidak sosialism. Dapat mengakomodir gambaran-gambaran dunia, yang tidak ke kanan tidak ke kiri. Tetapi bisa berada di tengah,” ucap M Zeet sembari menceritakan pengalamananya saat menjabat sebagai Ketua PWNU Kalbar. 

Saat ini, dia sedang menyiapkan satu buku aplikasi bagaimana beternak sapi perah dengan benar di Kalbar. Buku tersebut sekaligus, membantah anggapan bahwa di Kalbar sulit untuk mengembangbiakan sapi perah. Bahkan dia berpesan kepada mahasiswa Kalbar agar tidak terjebak dengan kampus. “Di perguruan tinggi itu cuma satu tujuan, yaitu mengasah kecerdasan berpikir. Hanya itu sebenarnya,” ujarnya. 

M Zeet menilai, dibanding saat ini, minat masyarakat zaman dulu lebih tinggi. Padahal kata dia, dulu serba keterbatasan. “Apakah ini pengaruh teknologi sehingga memudahkan anak kita mendapatkan infromasi dengan gadgetnya. Saya tidak tahu. Belum ada riset khusus untuk itu,” ujarnya lagi. 

Dalam konteks literasi, lanjut dia anak sekarang lebih dengan informasi teknologi. Namun, dia manilai informasi yang diperoleh orang zaman dahulu jauh lebih besar, dan makro. Jangkauan berpikirnya pun lebih luas. 

“Ini bisa ditandai jika orang zaman dahulu kita berikan kesempatan bicara, pidato, walaupun tanpa teks bisa menggambarkan situasi yang sangat komperhensif. Beda anak sekarang,” pungkasnya. **

Berita Terkait