Buat Bangga Orang Tua, Jangan Malu Menjadi Madura

Buat Bangga Orang Tua, Jangan Malu Menjadi Madura

  Minggu, 16 Oktober 2016 10:12
JAWARA: Nurhasanah, praben Madura dari ajang pemilihan Lanceng Praben Kabupaten Kubu Raya 2016 yang digelar belum lama ini di Kabupaten Kubu Raya. SUKARDI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Nurhasanah; Peraben Madura Kabupaten Kubu Raya 2016

Melestarikan budaya bangsa, adalah suatu tugas mulia. Kalau bukan pemuda yang meneruskan, budaya bangsa bisa punah. Hal tersebut tak terelakkan, ketika para pemuda hanya santai-santai saja, tanpa rasa memiliki dan menjaga budayanya. 

SUKARDI, Sungai Raya

INI tentang seorang praben Madura, dalam bahasa Indonesia, praben adalah gadis. Ia bernama Nurhasanah, lahir 15 Januari 1996 di Parit Ganduk, Desa Mega Timur, Kecamatan  Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Nurhasanah anak pertama dari Munadi yang kesehariannya berdagang di Pasar Flamboyan Pontianak dan Khotijah, seorang wanita hebat yang telah membesarkannya.

Hari itu, Sabtu, 8 Oktober 2016, menjadi hari yang bersejarah untuk Nurhasanah. Sebuah mahkota berwarna perak bertengger di kepalanya. Suatu kenyataan yang tak terbayangkan sebelumnya. Ia bisa menjadi pemenang pertama praben dalam pemilihan Lanceng Praben Kabupaten Kubu Raya 2016. 

Kalah dan menang dalam suatu perlombaan itu adalah hal yang wajar. Nurhasanah memiliki niat tersendiri dalam pemilihan Lanceng Praben 2016 ini. “Karena niat saya awalnya hanya ingin menambah wawasan dan pengalaman. Jikalau menang Alhamdulillah, gak menang pun Alhamdulillah, karena namanya juga perlombaan, kalah menang itu biasa,” kata Nurhasanah dengan senyuman khasnya. 

Nurhasanah adalah alumni SMK Negeri 6 Pontianak pada jurusan tekstil, lulusan tahun 2014. Ia aktif di organisasi Laskar Sakera, dengan slogan khasnya salam settong dere, dalam bahasa Indonesia berarti salam satu darah. Ia sudah hampir setahun bergabung dan menjadi bagian bendahara di Bidang Keolahragaan. 

Pemilihan Lanceng Praben merupakan ajang terbesar Madura Kalimantan Barat, nomor kedua setelah Karapan Sapi. Pemilihan Lanceng Praben bertujuan  memilih putra-putri Madura terbaik untuk dijadikan sebagai duta. Acara ini diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Besar Madura (IKBM)  Kubu Raya dengan Ikatan Lanceng Praben (ILP) Kubu Raya. Tahun ini sendiri merupakan pemilihan Lanceng Praben Kubu Raya yang keempat.

Gadis ini mengikuti pemilihan Lanceng Praben, termotivasi dari Arifuddin, runner up Lanceng Kubu Raya 2015 utusan Kecamatan Sungai Ambawang. Nurhanasah ingin meneruskan estafet juang yang didapat oleh pemuda sebelumnya. 

Awalnya, pemudi Madura ini sempat merasa minder untuk mengikuti ajang bergengsi tersebut. Pasalnya ia tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. “Terkadang saya bilang seperti ini, saya ini kan gak kuliah, apakah saya ini bisa seperti mereka (mahasiswa, Red)?” katanya.

Kemudian seniornya, Arifuddin memberikan motivasi dan berkata, “Iya bisa Dek, gak harus kuliah kok,” itu menjadi kalimat pendorong semangat untuk Nurhasanah.

Mengikuti pemilihan Lanceng Praben, ia ingin mengembangkan dan memperkenalkan budaya Madura. “Tujuan saya ingin mengembangkan Madura, agar budaya Madura ini tidak hanya dikenal oleh etnis Madura saja, namun bisa dikenal oleh etnis lainnya,” katanya dengan penuh semangat.

Karantina berlangsung selama dua hari, di Parit Masegi, Kecamatan Sungai Ambawang. Hari pertama menerima materi dari pariwisata, hari kedua tes wawancara dari masing-masing dewan juri yang memberikan materi. Ketika wawancara, Nurhasanah merasa takut tidak bisa menjawab. Sebagai pemenang praben, Nurhasanah menandatangi kontrak yakni selama setahun ke depan tidak boleh menikah.

Gadis yang memiliki hobi jalan-jalan dan menyukai musik kasidah, serta menjadi vokalis di grup kasidahnya tersebut, ke depan berencana membentuk suatu sanggar tari dan sandur Madura. Kebiasaan Nurhasanah jalan-jalan tersebut, terkadang membuat orang tua menasehatinya. Pelan-pelan dia memberikan bukti dan hasil dari  jalan-jalan tersebut, orang tua merasa bangga dengan pretasi yang diraih.

“Menjadi juara I Praben, Alhamdulillah, sangat-sangat senang, sulit rasanya diucapkan dengan kata-kata. Di situ hadir orang tua, yang awalnya kurang mendukung, karena saya setiap hari selalu ke mana-mana, mereka mengira tidak ada tujuan, jadi dengan kemenangan ini saya bisa membuktikan bahwa saya bisa,” katanya.

Di sinilah ia membuktikan, bukan hanya keluyuran tanpa tujuan yang jelas, dan tanpa ada hasilnya.  “De’diyeh la mak  engkok se ajelen, engkok ajelen ke bere’ ke temor, ke lao’ ke dejeh, tadek ollenah, setiah engkok bise buktiakin,” kata Nurhasanah dengan bahasa Madura. Ibunda menjawab, “Iyelah, de’diyeh, buktiakin, bahwe kakeh bise,” kata sang ibunda dengan penuh rasa kasih sayang. 

Nurhasanah juga merasa sangat bangga, bisa tergabung bersama keluarga baru di ILP Kabupaten Kubu Raya, yang langsung dinaungi oleh IKBM Kalimantan Barat.

Di sela-sela wawancara, Nurhasanah memberikan pesan yang tertuju kepada para pemuda Madura, untuk tidak malu menjadi etnis Madura. Dia meminta agar mereka harus bangga dengan Madura, yang memiliki kebudayaan begitu banyak. “Pesan saya untuk semua pemuda-pemudi Madura, terutama yang ada di Kalimantan Barat, jangan pernah malu mempunyai suku Madura. Seharusnya kita bangga, karena budaya kita ini sangat banyak, kita harus bangga menjadi orang Madura,” tutur Nurhasanah dengan mimik wajah semangat.

Nurhasanah berharap  semua masyarakat Madura, terutama yang berada di Kecamatan Sungai Ambawang, bisa mengembangkan budaya Madura, agar tidak punah, bisa berkembang di Kalimantan Barat, dan bisa dikenal masyarakat banyak, semoga. (*) 

Berita Terkait