BRT Solusi Macet

BRT Solusi Macet

  Selasa, 20 September 2016 10:00

Berita Terkait

PONTIANAK - Kemacetan lalu lintas selalu menjadi momok hampir di seluruh kota besar termasuk Pontianak. Bantuan dari pusat, berupa 11 unit bus rapid transit (BRT) menjadi angin segar dalam pemenuhan kebutuhan moda transportasi massal, sekaligus mengatasi kemacetan.

Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengungkapkan, sektor perhubungan wajib dikelola dengan baik. Karena hampir semua masalah kota besar di Indonesia adalah kemacetan. Pertumbuhan kendaraan, kata dia, sudah mencapai sembilan kali pertumbuhan panjang dan lebar jalan. 

“Oleh sebab itu jika sektor perhubungan tidak dikelola dengan baik, ke depan akan terjadi kemacetan yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan seperti di Jakarta,” ujarnya usai menghadiri Upacara Bersama Hari Perhubungan Nasional, Senin (19/9) pagi.

Memang, lanjut dia, untuk moda transportasi massal seharusnya dikembangkan oleh pihak swasta. Peran pemerintah hanya sebatas pembuat regulasi dan pengawasan saja. “Tapi tahun 2017, Alhamdulillah Pemkot dapat bantuan 11 unit BRT, untuk melayani masyarakat terutama pada jam sekolah dan kantor. Harapannya bisa mengurangi kemacetan,” katanya. 

Untuk operasional BRT tersebut, lebih dulu telah dilakukan pengkajian dari sisi jumlah Lintas Harian Rata-rata (LHR) kendaraan yang digunakan masyarakat. “Wilayah yang LHR-nya tinggi akan diprioritaskan lebih dulu,” ucapnya.

Sementara, terkait sarana dan prasarana lalu lintas di Pontianak, dia mengakui memang baru mencapai 83 persen. Pemkot melalui Dinas Perhubungan akan terus bebenah seiring dengan pelebaran dan peningkatan kualitas jalan. “Pertama jalan, rambu-rambu, marka jalan, shelter atau halte, termasuk traffic light, jadi seluruh aksesoris dan perlengkapan perhubungan terus dibenahi,” jelasnya.

Harapannya fasilitas BRT bisa senyaman mungkin, dilengkapi AC dan halte yang dekat dengan tempat-tempat tujuan masyarakat. Sasaran utamanya memang untuk para pekerja kantoran dan pelajar. “Jangan sampai nanti malah lebih efektif naik motor, sederhananya seperti itu,” tambahnya.

Ditemui terpisah, Wali Kota Pontianak Sutarmidji menambahkan, BRT rencananya akan dilengkap aplikasi yang dapat diakses para pengguna smartphone. Dalam layanan menu, para pengguna aplikasi dapat mengetahui berbagai hal, termasuk posisi bus via GPS. “Dengan demikian pelayanan bisa lebih efektif dan efisien,” imbuhnya.  

Orang nomor satu di Pemkot Pontianak ini pun, akan membuka kesempatan bagi kaum muda untuk mengembangkan aplikasi tersebut. “Di Pontianak ini jika berbicara aplikasi atau startup, pokoknya anak muda yang punya urusan, kami cukup sebagai pengguna saja, tinggal anak mudanya siap atau tidak,” tanyanya. 

Seperti diketahui, untuk mendukung operasional BRT, Pemkot Pontianak sedang membangun tujuh halte bus di seluruh wilayah kota. Dengan target penyelesaian akhir tahun ini. 

Ketujuh halte itu dibangun di beberapa titik yakni di Jalan Sutan Syahrir depan Taman Akcaya, Jalan Martadinata (SMAN 2), Jalan Hasanuddin (SMPN 5), Jalan S Parman (SMKN 3), Jalan Kom Yos Sudarso (SMKN 4), Jalan Tanjung Raya II (Sekolah Terpadu) dan Jalan Khatulistiwa (SMAN 5). “Tahun depan akan kami tambah lagi sekitar tujuh halte lagi, ini kan baru satu arah, idealnya halte harus dua arah atau berseberangan,” tandasnya.

Anggota DPRD Kota Pontianak, Herman Hofi Munawar menilai upaya membangun transportasi massal tersebut belum menjamin solusi kemacetan.

“Itu hanya salah satu upaya tetapi tidak menjamin solusi kemacetan. Menurut saya, pola pengaturan bus sekolah ini menjadi sangat penting. Kalau pengaturan bus sekolah tidak tepat maka hanya menjadi beban APBD saja,” ungkapnya kepada Pontianak Post, Senin (19/9).

Dijelaskan dia, sebagai dukungan BRT, pemerintah berencana bangun 7 halte dibeberapa titik yang tak jauh dari sekolah dan taman. Menurut Herman, pembangunan halte harus dipertimbangkan secara matang. Jangan sampai halte dibangun, namun setelah dibangun justru tak digunakan karena penempatannya tak sesuai.

Untuk mengurai kemacetan, menurutnya pemkot harus mempercepat pembangunan jalan lingkungan agar saling terkoneksi. Meski secara keseluruhan sudah bagus, hanya saja perlu peningkatan kwantitas jalan lingkungan yang terkonek satu sama lainnya.

Koneksitas jalan lingkungan tambahnya dianggap penting untuk mengurai kemacetan. Di samping itu, masih ada beberapa jalan lingkungan yang ditutup warga, diantaranya jalan komplek. 

“Ini kan harus ditertibkan. Kalau masalah bus sekolah saya rasa hanya ihtiar yang saya sendiri tidak yakin bahwa ini akan berhasil,” tutupnya.(bar/iza) 

Berita Terkait