Bom Tak Meledak, Pastor Ditikam

Bom Tak Meledak, Pastor Ditikam

  Senin, 29 Agustus 2016 09:30
BAWA BOM: Polisi antibom membawa benda yang diduga bom dari Gereja Santo Yosef setelah seorang remaja mencoba menyerang para jemaat gereja, Minggu (28/8). HAKIM RANGKUTI / AFP

Berita Terkait

Teror Bom di Gereja Santo Yosep Medan

MEDAN – Aksi  bom bunuh diri di Gereja Katolik Santo Yosef, Jalan Dr. Mansur Medan, Minggu (28/8) pagi, bisa dibilang gagal. Aksi remaja berinisial IAH (18) itu dilakukan saat jemaat sedang misa pagi. Untungnya, pelaku hanya berhasil meledakkan satu bom berdaya ledak ringan, hingga tidak melukai jemaat. 

Pengurus pemuda Gereja Santo Yosef, Welly Limbong menuturkan, saat itu dirinya tengah berada di dalam gereja untuk mengikuti misa saat bom meledak. Berawal ketika Pastor Albert S Pandingan hendak memulai khotbah, tiba-tiba pelaku berlari mendekati altar, sembari membawa ransel yang mengeluarkan percikan api. Melihat gelagat itu, Pastor sontak berlari menghindari namun sempat kena sabetan pisau yang dibawa pelaku. Para jemaat yang hadir kemudian mengejar pembawa bom.

"Pelaku meneror di dalam gereja, satu bom sudah meledak, tapi untungnya tidak meledak semua, sehingga pelaku dapat diamankan oleh warga dan petugas," ujar Welly.

Welly yang masih berada di lokasi kejadian menyampaikan, petugas polisi dari gegana, brimob, dan TNI setelah itu langsung menyisir sekitar Gereja Santo Yosef, sepanjang radius 200 meter dari gereja. Pelaku sendiri sudah diamankan oleh petugas untuk diperiksa.

"Info terakhir belum ada yang terluka.  Petugas sedang mengidentifikasi jenis bom dan jumlah bom," ujarnya. 

Pelaku IAH mengaku disuruh oleh orang tak dikenal untuk melancarkan aksinya. Pelaku merupakan warga Jalan Setia Budi Medan, di KTP-nya tertulis pelajar/mahasiswa.

"Pelaku menerangkan bahwa dia hanya disuruh orang ketemu di jalan untuk melakukan peledakan," kata Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Agus Rianto dalam keterangannya, Minggu (28/8).

Namun demikian, pihaknya tidak serta merta percaya atas pengakuan IAH. Sebab, setiap pelaku kejahatan pasti memiliki psikologi bertahan diri untuk berbohong.

Agus melanjutkan, petugas masih mempelajari profil IAH. Sementara ini, aparat Polda Sumatera Utara mendatangi rumah IAH untuk melakukan penggeledahan.

"Apakah masih ada bahan diduga bom maupun peralatan atau amunisi untuk merakit bom yg masih tersisa. Ini dalam rangka pengumpulan alat bukti," jelas Agus.

Dalam upaya bom bunuh diri itu, polisi menyita bom dan senjata tajam dari tangan IAH. Tim gegana tengah memeriksa bom tersebut. "Dalam rangka mengenali dan buktikan apakah merupakan rangkaian bom atau bukan," pungkas Agus.

Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumut, Kombes Pol Nur Fallah mengatakan, pelaku Ivan berpura-pura mengikuti kebaktian yang berlangsung di gereja tersebut. Menurut Fallah pelaku bukan meledakkan bom, melainkan petasan.

"Diduga petasan tidak meledak. Hanya mengeluarkan api dan asap saja. Setelah itu, pelaku ngejar pastor ke tempat mimbar," kata Fallah di lokasi kejadian.

Menurut Fallah, niat pelaku bukan untuk melakukan aksi bom bunuh diri. Pelaku Ivan hendak membunuh korban pastor Albert dengan menggunakan sebilah pisau dapur. "Namun yang kena hanya bagian tangan. Setelah itu, dikejar oleh umat dan setelah itu ditangkap lalu diamankan dan segera menghubungi pihak kepolisian," kata Fallah.

Fallah mengaku belum mengetahui motif pelaku melakukan hal tersebut. Namun indikasi kuat pelaku didalangi oleh seorang oknum yang diduga menaruh dendam terhadap korban pastor, Albert Pandiangan.

Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katholik Kementerian Agama (Kemenag) Eusabius Binsasi mengatakan keprihatinanya atas aksi teror di Gereja Katholik Stasi St Yoseph di Medan itu. Secara khusus dia mengimbau umat Katholik tidak terprovokasi aksi teror itu. "Kita tetap menjaga kerukunan sesama umat maupun dengan umat agama lain," jelasnya.

Menurut dia aksi teror di Medan itu buka kali pertama menimpa umat Katholik di Indonesia. Sekitar sebulan lalu juga ada aksi teror di gereja Katholik di Klaten dan Jogja. Bentuk terornya adalah merusak patung dan masuk ke pekarangan gereja saat kegiatan peribadatan.

Belum ada kepastian apakah ada kaitan antara serangkaian aksi teror kepada umat Katholik itu. Yang jelas Eusabius mengatakan ada sekelompom orang intoleran yang sengaja melakukan ini. Tujuannya untuk menghasut supaya kerukunan yang selama ini terjalin menjadi rusak.

Khusus di Medan, dia menjelaskan sudah menerima laporan dari staf Kemenag di Medan soal kejadian dan kronologinya. Dia berharap aparat penegak hukum bisa menuntaskan aksi teror ini. Dia berharap pastor, paruki, serta tokoh masyarakat lintas agama bisa terus menyerukan toleransi dan perdamaian.

Anggota Komisi III DPR Masinton Pasaribu mengaku masih menunggu kecepatan Polri dalam mengusut kasus bom bunuh diri di Gereja Santo Yoseph, Medan, Minggu (28/8). Menurutnya, aksi tersebut dilakukan secara terbuka dan pelakunya juga membawa senjata tajam. Karena itu, biarkan kepolisian bekerja mendalami apakah pelaku aktor tunggal atau terlibat dalam jaringan terorisme.

"Harus ditelusuri betul jaringannya. Model aksinya terbuka begini. Bawa bom, senjata tajam juga. Biar ditangani dulu oleh kepolisian. Dari hasil penanganan yang dilakukan bisa tahu kita. Ini dilakukan kelompok tetoris atau orang per orang," kata Masinton, Minggu.

Politikus PDIP itu berharap kepolisian bisa bekerja cepat mendalami motif pelaku. Kemudian, mewaspadai aksi serupa terjadi di titik lain. Karena itu ia meminta pengamanan di titik rawan diperketat.

"Perlu diantisipasi pola yang sama di titik yang berbeda. Kita menunggu hasil penyelidikan hari ini. Sementara itu sistem keamanan di titik rawan harus ditingkatkan kepolisian. Karena ini bukan hanya di Medan saja, mugkin," ujarnya mengingatkan. (fat/ted/jpnn)

Berita Terkait