Bom Bermotif Pemerasan

Bom Bermotif Pemerasan

  Kamis, 29 Oktober 2015 08:45
BOM ALAM SUTRA: Tim Gegana Polri meninggalkan lokasi ledakan bom usai melakukan olah tkp di Mall Alam Sutera, Tangerang, Rabu (28/10). Sebuah paket yang diduga bom meledak di pusat perbelanjaan tersebut pada pukul 12.30 WIB yang mengakibatkan 1 orang mengalami luka-luka. MIFTAHULHAYAT/JAWAPOS

Berita Terkait

TANGERANG - Ledakan bom jenis low eksplosive yang terjadi di Mal Alam Sutera kemarin (28/10) menguat fakta baru. Densus 88 Polri dipastikan menangkap seorang lelaki berinisial LO yang diduga merupakan pelaku pengeboman di Mal Alam Sutera.Uniknya, pengeboman itu bukan bermotif kelompok radikal, melainkan upaya pemerasan.Sumber internal Densus 88 menyebutkan bahwa setelah dipelajari dari E-mail ancaman dengan melihat IP address dan mengkombinasikan dengan hasil closed circuit television (CCTV). Maka diketahui, bahwa orang yang diduga pelaku adalah LO.

"Ancaman dilakukan melalui E-mail ya," terangnya.Dalam E-mail tersebut, pelaku meminta sejumlah uang. Bila tidak dipenuhi, maka akan dilakukan pengeboman. "Nah, ternyata memang benar terjadi pengeboman," paparnya.Darimana kemampuan merakit bom tersebut, dia menyebutkan bahwa pelaku yang merupakan karyawan sebuah bank tersebut belajar merakit? Dari internet. "Ini masih diperiksa, keterangan sementara belajar otodidak via internet," jelasnya.Kapolri Jenderal Badrodin Haiti membenarkan bahwa memang ada seorang pelaku yang ditangkap. Namun, hingga saat ini masih diperiksa. "Bisa jadi dia bukan pelakunya," tuturnya singkat saat dihubungi kemarin.

Polri memprediksi bahwa pelaku peledakan bom yang membuat satu korban luka-luka tersebut sama dengan pengeboman sebelumnya. Yakni, ledakan bom di Mal Alam Sutera Juli lalu.
Salah seorang saksi, sekaligus supervisor Mal Alam Sutera Deni menuturkan bahwa suara ledakan terdengar pukul 12.05 dari arah toilet kantin karyawan lantai LG Mal Alam Sutera. Suara ledakan itu terdengar cukup keras. "Kami langsung cek toilet itu," terangnya.
Ternyata benar, toilet itu sudah berantakan. Ada serpihan kaca dan pintu yang terkena bekas ledakan. Di situ juga terlihat seorang karyawan kantin Borneo bernama Fian (24) yang terluka.
Luka pada bagian kaki sebelah kiri akibat ledakan dan serpihan kaca. "Fian langsung dibawa ke klinik dan akan dirujuk ke RS Omni," paparnya.
Sementara itu Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian menuturkan bahwa kemungkinan besar pelaku pengeboman kali ini sama dengan kejadian pengeboman dua peristiwa di Mal Alam Sutera pada Juli. Hal itu dilihat dari rangkaian kabel yang mirip. "Rangkaian kabelnya hampir sama," tuturnya.
Namun, bila dilihat dari bahan material bom ada perbedaan. Dia mengatakan, belum semuanya bisa diungkapkan. Nanti, bila sudah diketahui secara keseluruhan, pasti diumumkan. "Kami sedang upacara semua," terangnya.
Yang pasti, saat ini polisi sedang menganalisa hasil CCTV. Ada kemungkinan pelaku terekam dari CCTV tersebut. "Memang ada seorang lelaki yang terlihat membawa bungkusan kecil. Mungkin itulah mengapa ledakannya berskala low explosive," terangnya.
Sementara Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Kombespol Krisna Murti menuturkan, selain karena rangkaian kabel yang mirip, pemilihan lokasi Pengeboman juga sama. Yakni, di toilet. pengeboman sebelumnya juga dilakukan di toilet juga. "Ini yang menguatkan asumsi pelaku orang yang sama," terangnya ditemui saat melakukan olah TKP di Mal Alam Sutera kemarin.
Dugaan awal, jenis bom yang meledak merupakan rakitan. Hingga saat ini Puslabfor dan tim Gegana masih berupaya mempelajari bom tersebut. "Masih dianalisis, sepertinya bom rakitan," ujarnya.
Dengan dua kali kejadian ledakan bom yang diduga dilakukan orang yang sama, apakah Polri tidak merasa kecolongan? Dia menegaskan bahwa di Jakarta terdapat 12 juta penduduk, tentunya sangat sulit untuk mengantisipasi kejahatan yang dilakukan. "Itu kesulitannya, begitu banyak orang dan kompleksitasnya tentu lebih tinggi," paparnya.
Sementara itu pengamat terorisme, Ali Fauzi menganalisa bom yang meledak beberapa bulan terakhir di pinggiran Jakarta sengaja dibuat untuk memancing reaksi polisi. Bukan bertujuan membunuh kelompok-kelompok tertentu seperti sasaran teroris beberapa tahun silam. ''Kalau saya lihat bom yang meledak akhir-akhir ini kelasnya ecek-ecek. Padahal kalau mau membuat bom dengan daya ledak bisa juga,'' ujar kombatan jebolan Kamp Mindano, Filipina itu
Pelaku sengaja tidak membuat bom dengan daya ledak besar karena memang tidak bertujuan membunuh. ''Kalau banyak yang terluka dan meninggal, masyarakat akan membenci. Padahal tujuan dari pelaku ini cuma ngetes polisi,'' ungkap adik dari terpidana mati kasus terorisme, Amrozi tersebut.
Mengapa sasaran polisi? Ali Fauzi mengatakan karena para pelaku memang masih menyimpan dendam pada operasi-operasi terorisme yang dilakukan polisi.
''Dari sejumlah operasi belakangan ini kan teman-teman mereka (sesama terorisme) banyak yang tertangkap dan terbunuh,'' terangnya.
Ali menduga para pelaku peledakan belakangan merupakan pemain baru. Operasi peledakan di sejumlah pinggiran kota ini akan menjadi lahan tes kemampuan bagi pemain-pemain baru. Oleh karena itu jika polisi tidak berhasil menangkap bukan tidak mungkin kejadian serupa bakal berlangsung di tempat lain.(gun/idr)

 

Berita Terkait