BNN Periksa Penyidik Freddy Budiman

BNN Periksa Penyidik Freddy Budiman

  Rabu, 3 Agustus 2016 10:48

Berita Terkait

JAKARTA – Kesaksian koordinator Komite untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar soal dugaan permainan oknum Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polri mendapat tindak lanjut dari Kepala BNN Komjen Budi Waseso. Buwas –panggilan akrab Budi Waseso– memastikan bahwa otoritas yang dipimpinnya tengah memeriksa penyidik yang mengurusi kasus mendiang Freddy Budiman. Haris yang menjadi pelontar informasi tersebut juga diajak bekerja sama mengungkap kasus itu.

 
Ditemui di kantor BNN kemarin (2/8), Buwas menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan untuk membuktikan tudingan kongkalikong antara penyidik dan Freddy. ”Kami berupaya menelusurinya ya,” ujarnya.

Apalagi, dalam pernyataan Haris, termuat informasi bahwa ada anggota BNN yang mengantar Freddy menunjukkan lokasi pabrik narkotika di Tiongkok. Adanya petugas yang bepergian itu bisa terlacak melalui surat tugas. ”Jadi, kebenaran bahwa Freddy dan petugas ke Tiongkok itu bisa diketahui,” ucapnya.

Dalam surat tugas itu akan diketahui siapa dan kapan peristiwa tersebut terjadi. ”Semua surat tugas itu terdata dengan baik,” kata mantan kepala Bareskrim Polri tersebut.

Langkah lainnya ialah menilik kembali transaksi yang ada dalam rekening Freddy. Dengan transaksi itu, bisa diketahui aliran dananya ke mana saja selama ini. ”Penelusuran rekening itu juga mudah,” ujar Buwas.

Bukan hanya itu, BNN juga berupaya mendalami dugaan tersebut ke mantan Kepala Lapas Batu Nusakambangan Liberty Sitinjak. Keterangan Sitinjak penting untuk memastikan kebenaran bahwa Haris bertemu dengan Freddy. ”Semua sedang proses ya,” ungkapnya.

Buwas menyayangkan pengungkapan oleh Haris dilakukan ketika Freddy sudah menghadapi regu tembak. ”Kalau lebih awal, tentu bisa diperiksa langsung itu Freddy,” tuturnya.

Selain itu, ada cara yang lebih bijak dalam mengungkap informasi dugaan permainan oknum di BNN. Bisa secara langsung ke BNN atau ada berbagai akses melalui call center yang bisa digunakan. ”Semua laporan itu kami akan tangani,” tegasnya.

Sementara itu, Haris Azhar menyatakan bahwa pihaknya siap bekerja sama mengungkap kasus tersebut. ”Saya mau kerja sama. Ada beberapa hal yang memang kami temukan,” jelasnya. Penemuan tersebut selama ini sama sekali belum diungkap ke publik. ”Saya berikan informasi ke BNN dulu. Tidak bisa saya ungkap sekarang,” imbuhnya.

Terpisah, Dirjen Pemasyarakatan Kemenkum HAM I Wayan Dusak mengatakan sudah memanggil Liberty Sitinjak. Berdasar pengakuan Sitinjak, memang pernah ada orang yang mengaku dari BNN yang memerintahkan melepas CCTV untuk mengawasi Freddy. ”Namun, orang yang mengaku dari BNN itu tak ditemui langsung. Dia (Sitinjak) hanya dapat laporan dari anak buahnya. Ini yang masih kami dalami,” kata Dusak.

Pihaknya, ungkap Dusak, melakukan pendalaman untuk memberikan laporan kepada menteri hukum dan HAM. Namun, jika BNN atau Polri membutuhkan, hasil investigasi itu akan diberikan. Sejauh ini, berdasar informasi yang disampaikan Sitinjak, permintaan mencopot CCTV tak dipenuhi. Nah, di sinilah masih dicari siapa yang menemui orang BNN tersebut.

Sebagaimana diketahui, Ditjen Pas ikut terseret-seret ocehan Freddy karena BNN disebut sempat meminta CCTV dicopot. CCTV itu memang disiapkan Sitinjak untuk mengawasi Freddy secara khusus.

Sitinjak memperlakukan Freddy dengan pengamanan maksimum. Freddy dibuatkan sel khusus untuk membatasi ruang geraknya. Sayang, Sitinjak tak lama bertugas di Lapas Batu. Pria yang kini menjadi kepala divisi pemasyarakatan di NTT itu hanya satu tahun menjabat kepala Lapas Batu.

Sementara itu, Polri juga melakukan pendalaman terkait perkara tersebut. Sumber di Divisi Propam Polri mengatakan, saat ini pihaknya masih mencari sejumlah dokumen perkara Freddy. Hal itu dilakukan untuk mendalami nama-nama yang mungkin terkait dengan perkara Freddy. ”Kami masih mendalami. Salah satunya dari pleidoi yang pernah dia (Freddy) buat,” ujarnya. Pengakuan Freddy Budiman soal aliran uang dalam penanganan kasusnya membuat sejumlah instansi kebakaran jenggot. Termasuk Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen Pas) yang bertanggung jawab atas pengawasan Freddy di penjara. Instansi di bawah Kementerian Hukum dan HAM itu pun menginvestigasi dugaan keterlibatan pegawai mereka.

Dirjen Pas I Wayan Dusak menyatakan, pihaknya sudah memanggil mantan Kalapas Batu Liberty Sitinjak. Dari pengakuan Sitinjak, memang pernah ada orang yang mengaku dari BNN yang memerintahkan melepas CCTV untuk mengawasi Freddy. ”Namun, orang yang mengaku dari BNN itu tak ditemui langsung. Dia (Sitinjak) hanya dapat laporan dari anak buahnya. Ini yang masih kami dalami,” kata Dusak kemarin (2/8).

Pendalaman, ungkap Dusak, dilakukan untuk memberikan laporan kepada menteri hukum dan HAM. Namun, jika BNN dan Polri membutuhkan, hasil investigasi itu akan diberikan.

Sejauh ini, berdasar informasi yang disampaikan Sitinjak, permintaan mencopot CCTV tak dipenuhi. Nah, di sinilah masih dicari siapa yang menemui orang BNN tersebut.

Sebagaimana diketahui, Ditjen Pas ikut terseret-seret ocehan Freddy karena disebut BNN sempat meminta CCTV dicopot. CCTV itu memang disiapkan Sitinjak untuk mengawasi Freddy secara khusus.

Bahkan, Sitinjak memperlakukan Freddy dengan pengamanan maksimum. Freddy dibuatkan sel khusus untuk membatasi ruang geraknya. Sayang, Sitinjak tak lama bertugas di Lapas Batu, Nusakambangan. Pria yang kini menjadi kepala divisi pemasyarakatan di NTT itu hanya satu tahun menjabat kepala Lapas Batu.

Sementara itu, Polri juga mendalami kasus tersebut. Sumber di Divisi Propam Polri mengatakan, saat ini pihaknya masih mencari sejumlah dokumen perkara Freddy. Hal itu dilakukan untuk mengetahui nama-nama yang mungkin terkait dengan perkara Freddy. ”Kami masih mendalami. Salah satunya dari pleidoi yang pernah dia (Freddy) buat,” ujarnya. (gun/c9/agm)

Berita Terkait