Bisnis Pakan Hidup Geli Tapi Bikin Untung

Bisnis Pakan Hidup Geli Tapi Bikin Untung

  Rabu, 4 November 2015 08:42
PENJUAL JANGKRIK : Salah seorang penjual jangkrik di kawasan PSP Jalan AR.Hakim sedang memasukkan jangkrik kedalam plastik. Permintaan yang terus meningkat membuat jangkrik tak hanya laris dijual, tapi juga banyak yang membudayakannya. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Jangkrik, kodok, cacing, ulat, lipan dan kawan-kawannya bagi sebagian orang adalah binatang yang menjijikkan. Tetapi ternyata hewan-hewan ini bisa mendatangkan uang yang lumayan. Mereka dicari oleh para penggemar ikan arwana, burung kicau dan binatang peliharaan mahal lainnya.Oleh : Aristono, Pontianak

Hari sudah menjelang malam, saat Salamah (43 th) hendak pulang dari kios kecilnya di kawasan PSP, Jalan AR Hakim, Pontianak, kemarin (3/11). Namun toko yang bernama Dwi Agung tersebut masih dikunjungi oleh beberapa orang pembeli. Salamah berdagang binatang peliharaan di toko itu. Binatang yang dijualnya macam-macam. Ada beragam ikan, burung, reptil, kura-kura, kucing, dan lain-lain.

Sekalian menjual hewan peliharaan, dia juga menyediakan berbagai perlengkapan binatang, termasuk pakannya. Berbagai makanan kemasan untuk binatang peliharaan disediakannya, dari yang produk lokal hingga impor tersedia disini. Bahkan makanan berupa makhluk hidup pun dia sediakan.Sebuah kotak papan berukuran kulkas dua pintu cukup mencolok mata. Di dalamnya ribuan jangkrik berhimpit-himpitan sambil bersahut-sahutan dengan bunyinya yang khas. Sementara di sampingnya terletak satu buah baskom yang berisi ulat jerman dan ulat hongkong. Ulat-ulat itu cukup membikin geli bagi yang tidak biasa melihatnya. Adapula kodok hidup dari beragam ukuran terbungkus plastik-plastik transparan.

Salamah mengatakan, sebagai penjual binatang peliharaan adalah sebuah kewajiban juga untuk menyediakan pakannya. Malahan penjualan pakan tidak kalah menguntungkan ketimbang menjual binatang peliharaan. “Kalau binatang peliharaan seperti ikan, burung dan lainnya paling laku beberapa setiap harinya. Tetapi kalau pakan kan orang butuh setiap hari. Perputaran uangnya cepat, walaupun untungnya lebih kecil daripada menjual hewan peliharaan,” ujar pegawai negeri sipil di lingkungan Pemkot Pontianak ini.

Dia memulai menjual hewan-hewan pakan tersebut sejak tahun 2005. Ternyata peminatnya banyak, terutama dari para penggemar ikan arwana. Arwana termasuk ikan yang rewel. Ikan ini hanya mau makan makanan hidup. “Makin hari penggemar arwana makin banyak. Permintaan juga tinggi. Jadi saya jual saja binatang-binatang ini. Biarpun awalnya geli, tetapi menjanjikan,” sebut wanita berjilbab ini.Binatang-binatang tersebut dia jual dengan harga yang berbeda-beda. Kodok hidup misalnya, dijual dengan dua kemasan berbeda. Dalam bungkus kecil berisi empat ekor kodok, dia jual Rp 2000. Sedangkan pada kemasan yang lebih besar berisi 25 ekor amfibi dihargai Rp 10.000.  Adapun bungkusan berisi 60-70 jangkrik harganya mencapai Rp 5.000. Sementara ulat dijual secara kiloan. Satu kilogram ulat jerman dan ulat hongkong harganya tembus Rp 150 ribu.

Omzet 3 Juta
Angka-angka tersebut terkesan kecil nominalnya. Tetapi, sebagai informasi, dalam satu hari, Salamah minimal mampu menjual 5.000 jangkrik, 3.000 kodok, dan tiga kilogram ulat. Berapa omzetnya? “Dalam satu hari, rata-rata omzet saya dari berjualan pakan hidup seperti ini biasa mencapai Rp 3 juta. Jadi jangan disepelekan bisnis beginian. Memang banyak orang yang meremehkan,” tukasnya.

Dia sendiri tidak beternak binatang-binatang pakan itu. Salamah mendapaikan suplai dari para peternak dari berbagai daerah seperti Rasau Jaya, Sungai Kakap, dan daerah hulu. Menurutnya, menjadi pedagang lebih aman ketimbang menjadi peternak. Pagi hari dia menyetok barang, malam hari sudah habis. Kalau pun ada yang tidak terjual lantas mati, kerugian yang ditanggungnya tidak begitu besar, lantaran banyaknya permintaan saban harinya. Sedangkan sebagai peternak, memerlukan pengalaman dan perhitungan yang matang.

Walaupun bisnis ini termasuk minim risiko, ada kalanya penjualan menurun. “Kalau kodok, para musim kemarau menurun pasokannya. Kalau pun ada biasanya kecil-kecil. Sementara jangkrik stok biasanya menurun pada waktu peralihan musim, dari musim panas ke musim hujan atau sebaliknya. Banyak yang cari, tetapi barangnya tidak ada,” ucap dia. *

Berita Terkait