Bisnis Narkoba Seolah Tak Mati meski Para Bandar Dibui

Bisnis Narkoba Seolah Tak Mati meski Para Bandar Dibui

  Minggu, 21 Agustus 2016 13:03

Berita Terkait

Meski meringkuk di balik jeruji besi, para bandar narkoba masih bisa leluasa. Buktinya dalam catatan Jawa Pos, dalam kurun 2015-2016, ada lima bandar di Surabaya dengan status narapidana yang kembali diseret ke meja hijau lantaran terbukti tetap menjalankan bisnis narkoba. 

--- 

BISNIS narkoba tidak mati meski pelakunya telah diisolasi. Meski terkungkung di balik bui, para bandar bisa mencari anak buah untuk meneruskan usaha narkoba. Umumnya, mereka memanfaatkan kenalan lama.

Dalam kasus Budiman, misalnya. Dia memiliki tiga kurir. Salah satunya, M. Tolib yang ditangkap Badan Narkotika Nasional Provinsi belum lama ini. Tolib awalnya bukan termasuk jaringan Budiman. Mereka saling mengenal ketika Budiman mengedarkan 8 kilogram sabu-sabu di Gedangan, Sidoarjo. Tolib pernah sekali disuruh untuk mengantarkan narkoba.

Hubungan mereka berlanjut ketika Tolib mengunjungi Arifin yang tidak lain adalah kaki tangan Budiman di penjara. 

Saat itu Budiman ikut menemui dan menawarkan pekerjaan untuk mengantarkan sabu-sabu. Gayung bersambut. Tolib yang sedang nganggur langsung menerima tawaran tersebut. Selanjutnya, dalam seminggu, dia bisa mengedarkan 1 kilogram sabu-sabu.

Untuk mengontrol bisnisnya, Budiman hanya bermodal handphone. 

Seorang mantan bandar di Surabaya yang meminta disebut dengan nama Anton mengungkapkan, penjara memang bukan penghalang untuk menjalankan bisnis narkoba. 

Apalagi, para bandar sudah memiliki sistem sehingga komunikasi dengan jaringan di luar penjara tidak putus. Salah satunya, dengan menyimpan nomor telepon melalui e-mail. Dengan begitu, ketika tertangkap dan handphone disita, mereka tetap memiliki catatan nomor sesama bandar dan jaringannya. 

"Kalau cuma disimpan di HP, semua kontak bisa hilang karena HP disita," ujarnya. Karena itulah, bandar yang sudah tertangkap selalu berusaha mencari cara agar bisa mengakses e-mail setibanya di penjara.

Setelah berhasil mencatat nomor, mereka berusaha memiliki ponsel dengan cara apa pun. Termasuk menyelundupkan dari luar penjara. 

Bayu Setyo, tahanan Lapas Nusakambangan, mempunyai cerita lain. Dia mengaku bisa menghubungi Bagoes yang merupakan teman lamanya dengan menggunakan wartel berjalan. Wartel itu adalah handphone yang disewa dari oknum petugas. 

"Kalau selesai pakai, dikembalikan lagi," ungkapnya saat menjalani sidang di PN Surabaya beberapa waktu lalu.

Anton menuturkan, bandar akan berusaha menghidupkan bisnisnya ketika berada di dalam penjara. Sebab, mereka membutuhkan uang untuk menyambung hidup di dalam penjara. Misalnya, agar bisa makan dengan lauk yang bukan jatah. 

"Ada juga yang masih menghidupi keluarganya," katanya.

Mereka juga menjalankan bisnis itu tanpa modal. Mereka cukup menerima pesanan sabu-sabu dan kulakan dari bandar. 

Kurir rekrutannya yang akan mengantarkan barang haram tersebut kepada pemesan. Bandar sudah bisa mendapat keuntungan yang dikirim melalui transfer rekening. Untuk mencairkan uang dari bank, bandar biasanya menyuruh kurir. (eko/c20/fal)

 

Berita Terkait