Bisnis Katering; Jasa “Kampung Tengah” untuk Yang Sibuk

Bisnis Katering; Jasa “Kampung Tengah” untuk Yang Sibuk

  Sabtu, 21 November 2015 10:57
HARYADI/PONTIANAK POST

Usaha katering menjadi salah satu peluang bisnis yang memiliki prospek yang cukup cemerlang untuk dijalankan. Bahkan jika pelayanan yang diberikan baik, maka tak perlu menunggu pelanggan, melainkan pelangganlah yang datang untuk memesan.

Oleh : Marsita Riandini

TINGGINYA aktivitas manusia dengan beragam kesibukkan sering kali membuat kesempatan untuk memasak di rumah tidak ada. Alhasil mereka memilih membeli makanan di luar, baik itu di rumah makan maupun di restoran.  Belum lagi berbagai kegiatan baik instansi pemerintahan maupun swasta yang juga membutuhkan makanan. Jasa katering sangat dibutuhkan untuk memudahkan penyediaan konsumsi tersebut.

Ini pula yang dilakukan oleh Harfina ( 51 tahun). Pemilik Kantin Mama Anisa Jalan A. Yani, Sepakat 1 Pontianak ini setiap harinya disibukkan dengan pesanan katering yang cukup banyak. Perharinya rata-rata katering yang dipesan sekitar 800  kotak. Harga per-kotak bervariasi. Mulai dari 20 ribu rupiah hingga tak terbatas, bergantung menu yang diinginkan. “Harganya relatif, tetapi kadang kalau ada yang pesan kurang dari 20 ribu rupiah, masih bisa saya terima tetapi menunya tetap menyesuaikan,” ujar dia.

Usaha yang digelutinya ini sudah puluhan tahun lamanya. Saat ini kata dia, tak perlu mencari pelanggan untuk memesan. Setiap harinya orang sendiri yang datang untuk memesan. Bahkan jika pemesan ramai, dia bisa menambah pekerja harian untuk membantu. “Kalau pernikahan, atau acara sejenisnya ini kadang pesanannya bisa tiga sampai empat menu. Saya pribadi tidak mau gabung sama orang lain. Nanti mengurangi kepercayaan masyarakat,makanya saya lebih memilih menambah pekerja harian saja,” papar dia.

Awalnya Harfina membutuhkan modal yang cukup besar, terlebih jika tidak memiliki peralatan dapur yang cukup lengkap, seperti panci dan sebagainya. Tetapi dalam perjalanannya modal yang dibutuhkan hanya untuk membeli kebutuhan pokoknya saja.

Kendala dalam usaha ini lanjut dia, sulitnya mencari karyawan. “Saya berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk karyawan, seperti gaji, makan dan lainnya. Kendala lainnya, tidak semua karyawan mengerti bagaimana mengisi kotak supaya rapi dan bersih agar konsumen tidak protes. Masalah terberat ketika mengantar pesanan ke lantai 3 atau lebih dengan menggunakan tangga, termasuk bagaimana menyikapi ketika konsumen komplain. Khan konsumen itu karakternya beragam,” jelasnya.

Harfina juga sudah terbiasa menerima pesanan dadakan. Pernah kata dia, satu jam sebelumnya seseorang memesan dua ratus kotak. Namun kata dia, jika konsumen merasa puas baik dari pelayanan maupun masakan, maka mereka akan mencari untuk memesan kembali.

Berbeda halnya dengan  Alila Prasmanan yang berada di Jalan KS. Tubun Pontianak. Mulanya tempat makan ini hanya menyediakan beragam menu untuk pengunjung yang datang langsung dan menyicipi makanan disana.

Lambat laut banyak pelanggan yang memesan untuk beberapa porsi. Dari situlah muncul ide untuk membuka jasa katering. Demikian yang disampaikan Miftachul Choir, Pengelola di Alila Prasmanan.  “Awalnya kami tidak menerima kateringan. Tapi pesanan semakin banyak, kenapa tidak sekalian saja. Apalagi khan setiap harinya kami menyajikan menu-menu yang bisa langsung dinikmati. Jadi pembeli bisa langsung datang untuk memesan menu sesuai yang diinginkan,”katanya.

Menurut dia, sebenarnya sama saja antara pelanggan yang makan langsung di tempat atau yang pesan katering. Setiap harinya pesanan bervariasi. Mulai dari puluhan hingga ratusan kotak. Harga berkisar dari sembilan belas ribu rupiah hingga tiga puluhan ribu rupiah. “Pesanan itu beragam, mulai dari kantoran, sekolah, mahasiswa, dan acara syukuran,” ulas dia.

Setiap harinya Alila Prasmanan menyediakan jasa katering untuk siswa sekolah. Ada puluhan siswa yang menjadi langganan tetap. Setiap harinya petugas katering di Alila selalu mengantarkannya ke sekolah mereka. Harga yang ditetapkan relatif lebih murah dibanding katering biasanya. Sistem pembayaran pun bisa dipilih mau mingguan ataupun bulanan.

Tak banyak kendala yang dirasakan dalam usaha ini. Namun  kata dia, harga bahan baku yang kerap naik turun kerap membingungkan, sementara harga tidak bisa serta merta dinaikkan. “Katakanlah harga cabai itu tinggi. Maka tidak bisa dinaikkan begitu saja. Kalau pun harus menaikkan harga, harus melihat dulu dalam jangka waktu beberapa bulan. Jika biaya operasional tinggi, biasanya kita naikkan tetapi diiringi dengan variasi menu yang baru,” jelasnya.

Hal lain yang perlu disikapi, baik usaha apapun adalah menjaga pelanggan. “Menjaga pelanggan ini termasuk yang sulit. Selain itu harus menjaga kualitas menu-menu yang tersedia,”pungkasnya. (*)