Bisnis Bodong Mengancam

Bisnis Bodong Mengancam

  Jumat, 1 April 2016 09:02

Berita Terkait

PONTIANAK – Penipuan berkedok investasi yang menjanjikan keuntungan besar dengan modal kecil sedang marak terjadi. Tipu daya oknum tak bertanggung jawab dengan iming-iming tertentu itu disusun sedemikian rupa untuk meyakinkan calon investor.

Masyarakat harus selektif untuk memilih investasi yang ingin digelutinya agar tak berujung penipuan. Salah satu caranya adalah dengan melihat perizinan yang dimiliki perusahaan tersebut.

Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Barat Asep Ruswandi mewanti-wanti masyarakat untuk hati-hati dalam memilih investasi. Terlebih di tengah berkembangnya investasi bodong, bisnis online dan money game memikat banyak orang. Bisnis, atau apapun mereka menamakan diri, biasanya meminta modal yang relatif kecil dari pemodal, tetapi menjanjikan keuntungan yang berkali-kali lipat. Pengembaliannya pun digaungkan dalam tempo singkat.

“Masyarakat harus cerdas dalam melihat kejelasan lembaga yang menjanjikan keuntungan yang tidak masuk akal,” ujarnya kepada Pontianak Post.

Asep menambahkan, masyarakat perlu tahu darimana dana pengembalian plus keuntungan yang dijanjikan berasal. Apabila digunakan untuk usaha, maka jenis usaha apa yang mampu menghasilkan keuntungan dalam tempo cepat dan angka yang besar. “Berasal dari mana uang itu. Apakah diputarkan untuk usaha sektor riil atau sektor apa? Usaha macam apa itu. Di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dan melesunya sebagian sektor dunia bisnis, apakah bisa dipercaya ada bisnis yang seperti itu? Deposito bank saja bunganya hanya 7-8 persen per tahun,” ujarnya.

Menurut Asep, money game biasanya menggunakan skema ponzi atau piramida, yang memainkan dana para anggotanya untuk saling transfer. Kalaupun ada kilah usaha riil, maka hal itu tidak masuk akal karena sulit menemukan usaha yang punya nilai return yang tinggi dalam waktu cepat.

Maka kemungkinan besar, pengembalian modal dan keuntungan para peserta money game berasal dari peserta baru. Apabila tidak ada rekrutan baru, maka sistem transfer-transferan itu akan mandek, karena beban pembayaran yang sangat besar. OJK sendiri, lanjut dia, sulit untuk menindak pelaku money game dan bisnis online. Pasalnya pihaknya hanya menaungi para pelaku atau perusahaan yang tergolong industri keuangan. Industri keuangan tersebut adalah perbankan, asuransi, finance, pasar modal, dan lembaga jasa keuangan non-bank lainnya.

“Untuk melihat lembaga yang sudah terdaftar bisa ditanyakan ke kami atau cek di website. Kalau ada masyarakat yang dirugikan dari industri keuangan yang berada di naungan kami, maka kami bisa melakukan tindakan,” ucapnya.

Kendati demikian, pihaknya juga membuka diri untuk menerima laporan dari masyarakat terkait model investasi yang menjanjikan profit tidak masuk akal. OJK akan mempelajari laporan tersebut. Apabila masuk dalam aturan OJK, pihaknya akan bertindak tegas. Namun apabila bukan otoritas OJK menangani hal itu, maka pihaknya akan memberikan saran kepada pelapor harus bagaimana.

Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kalbar, Nedy Achmad menyambut baik terselenggaranya Seminar Cerdas Berinvestasi di Usia Muda. Dia mengatakan semua yang berkaitan dengan literasi keuangan tujuannya tak lain agar mencegah berkembangnya investasi bodong. “Literasi keuangan penting agar menghindari investasi-investasi bodong yang marak di masyarakat. Ini dapat dihindari apabila masyarakat mendapatkan pemahaman untuk diri sendiri dan edukasi. Tingkat partisipasi masyarakat terhadap pasar modal di Indonesia masih terbilang rendah,” kata dia.

Di Indonesia, termasuk Kalbar sendiri kasus penipuan atau investasi bodong sudah beberapa kali terjadi. Modus penipuan investasi bodong ini mempunyai ciri-ciri, antara lain: imbal hasil yang tinggi, tanpa resiko investasi, pemberian bonus dan cashback, kompensasi konsumen baru, menyisipkan testimoni tokoh/lembaga, janji kemudahan pengembalian, pembelian kembali tanpa pengurangan nilai dan lainnya.

Jauh sebelum mencuatnya kasus SOT di Mempawah, sudah banyak investasi bodong yang terkuak. Banyak dari mereka mengaku sebagai perusahaan trader emas, valuta asing, saham dan komoditas. Beberapa yang sudah mendapat catatan hitam adalah; Raihan Jewellery, Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS), Lautan Emas Mulia (LEM), Graha Arthamas Abadi (GAMA), Asian Gold Concept, Makira Nature, PT. Peresseia Mazekadwisapta Abadi (Primaz), Koperasi Langit Biru, Virgin Gold Mining Corporation (VGMC), CV. Indotronik, Gold Bullion Indonesia (GBI).

Sementara beberapa lainnya lebih memilih untuk bermain money game dalam wadah komunitas. Mereka mengandalkan skema ponzi. Para anggota diminta saling transfer, dengan kedok arisan berantai. Beberapa sudah scam (sistem berhenti), dan membuat dana anggota tak kembali, seperti pada kasus MMM dan beberapa money game lainnya.

Kepala Bidang Penanaman Modal Daerah, Imansyah, mengatakan, penipuan berkedok investasi dengan berbagai macam program dilakukan pihak yang tak memiliki izin dari pemerintah kota. Karena itu, untuk mengantisipasi terjadinya penipuan, Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) mengimbau masyarakat untuk lebih jeli memilih kegiatan investasi, seperti dengan melihat surat izin yang mereka miliki.

“Izin yang harus dimiliki untuk melakukan kegiatan tersebut adalah izin prinsip penanaman modal, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan izin teknis yang dikeluarkan resmi oleh pemerintah kota. Itu untuk kegiatan investasi penanaman modal seperti penanaman modal di hotel-hotel atau koperasi,” ujar Imansyah.

Semua investasi bodong terjadi di luar pengawasan BP2T. “Penipuan itu mungkin di luar pengawasan kami, dan bahkan pihak tersebut tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” tuturnya.

Kegiatan investasi bodong biasanya hanya berjalan lancar dalam waktu singkat sekitar satu atau dua tahun. Saat mereka sudah tidak lagi dapat mencari investor, mereka akan menghilang dan para investor terdahulu tidak tahu kepada siapa mereka meminta pertanggungjawaban.

“Masyarakat harus lebih cerdas, karena kegiatan yang tidak memiliki perizinan itu sangat sulit untuk kami awasi,” tambah Imansyah.

Dari segi perpajakan, investasi bodong ini juga sangat merugikan. Karena kegiatan yang mereka lakukan tidak memberikan kontribusi ataupun hasil pajak kepada daerah maupun  negara. Bahkan hanya memberikan dampak negatif bagi perekonomian khususnya pada kegiatan penanaman modal atau investasi.

Penipuan berkedok investasi yang sudah terjadi dengan iming-iming penghasilan besar dalam waktu singkat, seakan menunjukkan bahwa masyarakat mengabaikan perizinan resmi yang seharusnya dimiliki oleh pihak tersebut.

Ketelitian dan pemikiran yang melihat progres ke depan terhadap suatu investasi dinilai sangat diperlukan. Masyarakat sering tidak teliti sehingga termakan tipu daya. Mereka hanya bermodalkan kepercayaan antara satu sama lain.

“Dengan tingkat suku bunga saat ini yang sekitar 9 persen, dan hanya menanamkan modal sedikit tetapi keuntungannya dapat berlipat ganda, kan namanya gak masuk akal,”  kata Imansyah.

Ia mengimbau, masyarakat yang ingin menanamkan modal sebaiknya memilih pihak yang sudah berdiri lama dan jelas perizinannya. “ Investasi penanaman modal yang mendominasi untuk Kota Pontianak adalah investasi penanaman modal kepada jasa dan perdagangan,” terangnya. (ars/pah)

Berita Terkait