Bisa Sekolahkan Anak Sampai Sarjana

Bisa Sekolahkan Anak Sampai Sarjana

  Sabtu, 18 November 2017 10:00
TRADISIONAL: Taher Buamona (kiri) dan putranya Nasrul Buamona, satu dari sedikit petani sagu tradisional yang masih bertahan di Desa Fagudu, Kepulauan Sula.SUHARDIMAN SUHERMAN/MALUT POST

Melihat Aktivitas Petani Sagu Tradisional di Kepulauan Sula

Sebagai salah satu makanan pokok masyarakat Maluku Utara, eksistensi sagu kian mengkhawatirkan. Selain makin berkurang warga yang bekerja sebagai petani sagu, lahan-lahan sagu pun terus tergerus pembangunan pemukiman.

Suhardiman Suherman, Sanana

Taher Buamona ingat betul penampakan Kali Belanda di Desa Fagudu, Kecamatan Sanana, Kepulauan Sula, belasan tahun silam. Pohon sagu yang menjadi tumpuan hidup keluarganya tumbuh subur di sepanjang tepi sungai itu. Dari kakek hingga ayahnya, yang semuanya berprofesi sebagai petani sagu, tak kesulitan mencari pohon sagu untuk diolah jadi bahan makanan pokok warga Maluku Utara.

 

      Namun masa-masa jaya itu sudah berlalu. Sebagian besar pohon sagu kini habis ditebang. Perluasan pembangunan pemukiman warga di Desa Fagudu yang kian berkembang jadi penyebabnya.

      Taher yang kini berusia 55 tahun masih bertahan di pinggir Kali Belanda. Di sebuah rumah sederhana berukuran 6x7 meter. Melanjutkan tradisi keluarga, ia dan anak-anaknya juga ikut mengolah sagu. "Dulu di areal ini seluruhnya tumbuh pohon sagu. Tapi sekarang sudah mulai menipis," kenangnya saat ditemui Kamis (16/11).

 

      Untuk mendapatkan bahan baku pembuatan sagu, Taher dan putranya, Nasrul Buamona, harus mencari hingga ke Desa Waibau. Di Waibau, pohon sagu masih mudah ditemui. Jarak kedua desa itu sekitar 5 kilometer. "Karena medannya sulit, jadi pohon sagu kami tarik melewati air kali sampai di tempat pengelolaan sagu milik kami ini," kata Taher.

      Pohon sagu yang diambil pun tidak gratis. Pohon itu dibeli dari pemiliknya dengan sistem bagi hasil penjualan sagu olahan. Sebagai orang lama dalam dunia pengelolaan sagu, Taher tahu betul bagaimana memperlakukan pohon sagu agar tak mudah mati. Menurutnya, semua tergantung cara penebangan. Banyak anakan sagu yang rusak lantaran ditebang dengan cara yang salah. ”Misalnya mereka tidak melihat arah pohon akan tumbang. Pasalnya, pertumbuhan sagu membutuhkan waktu yang cukup lama,” imbuh ayah empat anak itu.

      Selain itu, Taher dan keluarga juga masih mempertahankan cara-cara tradisional untuk mengelola sagu. Dia percaya, metode turunan orang tua itu menghasilkan //tumang// yang jauh lebih berkualitas. "Proses pembuatan sagu masih cara tradisional. Yang berubah hanya perhalus isi sagu pakai mesin parut," jelasnya.

Dalam sehari, Taher dapat mengolah satu pohon sagu. Pohon berkualitas bagus, katanya, dapat menghasilkan 10 keranjang sagu //tumang// yang siap dijual di pasaran. Per keranjang dijual seharga Rp 100 ribu.

      Dia mengakui, pendapatan petani sagu saat ini amat jauh menurun dibandingkan masa jaya dulu. Sebab hasil penjualan sagu harus dibagi dua dengan pemilik pohon. Dari hasil mengelola sagu itu, Taher menyekolahkan keempat anaknya hingga jenjang SMA. ”Alhamdulillah, anak-anak tidak sarjana tapi semuanya lulus SMA. Karena hasil dari sagu," tuturnya.(end/kai)