Bila Keluarga Pembauran Merayakan Imlek, Jaga Silaturahmi, Warna Merah tetap Dipertahankan

Bila Keluarga Pembauran Merayakan Imlek, Jaga Silaturahmi, Warna Merah tetap Dipertahankan

  Selasa, 9 February 2016 09:31
PEMBAURAN: Suasana keluarga pembauran di Pontianak dalam merayakan Tahun Baru Imlek 2567, Senin (8/2). MUJADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Datangnya Tahun Baru Imlek 2567, Senin (8/2), disambut berbagai lapisan masyarakat dengan sukacita. Hal yang agak beda, bagi keturunan keluarga Fu Kui Loi (alm) dengan Ny Djie Khim Tjin (almh). Di rumah petak Gang Bahtera nomor 42, Jalan Imam Bonjol, Pontianak kemarin, banyak “tamu” berbusana muslim merah. TIMBUL, Pontianak

NAMA Fu Kui Loi yang memiliki panggilan akrab Pak Aloi dan semasa hidupnya menjadi mandor Pelabuhan Dwikora tersebut, menurut sejumlah warga dulunya orang yang supel bergaul. Dia tidak memandang dari suku atau agama apa. Bahkan orangtua dari sembilan anak ini lebih condong berselera “kemelayu-melayuan”. Maka dia pun memilih nama Indonesia dengan sebutan Abas. Begitu juga sang istri dengan nama Aminah.

Tidak sampai di situ, di antara kesembilan anaknya, keturunan marga Fu ini pun diberi nama Indonesia lebih “kental” seperti hal tersebut di atas.Misalnya, Fu Khoi Kong alias Amin Abas, Fu Sung Lie alias Fatimah, Fu Sung Jun alias Farinah, Fu Khoi Min alias Abu Abas, Fu Khoi Jun alias Amat Suwandi, Fu Khoi Bun alias Hasan Suwandi, Fu Khoi Bui alias Aman Suwandi.

Awal dari pembauran nama, berlanjut hingga pembauran dalam bentuk rumah tangga. Anak yang pertama, Fu Sung Nyong alias Farida, berumahtangga dengan Burhan, pegawai pegeri sipil, asal Ketapang.

Jejak Farida ternyata diikuti adik, Farinah, menikah dengan M Basir M Noor, juga salah seorang pegawai negeri sipil.

Pasangan Abas yang meninggal tahun 2000 dengan Aminah yang meninggal tahun 1999 ini, generasinya kini menjadi 29 orang cucu dan 37 orang cicit. Dari kesekian cucunya tersebut, beberapa di antaranya juga menjadi PNS, ada juga yang berpredikat haji.

Dari kesembilan bersaudara keluarga Fu, beberapa diantaranya cukup welcome dengan pihak lain. Seperti Farinah, mantan anggota Dharma Wanita (karena suami pensiun) dan beranak 6 orang ini menurutnya beberapa kali membantu orang. Salah satunya, menurutnya, tiga orang TKI asal Jawa Barat yang terlantar di Pontianak karena kehabisan uang. Langsung ditampungnya di rumahnya kawasan jalan Kom Yos Sudarso, Pontianak.Di akhir perbincangannya, Fanirah protes dengan awak Pontianak Post. “Rase-rase tak lengkap kalo’ anak angkat orangtue kame’ tadak disebot-sebot. Sodare angkat kame’ seorang wartawan, ketike orangtue kame’ meninggal, iklan dukacita kan juga’ dicantomkan,” kata Farinah dengan logat Melayu. (*)

Berita Terkait