Bikin Film Dokumenter, Bawa Marjinal Tur ke Jepang

Bikin Film Dokumenter, Bawa Marjinal Tur ke Jepang

  Rabu, 11 January 2017 09:30
Aktivitas komunitas punk Taring Babi menyiapkan merchandise. Nuris Andi Prastiyo/jawa pos

Berita Terkait

Ayumi Nakanishi, Fotografer yang Angkat Band Punk Jakarta di Negeri Sakura

Bagi masyarakat umum, musik komunitas punk masih sering dipandang sebelah mata. Tapi tidak di mata fotografer Jepang Ayumi Nakanishi. Lewat bidikan kamera perempuan 37 tahun itu, musik yang menyuarakan kaum marginal tersebut justru terangkat hingga ke Negeri Matahari Terbit. 

NURIS ANDI PRASTIYO, Jakarta 

Setiap manusia punya hak yang sama

Menentukan sejarah dan nasibnya

Dalam bersikap, bekerja, dan berkarya

Sesuai cita dan rasanya

DERU musik mengentak di ruang tamu sebuah rumah di Jalan Mohammad Kahfi II Gang Setiabudi Nomor 39, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat sore (6/1). Di situlah komunitas Taring Babi dan band Marjinal mengembangkan karyanya. 

Meski terlihat sangar, base camp komunitas anak punk itu bisa diterima masyarakat sekitar. Buktinya, mereka sudah cukup lama tinggal di perkampungan tersebut dan tidak pernah mendapat teguran dari para tetangga atau pengurus kampung. Anak-anak sekitar rumah itu pun sering main ke situ. 

Sore itu di lantai 2 rumah kontrakan tersebut, M. ”Mike” Isrofil (vokalis Marjinal) dan Bobby ”Bob” Adam Firman (basis Marjinal) tengah menggarap beberapa lagu baru yang akan mereka tampilkan di sebuah acara. Proses tersebut rupanya diikuti Ayumi yang tak bosan-bosan mengokang kamera SLR-nya. 

Ayumi kali pertama datang ke Indonesia pada 2005. Awalnya hanya kunjungan liburan biasa. Namun, melihat antusiasme komunitas punk dalam bermusik di Jakarta kala itu, Ayumi pun tertarik untuk mengabadikannya. Namun, baru dua tahun kemudian, Ayumi berjumpa dengan Bobby ”Bob” Adam Firman.

”Saat itu banyak band aliran punk di Jakarta dan kota-kota lain. Tapi, saya tertarik dengan Marjinal yang lain daripada yang lain,” ujar Ayumi. Maka, mulai saat itu Ayumi mencoba merekam jejak kehidupan komunitas punk di Jakarta, terutama di kelompok Marjinal. Dia merekamnya dengan video dan photo story. 

Concern band Marjinal terhadap isu-isu sosial dan politik semakin membuat Ayumi kesengsem untuk mengabadikan perjalanan mereka. Menurut dia, Marjinal berbeda dengan band punk Indonesia lainnya. Bahkan dengan band punk asal Jepang sekalipun. 

”Marjinal memberikan banyak inspirasi kepada saya. Terlebih saat saya mengetahui makna lagu-lagu mereka,” ungkap perempuan Jepang yang sudah pintar berbahasa Indonesia itu.

Base camp Marjinal yang berada di tengah perkampungan Jagakarsa juga dianggap ”aneh” oleh Ayumi. Sebab, umumnya markas komunitas anak dengan ciri khas potongan rambut mohawk dan pakaian serbahitam itu menjauhi perkampungan. Tapi, base camp Marjinal justru terletak di tengah kampung dan tetap menjadi jujukan komunitas punk dari seluruh Indonesia bila sedang ke Jakarta. 

Bahkan, anak-anak di sekitar base camp tampak akrab dengan anggota band Marjinal dan Taring Babi yang tinggal di rumah itu. Tak jarang anak-anak tersebut diajari soft skill yang biasa dilakukan anak-anak punk, yakni melukis dan menyablon. 

”Om, saya bawa satu kucingnya ya?” ujar Rendi, salah seorang anak yang sore itu main di markas Marjinal, kepada Bob. Bob dkk memang merawat kucing-kucing tak bertuan. Anak-anak yang ingin membawa pulang dan merawat di rumah dipersilakan. 

Tampang Bob yang sangar dan bertato banyak tidak menciutkan nyali anak-anak kecil itu untuk menyapanya. ”Saya juga sudah punya anak, jadi tahu psikologi mereka. Kami malah senang karena mereka ikut meramaikan suasana di sini,” ucap Bob.

Hal yang sama disampaikan Mike. Bahkan, Mike sudah punya tiga anak yang mulai menginjak remaja. Anak-anak Mike tinggal di Bekasi bersama ibunya. ”Saya menganggap anak-anak yang ke sini juga anak-anak saya sendiri,” ucapnya. 

Sikap bersahaja seperti itulah yang membuat Ayumi makin mantap dengan pilihannya, merekam jejak Marjinal. Hasilnya, Ayumi sudah tiga kali menggelar pameran film dokumenter tentang sepak terjang Marjinal di Jepang. Pameran pertama dihelat pada 2013. Kemudian saat Marjinal dibawa Ayumi tur konser ke negara itu pada 2014 dan 2015. Ayumi berencana kembali meluncurkan film dokumenter terbarunya tentang Marjinal sekitar Maret–April 2017. 

”Saya juga ingin menjadi bagian dari mereka, melihat mereka berkembang setiap tahun,” kata Ayumi. ”Kini penggemar musik di Jepang jadi tahu perkembangan Marjinal,” sambungnya.

Yang tak kalah monumental, berkat Ayumi, Marjinal bisa menelurkan dua album di Jepang. Album pertama dirilis dengan judul Sejajar (2014). Produksi album itu digarap di Jakarta, tapi CD-nya beredar di Negeri Sakura. ”Album kedua berjudul Majik, garapan Mike dan Bob selama tur di Jepang pada 2015,” jelas Ayumi. Respons yang diterima dari pencinta musik punk di Jepang cukup positif. Bahkan, dua album yang dirilis di Jepang tersebut juga berbahasa Jepang. 

Dalam setahun, Ayumi bisa tiga hingga empat kali pergi pulang Jepang–Jakarta. Tujuannya hanya satu, tetap bisa mengabadikan setiap momen perubahan yang dialami Marjinal dan komunitas Taring Babi. Hingga kini Marjinal sudah meluncurkan tujuh album, dua di antaranya dirilis di Jepang. 

Album pertama bertajuk Tunduk Diam atau Bangkit Melawan (1999). Disusul album kedua yang dirilis setahun kemudian, Antifasis dan Antirasis Action. Selanjutnya, album ketiga berjudul Marsinah (2003), diikuti Predator (2005), parTAI marJINal (2009), dan KPK (Kita Perangi Korupsi). Album terakhir itu di-launching 17 Februari 2015. 

Marjinal kini tengah menyusun satu album yang bermateri 45 lagu di dalamnya. ”Materinya masih kami perbaiki lagi. Rencananya tahun ini bisa rilis,” lanjut Mike. (*/c9/ari)

 

Berita Terkait