Bikin Bimbel Gratis hingga Kampanye Lingkungan

Bikin Bimbel Gratis hingga Kampanye Lingkungan

  Kamis, 21 April 2016 09:03
KARTINI: Juwita Valen (kiri) aktif di berbagai kegiatan sosial.

Berita Terkait

Mengenal Kartini Belia Asal Pontianak

PONTIANAK – Di usia yang sangat muda, Raden Ajeng Kartini sudah mampu berbuat banyak untuk bangsanya. Di eranya, perempuan memiliki keterbatasan ruang gerak dalam aktivitas sosial, termasuk pendidikan. Namun di abad ke-21 ini, perempuan dan laki-laki sudah setara hak dan martabatnya. Hal itu membuat lebih banyak Kartini lain bermunculan. Di Pontianak, ada Juwita Valen. Gadis berusia 19 tahun ini sejak beberapa tahun lampau sudah mendirikan organisasi Movers Generation, yang fokus pada masalah pendidikan dan sosial di Pontianak.

Empat tahun lalu, saat dia masih anak SMA, Juwita dan teman-temannya sudah membuat bimbingan belajar gratis untuk warga miskin. Lokasinya di sebuah kantor Jalan Husin Hamzah No 41, Sungai Jawi. Kalau Bimbel-bimbel lain memberikan tarif ratusan ribu sampai jutaan rupiah untuk satu siswa setiap bulannya, Bimbel ini malah sebaliknya. Tidak ada sama sekali biaya yang ditarik dari para siswanya. “Tujuannya supaya anak-anak di daerah sekitar, terutama mereka yang kurang mampu bisa juga mendapatkan ilmu tambahan juga di luar sekolah mereka,” ujarnya. 

Pagi hingga siang hari, para remaja itu sekolah. Sementara sore harinya mereha mengajar. Mereka juga mengumpulkan buku-buku bekas dan baru dari para donatur untuk bahan bacaan bagi siswa-siswa mereka yang jumlahnya ratusan orang.

Kendati sibuk dengan aktivitas sosial, dia cukup berprestasi secara akademik di sekolahnya. Kini Juwita Valen, sang pelopor, bukan anak SMA lagi. Dia adalah mahasiswi di Fakultas Kedoktetan Universitas Tanjungpura. Movers Generation pun semakin berkembang dan banyak anggotanya. Berbagai kegiatan sosial mereka gelar. Mulai dari aksi bersih-bersih lingkungan, mengumpulkan donasi untuk membangun masjid, bantuan kepada orang yang kurang beruntung, kunjungan ke panti asuhan, hingga kegiatan lainnya.

“Gerakan kami bertujuan untuk berbagi kebahagiaan, kami ingin mendorong bagi pemuda-pemudi khususnya di Pontianak untuk dapat lebih peduli dengan lingkungan sekitar dan aktif dalam kegiatan sosial sejak usia dini. Alhamdulillah, kegiatan kami didukung oleh masyarakat dan orang tua anggota sehingga bisa seperti sekarang,” jelas dia.

Juwita tidak sendiri, Aktif dan peduli terhadap lingkungan juga dilakukan oleh banyak anak perempuan lainnya di Pontianak. Belinda Phelia misalnya. Gadis berusia 14 tahun ini kesehariannya kerap membuat tas dari bungkus plastik deterjen di beranda rumahnya, Jalan Pancasila, Pontianak. Dia juga mengkreasikan barang-barang daur ulang lainnya seperti; pot bunga, dompet, hiasan lampu, dan lain-lain. “Semuanya dari sampah. Saya kalau ada waktu luang dan lagi ingin, ya bikin barang-barang seperti ini,” ujar gadis 14 tahun yang tahun lalu terpilih sebagai Duta Sanitasi Nasional itu.

Siswi SMP Santu Petrus Pontianak ini punya perhatian khusus soal sampah. Di rumahnya, ada dua wadah tong sampah. Satu untuk sampah anorganik, lainnya untuk sampah organik. “Saya ikut anjuran pemerintah, untuk memisahkan sampah organik dan nonorganik. Ini juga mempermudah saya untuk membuat barang-barang kerajinan ini,” sebutnya.

Sebagai Duta Sanitasi Nasional, dia juga memberikan pelatihan kepada anak-anak SD dan anak-anak seusianya soal pentingnya menjaga lingkungan. Menurutnya, usia dan latar belakang lainnya bukan penghalang untuk berbuat bagi lingkungan. “Kita harus peduli sanitasi baik di lingkungan rumah, sekolah, lingkungan di sekitar kita, tentu saja kepedulian itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Sebagai generasi muda sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menjaga dan melestarikan negeri kita yang tercinta ini,” imbuh orang yang ingin menjadi dokter ini.

Kegiatan non-sekolah, ternyata sama sekali tak mengganggu prestasi akademiknya. Dia adalah langganan rangking satu di kelasnya, bahkan juara umum di SMP Santu Petrus yang dikenal ketat kompetisinya. Tidak sampai di situ, Pontianak Post beberapa kali mengunjungi kediamannya. Menakjubkan. Ada ratusan piala dan piagam nangkring di dua lemari besar rumahnya. 

Sejak masih kanak-kanak dia sudah menjadi juara berbagai perlombaan, baik tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Kebanyakan hadiahnya berasal dari ajang akademis, sastram dan kesenian, terutama seni lukis. (ars)

Berita Terkait