Bikin Batik dari Pewarna Alami Lokal

Bikin Batik dari Pewarna Alami Lokal

  Rabu, 19 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

Sebuah stan cukup mencolok saat gelaran acara Lembaga Penjamin Simpanan di Aula Kantor Wilayah Bank Indonesia Kalimantan Barat. Di sana tampak berbagai benda-benda kerajinan khas Dayak, seperti topeng, perisai, replika mandor dan lainnya. Terpampang pula sejumlah kain batik dengan motif-motif dari Kalbar. Pemandu stan itu adalah Dungo.

Menjual sekaligus mendesain batik yang diberi nama Enggang benua merupakan salah satu usaha yang digeluti Dungo. Dia adalah ketua Kelompok Usaha Dan Pengrajin Kerawing Tipung Lame yang beralamat di Jalan Parit Pangeran, Komplek Pondok Pangeran III, Pontianak.

Ada 10 jenis batik yang dijualnya. Uniknya batik yang dia jual dibuat dengan menggunakan bahan pewarna yang alami, seperti dengan menggunakan getah kayu pohon akasia, dan berbagai jenis tanaman yang digunakan sebagai pewarna. “Ini bahan-bahan yang ada di Kalbar semua. Cukup mudah didapat, walaupun harganya tak semurah pewarna kimia,” ucap dia.

Untuk harga yang ditawarkan sangat berfariatif dari Rp200 ribu untuk jenis batik biasa sampai Rp500 ribu untuk jenis batik yang terbuat dari pewarna alami. Sementara untuk pemasaran sendiri Dungo menjual dengan membuka stand di beberapa tempat, seperti halnya di Kantor Kantor Institude Dayakologi, Walhi, Dan Diantama.

Selain batik, Dungo juga menjual aneka kerajinan seperti alat musik tradisional. Seperti Sape' yang dijual dengan harga Rp1-2,5 juta. Kemudian ada pula Hudo/ topeng yang dijual dengan harga Rp1 juta,lalu perisai Rp300-600 ribu. Harga barang-barang tersebut tergantung dari kualitas bahan dan motifnya. “Ini semua kita jual masih diarea Kalbar, sebab untuk pemasaran sendiri saat ini masih terbilang sulit. Hanya menitipkan dan memasarkan dari mulut ke mulut,” ujarnya.

Dua tahun menjalankan usahanya Dungo, masih saja mengalami kendala dalam usahanya. Dungo mengakui, untuk membuka kios atau toko sendiri, pihaknya masih terbatas dari segi anggararan yang masih terbilang kecil. Namun pernah beberapa kali dirinya mencoba membuka stand di beberapa even. “Kita terbentur dari dana, sebab untuk menyewa stand saja bisa mencapai delapan jutaan (rupiah) sementara omset kita tidak sampai segitu, terlebih sampai sejauh ini untuk bantuan dari Pemerintah sulit sekali kita dapatkan. Padahal pendampingan sangat kita butuhkan,” imbuhnya.

Kendati demikian, pihaknya berusaha untuk terus mengembangkan usahanya. Belakangan, walaupun masih mengandalkan promosi seadanya, orderan semakin meningkat. “Terkadang pula jika kebanjiran pesanan kami harus menarik mahasiswa untuk membantu dalam pemasaran. Untuk omsetnya tidak terlalu besar sekitar belasan juta kita dapat peroleh, jika ada pesanan, dan kita berencana ingin mengadakan pelatihan yang sasarannya adalah pengrajin, itu baru rencana," pungkas dia. (ars)

Berita Terkait