Bijak Menyikapi Fenomena Hoax

Bijak Menyikapi Fenomena Hoax

  Rabu, 20 January 2016 08:08

Menyampaikan pesan kepada banyak orang dengan tujuan baik, tentu boleh-boleh saja. Tetapi bagaimana jika pesan yang disampaikan adalah berita hoax alias berita palsu? Tentu ini sangat berbahaya, terutama jika menyangkut orang banyak. Oleh : Marsita Riandini

Teknologi memudahkan banyak orang untuk menyampaikan informasi. Baik berupa gambar, suara, maupun tulisan. Sayangnya, tak semua informasi bisa diterima mentah-mentah. Ada yang berita fakta, tetapi tak sedikit pula ada rekayasa didalamnya.

Seperti yang biasa Anda lihat, seseorang menandai di akun media sosial Anda tentang sebuah peristiwa kebakaran di suatu tempat. Setelah di kroscek, ternyata itu tidak benar. Atau ada pula yang melebih-lebihkan berita tersebut. Tadinya yang kebakaran hanya satu rumah, tetapi yang dikabarkan satu gang. Menanggapi hal ini, Romi Arif Rianto, S.Psi, Psikolog mengatakan orang yang memiliki kesenangan membuat berita hoax ini, lantaran ingin mencari perhatian. Dia juga ingin menciptakan sesuatu yang baru, yang ada kecenderungan orang lain tertarik untuk mengetahuinya. “Dia mencari sensasi. Kalau berita biasa saja dia tidak suka. Sering melebih-lebihkan agar orang menjadi gempar,” ucap psikolog di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalbar ini.

Fenomena ini pun membuat kita harus lebih berhati-hati lagi, terutama dalam menandai orang lain terkait informasi tertentu. “Fenomena membagikan pesan ke banyak orang ini karena masyarakat kita cenderung ingin meneruskan informasi yang dianggap berguna bagi dirinya, maupun orang lain, baik itu berupa pengetahuan maupun infomasi lainnya,” katanya.  Selain melalui media elektronik, informasi yang disampaikan juga dari mulut ke mulut, baik itu ke arisan, di pasar, maupun di rumah. “Mereka ingin menyampaikan informasi tercepat,” tambahnya.

Jika informasi yang diterima tidak disaring dengan benar, lebih banyak berupa opini daripada fakta, maka sebaiknya tunda dulu untuk meneruskan informasi tersebut. “Belum tahu kebenarannya itu, langsung disebarkan. Apalagi jika informasi tersebut ternyata sudah ada tambahan, sudah dilebih-lebihkan,” papar Romi mengingatkan.

Pada kasus yang berbeda, lanjutnya terkait dengan peristiwa seperti kebakaran dan kecelakaan, banyak orang yang rela menonton. Meskipun ada pula yang memilih membantu. “Istilahnya ini dikenal dengan by standing effect. Jadi orang rela berdiri untuk menyaksikan peristiwa tersebut,” tuturnya.  Salah satu alasan kenapa pemandangan tersebut kerap terjadi di setiap peristiwa kebakaran, karena rasa ingin tahu masyarakat cenderung kuat. “Mereka ingin bisa menyaksikan langsung kejadian yang terjadi, apalagi tidak semua orang bisa menyaksikannya. Kemudian mereka bisa menyampaikanya kepada orang yang lewat, ataupun kepada teman maupun keluarga. Sementara yang diceritakan itu penasaran, dan ingin segera tahu apa yang terjadi,” bebernya.

Selain menunda menyampaikan informasi yang tidak jelas, cobalah untuk meng-kroscek kebenarannya. “Katakanlah kejadiannya di kota lain, nah cari tahu misalnya dengan teman yang tinggal di kota tersebut, apakah benar atau tidak,” kata dia.  Hal penting lainnya, cobalah menilai informasi yang disajikan. Apakah bersifat netral atau malah menghasut. “Jangan-jangan secara tidak langsung, kita malah menjadi penyebar informasi yang bohong. Termasuk foto-foto yang tersebar, waspadai karena tak sedikit yang sudah diplintir tidak sesuai dengan faktanya,” pungkas Romi. **