Biawak Borneo Gagal Diselundupkan

Biawak Borneo Gagal Diselundupkan

  Rabu, 16 March 2016 09:16
BIAWAK BORNEO: Sebanyak 17 ekor Biawak Borneo yang berhasil diamankan BKSDA. Rencananya reptil endemik Kalimantan ini akan diselundupkan ke Batam melalui Bandara Supadio Pontianak, Senin (14/3). BKSDA for PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK- Sebanyak 17 ekor biawak tak bertelinga (Lanthanotus borneensin) diamankan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat saat akan diselundupkan melalui jasa pengiriman barang di Bandara Internasional Supadio Pontianak, Senin (14/3).

Satwa reptil endemik Kalimantan ini rencananya akan dikirim melalui jasa ekspedisi ke Batam. Modusnya dengan memasukan satwa tersebut ke dalam kotak plastik, kemudian disembunyikan di dalam kardus (kota) mie instan. “Untuk mengelabui petugas, pengirim berinisial I memalsukan identitas barang dalam resi, yang seharusnya ditulis Satwa Liar  namun ditulis Mie Ramin,” ujar Kepala Balai Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Sustyo Iriyono, Selasa (15/3) siang.

Dikatakan Sustyo, Biawak Tak Bertelinga ini disebut juga dengan Biawak Kalimantan (borneo), karena pertama kali ditemukan di Landak, Kalimantan Barat beberapa tahun lalu. Sementara terkaiut status satwa reptil ini, kata Sustyo, dilindungi oleh peraturan pemerintah, Sesuai dengan PP Nomor. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. “Artinya satwa itu masuk dalam daftar satwa yang dilindungi undang undang,” terangnya.

Terkait maraknya aksi penyelundupan tumbuhan dan satwa liar ini, pihaknya terus melakukan pengawasan, baik itu di bandar udara maupun pelabuhan yang ada. Karena tidak menutup kemungkinan, tumbuhan dan satwa liar pindahkan ke daerah lain melalui jalur-jalur tersebut. “Ini bertujuan supaya tumbuhan dan satwa liar dapat terjaga kelestariannya,” katanya.

Sustyo juga tidak segan-segan untuk melakukan penindakan hukum terhadap para pelanggar. “Selama ini kita sudah melakukan sosialisasi terkait UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Sehingga kami tidak segan-segan untuk menindak para pelanggarnya,” tegasnya.

Sebelumnya, seorang Warga Negara Jerman, Holger Pelz sempat akan melakukan penyelundupan sebanyak delapan ekor Biawak Kalimantan ke negaranya. Beruntung aksi penyelundupan satwa endemic Kalimantan itu berhasil digagalkan oleh petugas Bandara Soekarno-Hatta pada 11 Oktober 2015 lalu. 

Biawak tak bertelinga adalah salah satu hewan endemik Kalimantan, Indonesia. Biawak ini termasuk dalam ordo Squamata dan termasuk suku Varanoidea. Hewan ini pertama kali ditemukan pada tanggal 30 Mei 2008 di temukan di bawah sampah daun dekat dengan sungai berbatu di daerah Landak, Kalimantan Barat.

Menurut Sustyo, pelaku dapat dijerat dengan pasal 21 Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana 5 tahun penjara dan denda Rp100 juta. (arf) 

Berita Terkait