Biasakan Konsumsi Ikan dan PHBS

Biasakan Konsumsi Ikan dan PHBS

  Rabu, 4 November 2015 09:19
CUCI TANGAN: Pelajar SD Madrasah Bersama Ny. Frederika Cornelis, S.Pd Memperagakan Gerakan Cuci Tangan Pakai Sabun. MUSTA’AN/PONTIANAKPOST

PUTUSSIBAU—Puluhan pelajar Madrasah Putussibau semangat mengikuti kegiatan Gerakan Cuci Tangan Pakai Sabun (GCTPS) yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kapuas Hulu, Senin (2/11) lalu, di Gedung Volley Indoor Putussibau. Bersama Ketua TP-PKK Prov Kalbar, Ny. Frederika Cornelis S,Pd, PJ Bupati Kapuas Hulu, Marius Marcellus TJ, S.H M.M serta pejabat Provinsi Kalbar dan Kapuas Hulu.

Para pelajar tersebut bernyanyi dan memperagakan praktek cuci tangan yang baik dan benar. Kepala Dinas Kesehatan Kapuas, dr. H. Harisson Azroi, M.Kes menuturkan, pihaknya sengaja menggelar GCTPS ini untuk menanamkan prinsip Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada anak-anak usia dini. Supaya PHBS menjadi kebiasaan para pelajar hinga dewasa, dengan nerapkan pola hidup sehat.“Melalui kegiatan itu kami mengajarkan prosedur yang benar dalam mencuci tangan. Cuci tangan ini sangat penting, awal dari prilaku hidup bersih dan sehat,” ucapnya. Harisson mengungkapkan, Dinas Kesehatan Kapuas Hulu sudah mengajarkan CTPS kepada hampir semua anak. Sebgaian besar diantaranya adalah anak-anak PAUD,TK, SD dan SMP selalu mengamalkan pola PHBS sedini mungkin.

Dalam menanamkan prisip CTPS, Harisson menjelaskan, pihak berupaya memberikan materi secara menarik kepada anak-anak, yakni dengan lagu. Dengan demikian, setiap anak bisa mudah mencerna dan mengamalkannya. “Sengaja kami ajarkan melalui musik dan lagu, supaya bisa menstimulasi rasa riang gembira sang anak. Kalau anak-anak senang melakukannya tentu bisa jadi kebiasaan,” katanya.

Ketua TP PKK Prov. Kalbar Ny. Frederika Cornelis, SPd  mengatakan, selain GCTPS, pemerintah mesti merealisasikan diversifikasi konsumsi dan keamanan pangan. Sehingga bisa mendorong pemenuhan pangan, guna mencapai gizi seimbang. “Mengkonsumsi pangan yang beragam, itu perlu penyuluhan. Agar masyarakat tahu dan sadar pentingnya konsumsi pangan beragam dan seimbang,” ungkapnya.Kemudian, kata Federika, yang memperihatainkan saat ini, sekitar 44 persen sampel jajan kurang memenuhi unsur kesehatan atau pun gizi. Jajanan tersebut rawan pencemaran mikroba atau pun kelewatan masa kadaluarsa. (aan)