Bianka Diserahka

Bianka Diserahka

  Sabtu, 8 Oktober 2016 10:22

Berita Terkait

Bayi Orangutan Rp500 Ribu

KETAPANG - Satu persatu orangutan yang dipelihara oleh warga dievakuasi oleh tim yang terdiri dari International Animal Rescue (IAR) Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Seksi Konservasi Wilayah I (BKSDA SKW I) Ketapang. Kali ini, satu bayi orangutan dievakuasi dari pemeliharanya di Desa Randau Jungkal Kecamatan Sandai pada Rabu (5/10).

Orangutan berjenis kelamin betina itu diperkirakan berumur sekitar 3 tahun. Oleh pemeliharanya, Ayu Puri, orangutan tersebut diberi nama Bianka. Dia mengaku mendapatkan orangutan tersebut dengan cara membeli kepada salah seorang warga di Beginci dengan harga Rp500 ribu pada Februari 2014.

"Saya menemukan orangutan ini di rumah orang dan diikat dengan rantai ke pohon. Karena kasihan, saya minta orangutan itu untuk saya pelihara dan saya beri pemilik sebelumnya uang Rp500 ribu," katanya.

Saat hendak dievakuasi oleh tim, Ayu menolak dan meminta ganti rugi atas biaya yang telah ia keluarkan selama memelihara bayi orangutan tersebut. "Saya tahu ini dilarang oleh undang-undang, tapi saya juga minta ganti rugi atas biaya yang saya keluarkan selama merawat Bianka," pinta Ayu.

Ia mengaku selama dipelihara, orangutan ini diperlakukan seperti anaksendiri. "Dia selalu ikut ke mana saya pergi. Dia juga makan minum dan tidur dengan saya. Apa yang saya makan, dia juga makan. Kadang saya kunyahkan dulu makanan yang terlalu keras untuk dia," jelasnya.

Penyelamatan orangutan ini berawal dari laporan warga pada tahun 2015 silam. Menanggapilaporan tersebut tim YIARI segera mengirimkan tim Human Orangutan Conflict Response Team (HOCRT) untuk melakukan verifikasi. Tim HOCRT sempat kesulitan untuk mengevakuasi bayi orangutan tersebut karena mendapat penolakan dari pemeliharanya.

Setelah beberapa kali pendekatan persuasif tidakmembuahkan hasil. Tim gabungan memutuskan untuk melibatkan Kesatuan Polisi Hutan dan meminta bantuan dari Polres Ketapang dan Polsek Sandai untuk menjemput orangutan ini. Kapolsek Sandai, Rully Robinson turun langsung bersama tim gabungan untuk menjemput Bianka.

Kapolsek Sandai, Rully akhirnya bergasil membujuk pemelihara orangutan dan menyerahkannya kepada tim. "Sekarang memang masih lucu-lucunya, tapi bayangkan 3-4 tahun lagi, orangutan akan menjadi semakin kuatdan nakal. Ibu tidak akan bisa lagi menangai orangutan ini. Nanti ujung-ujungnya dirantai, dikandang atau malah dibunuh," kata Rully.

Direktur Program IAR Indonesia, Karmele Llano Sanchez, mengapresiasi langkah cepat pihak kepolisian dalam menanggapi laporan patut diapresiasi. "Kami sangat berterima kasih kepada pihak kepolisian Resort Ketapang dan Kepolisian Sektor Sandai yang telah membantu penyelamatan orangutan serta memberi pemahaman kepada masyarakat," ungkapnya.

"Selain kurangnya pengetahuan masyakat atas undang-undang konservasi, penegakan hukum yang kurang tegas juga semakin memperparah persoalan yang ada. Oleh karena itu, peran dari kepolisian dan dinas-dinas terkait sangat diperlukan," pungkas Karmele Sanchez.

Kasus pemeliharaan orangutan memang merupakan halyang sering terjadi di Kabupaten Ketapang. Padahal orangutan dilindungi oleh UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi. Sepanjang tahun ini, IAR Indonesia telah menyelamatkan 10 orangutan yang dipelihara warga di Ketapang. Pada setiap kasus pemeliharaan orangutan, sangat besar induknya sudah mati karena bayi orangutan akan tinggal bersama induknya dari lahir sampai usia 6-8 tahun.

Melihat laju penurunan populasi orangutan di alam liar saat ini, International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun ini memasukkan orangutan Kalimantan ke dalam kelompok satwa yang sangat terancam punah. Penurunan populasi orangutan liar di Kalimantan sendiri sampai lebih dari 80 persen dalam 75 tahun. Sedangkan masyarakat Kalimantan, terutama yang tinggal jauh dari pusat kota, belum terlalu memahami persoalan ini. (afi)

Berita Terkait