BI Sarankan 3 Sektor Pertumbuhan Ekonomi Baru

BI Sarankan 3 Sektor Pertumbuhan Ekonomi Baru

  Senin, 4 December 2017 15:37
Dwi Suslamanto

Berita Terkait

Tahun 2018 Ekonomi Global Membaik, Kalbar Terpengaruh

PONTIANAK – Bank Indonesia mengeluarkan outlook ekonomi Kalimantan Barat untuk tahun depan. Kepala Kpw BI Kalbar Dwi Suslamanto mengatakan, ekonomi provinsi ini akan mengalami peningkatan, kendati tidak akan terlalu tinggi. Hal ini seiring meningkatnya ekonomi negara-negara industri utama di dunia, yang memicu permintaan terhadap komoditas Kalimantan Barat. 

“Tahun depan ekonomi global diperkiraan membaik dan tumbuh 3,6 persen. Hal ini didukung ekonomi Amerika yang membaik, terutama sektor kondisi tenaga kerja investasi. Begitu juga dengan Eropa dan Jepang  yang mulai bangkit ekonominya bangkir. Sementara Tiongkok tumbuh tinggi didukung permintaan domestiknya,” papar, dalam Outlook Ekonomi Kalbar 2018 di Gegung BI Kalbar, kemarin (4/12).

BI memproyeksikan, ekonomi  nasional akan tumbuh 5,0% -5,4% (yoy) di tahun mendatang. Sedangkan tren inflasi rendah masih akan berlanjut dengan prediksi 3,4% -3,8% (yoy). Sementara untuk Kalbar, pertumbuhannya akan berada pada kisaran yang sama. Begitu juga untuk angka inflasi yang rendah, akan mengikuti tren nasional.

Namun, Dwi menyebut, pihaknya mengusulkan sektor pertumbuhan ekonomi baru agar tidak tergantung pada komoditas klasik yang harganya belum stabil. Pusat pertumbuhan baru tersebut hendaknya berfokus pada industri pengolahan. Selain itu proyek-proyek infrastruktur hendaknya juga menggandeng pihak swasta. 

“Misalnya industri pengolahan buah dan sayuran dimana Kalbar adalah penghasil buah tropis. Begitu juga penambahan industri pengolahan alumina, untuk menyerak potensi tambang bauksit. Termasuk industri pariwisata yang masih belum banyak digarap, karena kita memiliki alam yang indang dan budaya yang unik,” jelasnya.

Selama ini, kata dia, sektor pertanian merupakan sektor dengan pangsa terbesar terhadap perekonomian Kalbar. Antara tahun 2012 hingga 2016, terjadi perubahan pangsa antarsektor di Kalbar. Sektor pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan mengalami penurunan pangsa, sedang sektor lainnya meningkat. Tiga sektor dasar bagi ekonomi Kalbar dipegang oleh pertanian, konstruksi dan perdagangan. 

Sementara itu untuk persoalan perbankan, BI mencatat ada beberapa perbaikan di beberapa indikator, tetapi ada juga penurunan. Misalnya PersentaseNon Performing Loan (NPL) yang menunjukkan tren menurun sepanjang 2017. Hanya saja pertumbuhan kredit juga mengalami penurunan. Adapun sektor pertanian merupakan sektor penerima kredit terbesar, denganpangsasekitar50% daritotal kredit

Dia juga mengingatkan adanya potensi risiko pada sektor korporasi. Terlebih sektor Korporasi Kalbar memiliki konektivitas tinggi terhadap sektor regional Lain, perbankan, keuangan nonbank, rumah tangga dan pemda. “Tingginya kebutuhan pendanaan korporasi di Kalimantan Barat menimbulkan risiko apabila terjadi shock kepada korporasi, maka sektor lain dapat ikut terpengaruh. Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah peningkatan utang luar negeri sektor korporasi,” jelas dia.

Hal serupa juga diungkapkan ekonom Kementerian Keuangan yang juga Dekan FEB Universitas Tanjungpura, Prof Eddy Suratman. Perekonomian dunia pada tahun 2018 mendatang diperkirakan akan mulai membaik seiring menggeliatnya permintaan barang dan jasa di negara-negara industri maju. “Tahun depan saya perkirakan pertumbuhan akan sedikit lebih tinggi dari tahun ini. Karena ekonomi dunia juga mulai membaik. Terutama China yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonominya,” ujarnya.

Dipaparkan dia, meningkatnya permintaan dari negara industri akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi Kalbar terutama CPO dan karet. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir ekonomi Kalbar tumbuh linear dengan ekonomi nasional. Kalau nasional naik, Kalbar juga akan naik. Harga minyak dunia juga akan menyeret naiknya harga karet dan CPO. Baik volume maupun nilai ekspor kita akan meningkat.  Kita harap juga seperti itu. Karena karet ini sangat berpengaruh terhadap ekonomi Kalbar. Masyarakat banyak terlibat di usaha karet,” sebut dia.

Patut diperhatikan pula adalah aktivitas ekonomi dari gawai akbar pemilihan kepala daerah serentak tahun depan. “Ada 6 Pilkada di Kalbar tahun depan. Biasanya Pilkada atau Pemilu akan berdampak pada belanja masyarakat. Perputaran uang dari kampanye baik legal maupun tidak resmi akan meningkatkan daya beli masyarakat, dan berujung pada pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Sementara itu, tahun ini dia memperkirakan target pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat tidak akan tercapai.  Dia menghitung, pertumbuhan ekonomi Kalbar hingga akhir tahun hanya akan berada di angka 5-5,1 persen saja. Sementara target pertumbuhan berada di angka 5,38 persen.  “Biasanya triwulan terakhir pertumbuhan ekonomi akan tinggi, karena peningkatan belanja pemerintah dan momen Natal-Tahun Baru. Tetapi tidak cukup untuk mencapai target,”  pungkasnya. (ars)

Berita Terkait