BI Kalbar Tanam 13.000 Mangrove di Mempawah

BI Kalbar Tanam 13.000 Mangrove di Mempawah

  Senin, 14 December 2015 08:44
TANAM MANGROVE: Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalbar Dwi Suslamanto (kaos merah) dan Ketua MMC Raja Fajar (kaos putih) bersama para penerima beasiswa Genbi melakukan penanaman bibit mangrove di Kabupaten Mempawah, kemarin (13/12). ARISTONO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

MEMPAWAH—Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat kembali menggelar Program Sosial Bank Indonesia pada bulan ini. Program ini digelar selama tiga hari (13-15/12) dan menyasar ke tiga titik dan jenis bantuan yang berbeda.

Minggu (13/12) kemarin, BI bekerjasama dengan Mempawah Mangrove Conservation (MMC) dan para penerima beasiswa GenBI menggelar penanaman bibit mangrove di Kabupaten Mempawah. Sebanyak 13.000 bibit disebar di Dusun Benteng Mempawah, Kampung Pasir dan Sengkubang.

Bank Indonesia sendiri sudah terlibat dalam konservasi hutan bakau di tiga tempat ini sejak tahun 2013. Kepala Perwakilan BI Kalbar, Dwi Suslamanto mengatakan pihaknya merasa perlu melakukan aksi ini untuk mencegah abrasi di kawasan tersebut.

"Setiap tahun rata-rata dua meter dari bibir pantai daratan yang hilang akibat abrasi. Kita tentu tidak ingin hal ini berlanjut terus," ujar pria yang juga turun langsung ke lumpur pantai untuk menanam bibit.
Namun lebih lanjut, kata dia, hutan bakau juga terkait langsung dengan kehidupan ekonomi masyarakat. Sebelumnya banyak persawahan warga yang sudah berubah menjadi lautan di sana. Aset dan sumber pencaharian itu hilang. Sedangkan nelayan-nelayan kecil kesulitan untuk mencari ikan. Akibatnya daya beli masyarakat menurun dan menyebabkab inflasi di kawasan tersebut.

MMC, lembaga sosial masyarakat yang fokus dalam masalah ini menyambut baik bantuan tersebut. Ketua MMC Raja Fajar Azansyah menyebut bibit-bibit yang beberapa tahun lalu ditanam juga oleh BI Kalbar kini sudah membesar, dan menjadi hutan bakau baru.

"Akar-akar dari bakau itulah yang akan mengikat lumpur atau tanah, sehingga terbentuk daratan baru. Hutan mangrove ini juga yang akan menahan abrasi laut," jelas pria 37 tahun ini.
Walaupun bantuan itu masih relatif sedikit bila dibandingkan dengan panjang garis pantai yang terabrasi, setidaknya hutan bakau itu kini sudah dirasakan manfaatnya. Fajar menyebut, sekarang nelayan-nelayan kecil tidak perlu jauh-jauh mencari udang, karena habitatnya sudah berpindah ke hutan bakau.
Selain itu, pihaknya bersama kelompok mahasiswa sedang bereksperimen untuk mengolah daun bakau menjadi bahan pangan. MMC juga berencana untuk membangun ekoturisme di kawasan hutan bakau di Kabupaten Mempawah.Sementara itu Ketua GenBI Kalbar Irvan Darmawan mengatakan pihaknya mengerahkan 30an orang untuk penanaman mangrove selama beberapa hari ini. "Kami senang sekali, selain menerima bantuan beasiswa dari Bank Indonesia, kami juga diajak untuk peka terhadap lingkungan sekitar," katanya.

PSBI juga digelar pada Senin (14/12) hari ini di Desa Sumber Harapan, Kabupaten Sambas. BI bersama Dompet Ummat menyerahkan 30 alat tenun kepada para pengrajin di sini. Para perajin ini dulunya kebanyakan adalah kuli tenun tanpa modal. Akibatnya Keterampilan mereka kurang maksimal. "Padahal kain songket sambas sangat terkenal. Apabila dimaksimalkan, maka bisa diekspor dan mendatangkan devisa yang lumayan," ucap Dwi.

Sedangkan pada hari Selasa (15/12), BI menggelar PSBI di Desa Peniraman, Kabupaten Mempawah. BI memperkenalkan metode tanam padi Hazton kepada petani di sini. Selain itu, adapula bantuan mesin penggiling, bantuan teknis dan lain-lain. Hal ini sudah dilakukan dalam beberapa tahun belakangan, dan telah membuahkan hasil. Panen masyarakat meningkat beberapa kali lipat setelah menggunakan metode yang mulai diterapkan oleh daerah-daerah lain di Indonesia. (ars)

 

Berita Terkait