Besok, Pengumuman Finalis Kompetisi Zetizen Menuju Selandia Baru

Besok, Pengumuman Finalis Kompetisi Zetizen Menuju Selandia Baru

  Jumat, 30 September 2016 09:48
AKSI POSITIF: Salah satu aksi positif yang dilakukan seorang peserta Zetizen National Challenge, Aldora Helsa Goewyn.. DOKUMEN ALDORA HELSA GOEWYN

Berita Terkait

Memilih 170 dari Total 23 Ribu Aksi

SURABAYA – Lebih dari 23 ribu aksi positif terdaftar mengikuti Zetizen National Challenge, kontes anak muda yang diselenggarakan oleh Jawa Pos Group (termasuk Pontianak Post) bersama Kedutaan Besar Selandia Baru. Saat ini, dari puluhan ribu peserta itu, 170 aksi sudah masuk seleksi akhir. Masing-masing lima dari setiap provinsi di Indonesia.

Para finalis itu akan mengikuti seleksi akhir. Mereka bakal berkumpul dalam Zetizen Summit di Surabaya pada 14–16 Oktober nanti, bersaing untuk merebut tiket adventure ke Selandia Baru.

”Luar biasa, 23 ribu lebih aksi positif didaftarkan peserta dari Aceh sampai Papua. Syarat untuk ikut sebenarnya sederhana, berbuatlah apa saja yang berdampak positif atau inspiratif untuk lingkungan sekitar. Sekarang bayangkan, kalau ada 23 ribu aksi positif dan masing-masing berdampak untuk sepuluh orang lain saja, berarti ada ratusan ribu orang yang merasakan manfaatnya,” kata Azrul Ananda, komisaris utama Jawa Pos Group.

Sebanyak 23 ribu aksi itu di-upload ke situs Zetizen.com. Kemudian harus melalui beberapa tahap penyaringan oleh kru Zetizen dari koran-koran Jawa Pos Group di seluruh provinsi.

Pada akhirnya, dari setiap provinsi dipilihlah lima kandidat. Merekalah yang akan berkumpul di Surabaya. Saat Zetizen Summit itu, lima wakil setiap provinsi tersebut tidak bersaing dengan finalis dari provinsi lain. Mereka justru bersaing satu sama lain.

”Di akhir Zetizen Summit, akan dipilih satu pemenang dari setiap provinsi. Jadi, akan ada 34 anak muda, mewakili semua provinsi di Indonesia, yang menuju Selandia Baru,” tegas Azrul. ”Seleksi akhir nanti juga akan menguji wawasan dan kualitas leadership finalis. Karena yang terbang ke Selandia Baru harus benar-benar menjadi duta yang baik. Bukan hanya untuk daerah masing-masing, tapi untuk Indonesia,” lanjut dia.

Di Selandia Baru nanti, 34 pemenang memang tidak sekadar jalan-jalan. Kedutaan Besar Selandia Baru sedang menyiapkan program yang menggabungkan elemen edukasi, adventure, sekaligus fun.

Pada 19 Juli lalu, program itu di-launching langsung oleh Perdana Menteri Selandia Baru John Key di DBL Arena, Surabaya. Saat ini, para peserta sudah tak sabar menanti pengumuman 170 finalis. Khususnya mereka yang merasa punya aksi signifikan.

Salah satunya Yuvaldo Dimas Pranata dari Bengkulu. Berlatar belakang tren pergaulan remaja yang menurutnya makin tidak terkendali, dia tergerak untuk memberikan edukasi seks bagi remaja. Caranya, membentuk konselor sebaya sebagai wadah curhat dan penyuluhan mengenai dampak buruk seks bebas.

Untuk melakukan aksi tersebut, siswa berumur 17 tahun itu membuka kelas konsultasi seminggu sekali di sekolah-sekolah. ”Tiap sekolah berkesempatan dapat dua kali pertemuan,” kata Yuvaldo.

Hingga saat ini, Yuvaldo telah memberikan konsultasi di beberapa kampung dan sekolah di Kota Bengkulu. Jumlah pesertanya pun sudah lebih dari seratus orang.

Dalam melaksanakan misinya sebagai konselor, Yuvaldo memosisikan diri sebagai teman curhat sebaya. Diharapkan, remaja yang menjadi targetnya merasa nyaman. ”Sebelum sosialisasi, saya akan melakukan investigasi ke sekolah-sekolah dan tempat nongkrong. Baru setelah itu pendekatan ke anak-anak yang menurut saya menyimpang,” ungkap cowok yang bersekolah di SMA Plus Negeri 7 Bengkulu tersebut.

Peserta lain yang punya aksi mengagumkan adalah Grace Dwi Laksana dari Gorontalo. Sangat rendahnya kesadaran masyarakat wilayahnya akan kebersihan lingkungan membuat pelajar SMKN 4 Gorontalo itu ingin melakukan perubahan. Dia lantas mencanangkan program penyuluhan kebersihan bagi masyarakat sekitar.

”Karena terpilih sebagai duta sanitasi di sini, saya rutin mengadakan penyuluhan, bekerja sama dengan duta lingkungan setiap sekolah,” terang Grace. ”Bersama kami mengajarkan gerakan 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle. Setiap penyuluhan, saya juga membawa contoh barang-barang yang bisa diolah, seperti sampah botol bekas yang dapat diubah menjadi bros cantik,” papar Grace.

Dengan mengikuti kompetisi Zetizen itu, Grace merasa bisa mengembangkan lagi dampak aksinya. ”Aku merasa tertantang buat mengikuti kompetisi karena ini lingkupnya nasional. Aku pengin menyadarkan masyarakat Gorontalo dan Indonesia,” tutur Grace.

Siapa saja 170 finalis atau 5 orang dari setiap provinsi itu? Pengumumannya akan disampaikan Sabtu besok, 1 Oktober, di koran-koran Jawa Pos Group. (dhs/giv/c11/dri)

Berita Terkait