Bertukar Budaya, Menggambar, dan Membuat Prakarya Bersama

Bertukar Budaya, Menggambar, dan Membuat Prakarya Bersama

  Selasa, 2 Agustus 2016 09:30
MERIAH: Rombongan anak-anak Swaziland mendapatkan sambutan meriah di Aula Sekolah Immanuel Pontianak. MIFTAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Sebanyak 17 anak yatim piatu asal Swaziland, Afrika Barat melakukan Perjalanan Syukur ke Kalimantan Barat. Mereka bertukar kebudayaan dengan pelajar di Kota Pontianak. Ada tarian, nyanyian, hingga membuat prakarya dari barang-barang bekas.

CHAIRUNNISYA & MIFTAH, Pontianak

MOBIL bus berhenti di halaman Sekolah Pelita Cemerlang, Jalan Perdana Pontianak. Dari dalamnya turun sejumlah anak berkulit gelap, berambut pendek, dan keriting. Ya, mereka adalah anak-anak dari Negara Swaziland, Afrika Barat. 

Ada 17 anak. Mereka disambut antusias oleh pelajar di sana. Dalam sebuah ruangan yang besar, murid-murid di SD dan SMP Pelita Cemerlang bertukar kebudayaan dengan anak-anak dari Swaziland yang tergabung dalam Amitofo Care Centre (ACC). 

Anak-anak Afrika membawakan nyanyian berbahasa Mandarin, tarian, dan lainnya. Sedangkan pelajar Pelita Cemerlang membawakan tarian Dayak, puisi, dan nyanyian.  Mereka juga belajar membuat tempat pensil dari kertas koran. 

Kepala SD Pelita Cemerlang Pontianak, Nurhayati menyatakan, ada interaksi antara siswanya dan anak-anak dari Afrika tersebut. Siswa SD menggambar bersama, sedangkan pelajar SMP membuat prakarya dari bahan bekas. 

Nurhayati berharap kedatangan anak-anak dari Benua Afrika itu bisa memberi dampak positif bagi siswanya. “Anak-anak Afrika ini kurang beruntung. Mereka yatim piatu, tetapi mandiri. Saya berharap siswa saya yang lebih beruntung, bisa lebih baik. Saya berharap mereka bisa mendapat pelajaran dari itu dan bisa bersyukur,” ungkap Nurhayati.

Ketua Panitia Perjalanan Syukur 2016 di Pontianak, Agus Chandra mengatakan seluruh anak-anak dari Swaziland ini yatim piatu. Mereka ditampung oleh Amitofo Care Centre. Di sana mereka bersekolah, diajarkan Bahasa Mandarin, dan dilatih kungfu. “Mereka dilatih kungfu agar fisiknya kuat,” kata Agus.

Agus menjelaskan kedatangan anak-anak Afrika ini dikemas dalam Perjalanan Syukur 2016. Kegiatan ini sebagai ungkapan syukur karena ada yayasan yang menampung mereka. “Ini merupakan pertukaran budaya. Total rombongan ada 30 orang dan anak-anaknya ada 17 orang,” jelas Agus.

Sebelum ke SD dan SMP Pelita Cemerlang, rombongan ke Sekolah Bina Mulia. Di sana anak-anak tersebut membawakan lagu Laskar Pelangi. Tak hanya dua sekolah itu, perjalanan dilanjutkan ke Sekolah Immanuel Pontianak.

Agus menambahkan tak hanya ke Kota Pontianak, anak-anak Afrika itu juga mengunjugi Medan, Batam, Palembang, dan Jakarta. Mereka juga keliling Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam. “Perjalanan ini dari 26 Juni 2016 hingga 7 Agustus 2016. Kunjungan di Indonesia ini juga salah satu dari kerja sama Indonesia dan Afrika,” ungkap Agus.

Di Sekolah Immanuel Pontianak, mereka disuguhkan penampilan kesenian asli, seperti tarian Dayak dan lagu daerah Aek kapuas. Dipadukan dengan tarian bernuansa tionghoa dan lagu berbahasa mandarin.

Sambutan itu, dibalas dengan pertunjukan apik dari kedua belas anak-anak dari Swaziland tersebut. Dua penampilan berupa tarian dan lagu dari berbahasa mandari dan lagu yang sempat menjadi lagu tema piala dunia Afrika Selatan, It’s Time For Africa/ waka waka. Setelah itu, mereka pun memperkenalkan diri mereka, dengan fasih menggunakan bahasa mandarin yang disambut dengan rasa kagum dari siswa.

Koordinator Pelaksana Acara ACC Indonesia, Sandi mengatakan, tujuan utama kedatangan mereka kali ini tak lain ialah misi pertukaran budaya. Saat mereka hadir ini, ACC memanfaatkan kesempatan ini. “Selanjutnya, mereka juga mengunjungi beberapa sekolah untuk menginspirasi anak-anak Indonesia,” tutur Sandi.

Sebelum kedatangannya di Kota Pontianak, rombongan yang sentiasa menampilkan sebuah pementasan seni ini dan budaya dari Afrika dan Indonesia ini sudah mengunjungi Medan, Palembang dan Jambi. Setelah itu, mereka akan tampil kembali di Jakarta dan Batam. Empat negara yang dikunjungi, Malaysia, Thailand, Indonesia dan Brunei Darusassalam mendapatkan kesempatan untuk saling bertukar budaya. 

Salah satunya, anak-anak Swaziland tersebut sudah diperkenalkan dengan lagu-lagu daerah Indonesia, lagu-lagu anak Indonesia, tarian serta busana asli Indonesia. “Dan mereka menyambut baik hal itu,” katanya. Pada saat pementasan besok di Hotel Aston pun mereka akan menyuguhkan tarian dan nyanyian dari Indonesia.

Kepala Departemen Akademik Sekolah Immanuel, Martin Teopilus menyambut baik kunjungan rombongan dari benua Afrika itu. “Mereka sungguh luar biasa,” katanya kemarin. Anak-anak dengan berbagai keterbatasan tetapi tidak menghalangi mereka untuk berkembang. Mereka dapat belajar. Baik dari segi bahasa, budaya bahkan pengetahuan. Mereka punya cita-cita yang tinggi. Keterbatasan mereka tidak menghalangi mereka untuk memiliki impian, untuk memiliki visi dalam hidup mereka yang akan mereka kejar. Ini sesuatu yang luar biasa.

“Anak-anak di Pontianak, khususnya di sekolah kami yang memiliki kesempatan dapat menjadi cambuk agar mereka dapat belajar lebih baik lagi,” tuturnya. (**)

Berita Terkait