Bertaruh Nyawa Sebelum Belajar

Bertaruh Nyawa Sebelum Belajar

  Jumat, 13 November 2015 08:55

Berita Terkait

Inilah kisah heroik bocah-bocah pedalaman Kalbar. Dalam menuntut ilmu di bangku sekolah, mereka harus bertaruh nyawa melewati derasnya arus Sungai Melawi yang terkenal ganas. Mogok, karam, tenggelam bahkan disambar ikan tapah menjadi momok yang harus mereka hadapi setiap pagi sebelum belajar di sekolah. Padahal mereka masih anak-anak.SUTAMI, Sintang

SISA guyuran hujan semalaman masih terasa di Desa Tebing Raya, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang, Kalbar. Hawa dingin masih begitu kuat menusuk badan hingga mengundang rasa malas beranjak dari tempat tidur. Rintik air hujan terus mengucur sekalipun tidak sederas malam sebelumnya.Saat jam sudah menunjukkan pukul 04.00, fajar belum terlihat.  Suasananya sangat mendukung untuk orang melanjutkan tidur.  Namun seorang bocah berusia 15 tahun memilih sebaliknya. Ia bergegas bangun dan langsung menuju sungai.

Namanya Hairun. Dia murid kelas tujuh di SMP Negeri 5 Satu Atap Desa Tretung, Sintang. Saat di sungai, Hairun ternyata tak langsung mandi. Pandangannya mengamati sebuah motor air kecil yang disebut warga setempat speed.  Kendaraan air itu bertambat di lanting depan kediamannya.Lantai speed sudah penuh berisi air hujan. Seketika itu juga Hairun langsung mengambil gayung untuk menguras air. Bila tidak segera ditimba, air bisa menenggelamkan speed. Padahal kendaraan sungai itu menjadi tumpuan Hairun untuk berangkat ke sekolah.

Setelah sejenak bekerja, air di dalam speed berkurang. Hairun pun memastikan speed bisa digunakan. Dia lalu bergegas mandi. Selanjutnya berkemas usai sarapan sebentar. Tepat pukul 05.00, Hairun pamit ke orang tuanya untuk berangkat ke sekolah. Tali starter mesin motor air berkekuatan tiga PK yang menempel di speed  langsung ditarik. Mesin menyala menandai perjalanan ke sekolah dimulai.Ternyata Hairun tidak langsung menuju sekolah. Dia memacu speed ke Desa Mangguk Bantok, kampung sebelah. Arah haluannya ke hulu. Sementara arah menuju ke sekolahnya ke hilir sungai. Berangkat ke kampung sebelah untuk menjemput kawan-kawannya seakan sudah menjadi tugas tambahan setiap hari bagi Hairun.

Hairun menjemput temannya seorang demi seorang. Mereka yang dijemput sudah menunggu di lanting. Jadi Hairun tak perlu menunggu lama. Jemputan pun langsung naik ke atas speed.Teman yang dijemput antara lain Widi Pratama, Ferry, Levi, Umar Dani, dan Chandra, serta beberapa teman lain, hingga speed menjadi penuh sesak. “Setiap hari kami memang seperti ini,” kata Hairun kepada Pontianak Post yang juga ikut dalam rombongan itu. Ia bicara sambil memegang kemudi speed.Perjalanan panjang mengarungi Sungai Melawi pun dimulai. Sungai dengan lebar lebih 200 meter itu berarus sangat deras terutama pada pagi hari. Arus jeram akan semakin deras lagi apabila hujan pada malam harinya.

Hamparan Sungai Melawi dengan tebing penuh hutan belantara menjadi pemandangan sepanjang perjalanan selama lebih dua jam. Kabut tipis sisa embun seperti melayang-layang di atas sungai. Hairun sudah piawai mengemudikan speed. Dia telah mengenal alur sungai sehingga bisa menghindari batu-batu besar yang tidak terlihat dari permukaan.Hairun dan teman sebayanya tak bisa menghindari perjalanan sungai jika ingin sekolah. Pasalnya akses kampung mereka dengan lokasi SMP Negeri 5 belum terhubung  jalur darat. Listrik juga belum menyentuh desa tempat tinggal Hairun.

Kondisi sama dengan tempat tinggal para teman-temannya yang dijemput di Desa Mungguk Bantuk dan Klakau Jaya. Semua belum tersentuh listrik. Jalan di ketiga desa itu masih setapak. Akses menuju ibukota kabupaten juga belum terhubung dengan baik.Sekalipun keadaan infrastruktur dalam segala hal sangat kekurangan bukan berarti mematahkan semangat Hairun dan teman-temannya untuk sekolah. Motivasi mereka sangat kuat untuk mengejar impian besar.Pendidikan dinilai menjadi nomor satu sebagai pembuka jalan mengejar cita-cita. “Motivasi saya mencari ilmu dan mengejar cita-cita. Saya ingin jadi tentara,” tutur Hairun.

Sementara Rangga, teman Hairun tampak membalik-balikan papan tempat duduk di speed. “Basah. Kita tukar bagian bawah naikkan ke atas. Supaya bisa duduk,” katanya.  Inisiatif Rangga muncul lantaran bangku speed basah akibat sisa guyuran hujan. Bila tidak berinisiatif maka seluruh penumpang tak bisa duduk.Rangga juga mengungkapkan hal serupa dengan Hairun. Ia rela setiap hari mengarungi sungai tidak ada tujuan lain kecuali demi masa depannya di kemudian hari. Bangun pagi-pagi biar tidak terlambat juga dinikmatinya, karena sudah terbiasa.Banyak macam aktivitas rombongan Hairun saat berada di atas speed. Ada yang bernyanyi. Suasana keceriaan tumbuh selama perjalanan. Lalu ada juga yang mengingatkan kepada semua penumpang tentang pelajaran di sekolah atau tugas dari guru. “Ada PR tidak. Kalau tidak mengerjakan PR nanti dihukum,” kata Ferry.

Kendati demikian perjalanan menuju sekolah tak sepenuhnya mulus. Kondisi alam terkadang menjadi kendala. Saat musim kemarau, mesin speed bisa mendadak mati karena tersangkut pasir. Datang ke sekolah bisa terlambat, karena untuk menyalakan kembali, mesin harus dibongkar.Pasir yang masuk ke mesin mesti dibuang. Jika mesin tak bisa hidup, rombongan pelajar ini terpaksa kembali ke desa. Hadangan batu di alur sungai juga cukup membahayakan. Bila saat mengemudikan speed  tidak ekstra waspada maka bisa menabrak batu. Ancamannya speed bisa bocor bahkan pecah. “Ini yang kami takutkan,” kata Umar Dani.

Ada kisah menarik saat kabut asap menyelimuti sungai beberapa pekan lalu. Perjalanan rombongan Hairun tersesat lantaran daratan sama sekali tidak tampak akibat pendeknya jarak pandang. Perkampungan tempat sekolah sudah dilintasi tapi tidak terlihat. “Kami heran kenapa tidak sampai-sampai. Kami sudah hampir sampai Sungai Ana,” kata Widi.Cerita Widi, kemudi speed akhirnya dibelokkan. Diputuskan segera menepikan speed ke arah daratan. Perjalanan menyusuri daratan dianggap menjadi solusi agar bisa melihat perkampungan. “Ternyata benar kami tersesat. Sudah kelewatan jauh,” kata Widi.

Beruntung menurut Widi tak lama kabut asap berlangsung, mereka diliburkan. Sekolah kembali dimulai ketika kabut asap sudah tipis. Ancaman juga bisa datang dari binatang liar. Ular berbisa bergantungan di dahan pohon pinggir sungai. Speed harus bisa berada di tengah alur agar tidak kejatuhan ular.Selain itu, ikan tapah sesekali juga muncul dipermukaan. Ikan predator yang beratnya bisa mencapai 100 kg ini dikenal ganas. Memakan segalanya yang ada di air. Menjadi sesuatu yang menakutkan bila speed karam atau terbalik setelah menabrak batu.

Kecemasan ternyata tidak saja dialami anak-anak. Perasaan serupa juga dirasakan para orangtua dan wali murid. Begitu besar resiko yang harus mereka tanggung sendiri saat mengemudikan speed di arus sungai yang deras saat sekolah. Hal itu terpaksa dilakukan lantaran jalur Desa Tebing Raya, Mungguk Bantok dan Klakau Jaya ke Desa Tretung tidak ada jasa angkutan umum air yang melintas.“Sungai Melawi arusnya lebih deras dibanding Sungai Kapuas. Apalagi kalau sehabis hujan. Kita terkadang juga memikirkan masalah keselamatan. Mereka masih kecil-kecil. Tapi keadaan sudah memaksa. Kalau tak nekat pakai speed berarti tidak sekolah. Sementara pendidikan penting untuk masa depan,” kata H. Arifin, kakek dari Hairun sekaligus tokoh masyarakat Tebing Raya, ini.

Cerita Arifin di desa terdekat kampungnya tidak ada sekolah SMP. Kecuali di Desa Tretung. Padahal di Tebing Raya, Mungguk Bantuk dan Klakau Jaya, bila didirikan SMP muridnya dipastikan ramai. Tiga desa saling berdekatan dengan penduduk ratusan kepala keluarga.Ketiga desa ini memang masih terisolir. Sekolah tidak ada, listrik belum mengalir, jalan juga tidak ada. Bahkan belum terhubung dengan jaringan telepon seluler. “Padahal desa kami masuk wilayah  Kecamatan Sintang, kecamatan pusat ibukota kabupaten,” katanya.

Kepala Sekolah SMP Negeri 5 Satu Atap Desa Tretung Sintang Wisnoe Wardhana mengatakan jumlah muridnya sebanyak 92 orang. Siswa yang setiap hari selalu mengarungi sungai untuk berangkat dan pulang sekolah ada 17 orang. Mereka terbagi atas beberapa kelompok speed. Antara lain kelompok Hairun dan Joviantus.Wisnoe tidak menampik perjalanan muridnya ke sekolah menggunakan speed sangat berisiko. Tantangan alam menjadi nomor satu. Misal hadangan pasir dan batu saat musim kemarau. Sementara arus sungai yang deras mesti dilalui setiap hari. Saat musim kabut, lanjutnya, sekolah juga meliburkan murid, selain alasan kesehatan juga mempertimbangkan faktor keselamatan.

Kendati demikian, Wisnoe cukup apresiasi dengan para muridnya meski menggunakaan speed dan menghabiskan perjalanan cukup panjang, mereka jarang terlambat datang ke sekolah. Kecuali faktor alam dan teknis. Misal saat hujan atau mesin rusak. “Kalau mesin rusak kita sudah tahu. Biasa tali starter putus. Maka sekolah juga memberikan dispensasi jika terlambat,” ujarnya kembali.Semangat Hairun dan teman-temannya di Desa Tebing Raya patut menjadi contoh. Tantangan alam yang begitu berat, bahkan nyawa taruhannya, harus dilalui setiap hari untuk bisa duduk di bangku sekolah. Tak ada yang dikejar Hairun kecuali menggapai cita-cita menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Semoga impian itu terkabul.**

Berita Terkait