BERTAHAN DI RUMAH PANJANG

BERTAHAN DI RUMAH PANJANG

  Minggu, 16 Oktober 2016 09:53

Berita Terkait

Ada 326 orang masyarakat adat yang masih setia tinggal di Rumah Betang Sungai Utik, Desa Batu Lintang, Kabupaten Kapuas Hulu. Banyak dari mereka, punya ikatan keluarga. Bagi masyarakat adat, rumah bagi mereka hanya kamar. Selebihnya, milik semua orang.

AGUS PUJIANTO, Kapuas Hulu 

RUMAH Betang Sungai Utik. Hanya itu namanya. Tidak ada sebutan spesifik rumah panjang kebanggaan masyarakat adat Dayak Iban ini. Namanya, diambil dari sebuah sungai bagian hulu Sungai Embaloh, bagian dari empat anakan Sungai Kapuas. Di desa kecil ini, masuk  dalam zona penyangga (Buffer zone) Taman Nasional Betung Kerihun, Kabupaten Kapuas Hulu.

Membentang sepanjang 218 meter dengan lebar 40 meter, di dalamnya terdapat 28 kamar yang dihuni 326 jiwa hingga sekarang. Rumah tradisional ini dibangun sekitar tahun 1973. Butuh lima tahun masa pengerjaanya.

Rumah betang mirip seperti apartemen tradisional ini, umumnya terdiri dari beranda rumah disebut Tanjok; serambi (ruai) dan bilik (kamar).

Tanjok di rumah panjang bersifat multi fungsi. Jika musim panen padi tiba, umumnya digunakan menjemur gabah. Dihari-hari biasa, banyak digunakan untuk ruang bersosialisasi dan ruang untuk menampilkan seni tari.

Ruai atau serambi, ruangan ini punya banyak fungsi. Di sini, semua aktifitas dan interaksi masyarakat adat bisa dilihat. Selain digunakan untuk bercengkarama dan menyambut tamu ketika ada pesta gawai, di ruai ini juga digunakan untuk  kaum ibu lesehan membuat sejumlah kerajinan tangan. Mulai dari tenun ikat, hingga anyaman dari rotan. Hasilnya, diperjualbelikan bagi tamu yang datang berkunjung. Di ruai ini juga, anak-anak saling berinteraksi. Mulai dari belajar bersama, hingga mendengarkan wejangan tetua.

Kemudian bilik atau kamar, setiap satu bilik, dihuni satu keluarga. Di dalam bilik panjang dan lebarnya tidak lebih dari enam meter. Ruangan utama, digunakan untuk istirahat. Antara bilik satu dengan lainnya, ada pintu kecil yang menghubungkan kedua bilik dengan 28 bilik lainnya selain pintu utama. Pintu kecil ini, berfungsi ketika penghuni bilik sakit, penghuni sebelahnya bisa menjenguknya lewat pintu istimewa ini.

Selain memiliki pintu istimewa dalam bilik, pintu masuknya juga demikian. Saat malam tiba, tidak ada satupun pintu kamar dikunci. Dijamin, semua aman.

Rumah betang bukan sekadar bangunan tradisional peninggalan nenek moyang masyarakat adat. Bagi masyarakat adat, bangunan ini sebuah perwujudan identitas Dayak. Di sini, budaya dan adat istiadat berlaku mengikat mereka menjalin kebersaman dalam kehidupan sehari-hari.

“Rumah ini, ibarat jantung kami. Kalau sudah tidak ada lagi yang tinggal di betang, budaya dan persatuan kami bubar,” kata Bandi, Tuai Rumah Betang Sungai Utik.

Pay Janggut, begitu Bandi akrab disapa mengatakan keberadaan rumah betang merupakan cerminan kehidupan masyarakat adat. Semua unsur kehidupan kata dia, sudah diikat sedemikian rupa dalam hukum adat. Mulai dari keamanan, hingga memenuhi kebutuhan hidup. “Hidup di rumah betang, menguatkan persaudaraan. Mempertahankan tradisi dan budaya kami,” ujarnya. (*)

 

 

 

Berita Terkait