Bertahan di Bisnis Kuliner, Merambah UKM

Bertahan di Bisnis Kuliner, Merambah UKM

  Selasa, 26 January 2016 09:38
Angki Karyati Wahyuningsih, Ketua Ikaboga Kalbar

Berita Terkait

Angki Karyati Wahyuningsih, sosok wanita dengan gigih dan penuh semangat. Dia yakin, apa yang dilakukan dan hasilnya sudah diatur oleh Tuhan. Ia pun menikmati segala kesibukkannya. Meskipun tak dipungkiri, titik jenuh sering datang. Konsep ini pula yang membuatnya bisa bertahan di bisnis kuliner sejak tahun 1998. Selain dipercaya sebagai Ketua Ikatan Ahli Boga (Ikaboga) Kalbar, Angki pun kini disibukkan dengan memimpin lembaga kursus dan pelatihan yang fokus di bidang usaha kecil menengah. Oleh : Marsita Riandini

Sebelum merambah ke bisnis kuliner, Angki lama bekerja di dunia perbankan. Setamat SMA, Angki memang memilih bekerja sambil kuliah. “Tamat SMA tahun 1980, saya kuliah. Waktu itu belum pakai sistem semester, tetapi yudisium. Tahun pertama yudisium, saya ditawari bekerja di Bank Duta,” jelasnya yang bekerja dari teller hingga menjadi funding atau marketing untuk kependanaan.

Tahun 1998, ekonomi globak bergejolak. Banyak bank yang ketar-ketir, bahkan pada akhirnya banyak yang tutup. Angki pun merasa suatu saat bank tempatnya bekerja juga akan diobok-obok. Otaknya pun mulai berpikir untuk mengatasi ancaman ekonomi bila tak lagi bekerja di bank tersebut. “ Ketika ekonomi global diobok-obok, saya harus mencari peluang lain. Saya melihat peluang di bisnis katering ibu saya yang cukup terkenal masa itu dan mengembangkannya,” ungkap wanita kelahiran Sintang, 56 tahun lalu itu.

Ternyata apa yang ditakutinya terjadi. Adik dan iparnya yang sama-sama bekerja di bank pun lebih dulu kehilangan pekerjaannya. “Saya katakan kepada mereka tidak perlu takut. Tuhan akan selalu membantu kita. Kita punya peluang ini (bisnis katering, red). Ayo kita sama-sama bergabung,” beber ibu dua anak ini.

Beruntung pengalamannya bekerja di bank bisa diterapkan di bisnis kuliner ini. Ilmu marketing, cara melobi, serta sosialisasi dengan banyak orang sangat membantunya, terutama menghadapi berbagai macam karakter.  “Ibu saya punya katering yang cukup terkenal, saya punya banyak relasi. Kali pertama itu bekerjasama dengan PTPN XIII untuk konsumsi karyawan. Nah setelah itu ke perusahaan lemon yang ada di Kalbar. Kemudian saya juga buka rumah makan, agar satu dua orang yang ingin makan gampang,” ucapnya yang saat ini juga bekerjasama dengan salah satu rumah sakit.

Terbiasa bekerja dengan target, dia pun menerapkan target pada bisnis kuliner yang dikembangkannya ini. “Waktu saya di bank, saya dituntut untuk bekerja dengan waktu. Mantan pimpinan itu selalu memberikan target kepada saya, baik itu waktu maupun program kerja. Ternyata dengan target yang diberikan saya menjadi kuat dengan tantangan apa saja. Disinilah modal saya terapkan di bisnis. Setiap tahun saya membuat program kerja, dan memiliki target yang ingin dicapai,” kata dia. 

Keberhasilan Angki ini bukan berarti dilalui dengan mudah. Ia pernah tidak tidur selama 38 jam. “Saya mengurus katering. Apalagi kalau sudah lebaran, karyawan banyak yang libur. Jadi saya yang bekerja langsung ke dapur,” ucapnya.

 

 

Dari Kerajinan Limbah hingga Batik

Tahun 2000, Angki berhenti bekerja. Dia pun fokus dengan usaha kateringnya. Tahun 2008, mewakili Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Kalbar, dia mendapatkan tugas ke Bali untuk kegiatan yang berkaitan dengan gender. “Pada waktu pertemuan di Bali itu, terbuka lagi kesempatan. Saya ditunjuk menjadi Ketua Ikatan Ahli Boga Kalbar  tahun 2008 sampai sekarang. Karena Ikaboga juga bekerjasama dengan direktorat pendidikan, saya pun memanfaatkan peluang ini. Saya membuat izin lembaga keterampilan dan pelatihan non formal,” beber pendiri LKP Wahyu ini.  

Dia pun kerap mengunjungi berbagai pameran dibawah Ikaboga yang diketuainya. Kembali dia melihat peluang dari kerajinan limbah. “Saya melihat limbah bisa menjadi sesuatu yang menarik. Baik itu dari bahan kelapa, dan lainnya. Kebetulan suami saya bisa gambar, jadi saya tanya dia mau tidak belajar pengolahannya. Saya pulang dan minta rekomendasi dari dinas. Saya dan suami pun pergi ke Jogja dengan biaya pribadi semua,” tuturnya.

Empat tahun dia berusaha mengembangkan kerajinan limbah, dengan puluhan juta uang sudah diinvestasikan. Ternyata bisnis tersebut belum menjanjikan untuk dikembangkan di Kalbar. “Kuliner tetap jalan, tetapi usaha tersebut belum berkembang. Pemasarannya susah, dan Kalbar bukan daerah pariwisata. Orderan ada tetap datar, sementara saya menggaji karyawan cukup besar. Bisnis tidak boleh menunggu,” ucapnya.

Tahun 2010, dia melihat batik memiliki peluang yang cukup besar. Bersama sang suami yang memiliki kemampuan menggambar, dia pun mengembangkan usaha ini. “Sejak itu sampai sekarang saya punya usaha batik corak Kalbar. Bahkan anak didik suami saya menang nomor di lomba batik tingkat nasional beberapa tahun lalu,” terangnya.

Akhirnya, lanjut dia bisnis batik dan kuliner berjalan dengan baik. Meskipun orderan baru skala provinsi. “Untuk batik pernah skala nasional, orang dari Jogja yang pesan batik corak Kalbar ini. Kita juga buka harga tidak jauh beda dari Jogja. Sekarang saya sudah menyenangi kedua usaha ini,” pungkasnya. **

Berita Terkait