Bersin-Bersin, Flu atau Rhinitis?

Bersin-Bersin, Flu atau Rhinitis?

  Jumat, 14 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

Sering bersin-bersin dan hidung meler? Gejala ini bisa dikarenakan mengalami influenza. Tetapi perlu diwaspadai,  jika tak kunjung sembuh. Sebab, bisa saja kondisi tersebut dikarenakan 

Rhinitis. Rhinitis dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk saat tidur.

Oleh : Marsita Riandini

Hidung menjadi bagian penting dalam tubuh manusia. Sebagai jalan masuknya udara menuju paru-paru, kondisi hidung harus dalam kondisi sehat. Lantas bagaimana jika hidung terus berair, gatal, dan selalu bersin?

Dr. Eva Nurfarihah, Sp. THT-KL, M. Kes mengatakan hidung terus berair, gatal, dan bersin-bersin bisa merupakan bagian dari gejala rhinitis. Rhinitis adalah peradangan pada lapisan mukosa hidung yang disebabkan gejala alergi atau bukan dikarenakan alergi (non-alergi). Rhinitis alergi biasanya terjadi ketika alergen tertentu yang mudah terbawa oleh udara terhirup oleh hidung. Misalnya debu, serbuk bunga, bulu binatang, dan sebagainya. 

Rhinitis dapat berdampak buruk pada kualitas hidup penderitanya. “Rhinitis yang dialami dapat mengganggu kerja, proses belajar, dan bahkan sampai dapat mengganggu tidur,” jelas dokter di Rumah Sakit Sultan Syarif Muhammad Alkadrie ini. 

Gejala rhinitis diantaranya hidung berair, tersumbat, gatal, dan bersin yang berulang. Umumnya gejala timbul pada pagi hari atau malam hari. Gejala lainnya bisa dilihat pada mata, seperti mata merah, gatal dan berair. 

“Ada pula disertai batuk, tenggorokan gatal, gangguan konsentrasi, hingga gangguan tidur. Bahkan pada penderita asma dapat disertai dengan sesak,” ungkap Eva. 

Rhinitis dapat diderita anak-anak hingga dewasa.  Pada anak-anak dapat ditemukan tanda khas bayangan gelap di bawah mata (allergic shiner), sering menggosok-gosok hidung dengan punggung tangan (alergi salute), dan gambaran garis melintang di dorsum hidung (allergic crease). 

“Pada rongga hidung mukosa edema atau membengkak, warnanya pucat, disertai sekret yang encer banyak dan bening,” kata Eva. 

Rhinitis alergi ada yang terjadi secara musiman di luar negeri atau biasa dikenal dengan istilah seasonal allergic rhinitis. Biasanya terjadi pada musim-musim tertentu. Misalnya, saat musim semi. “Saat musim semi banyak tanaman yang mengeluarkan serbuk sari sehingga terbawa terbang oleh angin dan terhirup oleh hidung,” ujar Eva.

Ada juga yang terjadi sepanjang tahun atau dikenal dengan istilah perrenial allergic rhinitis. Biasanya disebabkan debu, tungau, spora jamur, kecoa, bulu binatang kucing, anjing ayam, serbuk tepung, bau-bauan tertentu, dan rokok.

Sedangkan untuk rhinitis non-alergi bukan dikarenakan faktor alergi. “Misalnya karena hormonal saat hamil, pada usia lanjut, atau  karena minum oba, meskipun gejalanya sama seperti gejala rhinitis alergi,” terangnya. 

Eva menjelaskan saat ini dilaporkan bahwa 40 persen dari populasi dunia mengalami rhinitis alergi. Hasil penelitian tugas akhir mahasiswa kedokteran Untan dan dirinya juga menunjukkan hasil kejadian rhinitis alergi di salah satu sekolah di Pontianak cukup besar. 

“Dari penelitian saya dan mahasiswa kedokteran Untan pada bulan Maret 2016 di 10 SMP di Kota Pontianak menunjukkan angka kejadian rhinitis alergi ini cukup tinggi yakni mencapai 38 persen,” tutur Eva.

Hasil tersebut juga menunjukkan kejadian ini lebih besar dibanding kota besar seperti Jakarta dan Bandung. “Di kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Semarang berkisar 20 persen saja,” jelasnya. **

Berita Terkait