Bersihkan Habitat Mangrove dari Sampah Plastik

Bersihkan Habitat Mangrove dari Sampah Plastik

  Rabu, 12 Oktober 2016 09:30
TANAM: Sejumlah aktivis lingkungan saat melakukan penanaman mangrove di Kelurahan Kuala, Kecamatan Singkawang Barat. ISTIMEWA

Berita Terkait

TINGGINYA tingkat abrasi yang menggerus sebagian pantai di wilayah Singkawang, sejumlah aktivis lingkungan bersama masyarakat melakukan penanaman mangrove dan pembersihan habitat mangrove dari sampah plastik. 

*****

KEGIATAN yang dilaksanakan di Kelurahan Kuala, Kecamatan Singkawang Barat itu setidaknya diikuti 200 peserta yang terdiri dari SKPD terkait, Lembaga Konservasi, Komunitas pemuda, Pelajar dan masyarakat setempat. 

Ketua Inspirasi Kreatifitas Biak Singkawang (IKBS), Akhmad Maulana menuturkan, selama ini IKBS lebih banyak bergerak dibidang sosial. Namun sejak peringatan Hari Bumi, dimana saat itu IKBS bersama WWF Indonesia, Pemerintah Kota Singkawang dan komunitas pemuda sekota Singkawang melakukan penanaman mangrove dan pohon lainnya sejumlah 1.350 bibit, kemudian dirasa perlu untuk melanjutkan momentum tersebut dengan tetap mengusung tema yang sama, “Kita Peduli, Kita Beraksi”

“Dari pantauan yang kami lakukan, kondisi hutan mangrove di pesisir Kuala Singkawang Barat cukup memprihatinkan, ditambah banyak sekali sampah plastik yang terperangkap di kawasan tersebut, kami berharap, kawasan mangrove Kuala dapat menjadi destinasi wisata untuk kepentingan pendidikan di kota Singkawang,” paparnya. 

Penanaman kali ini melibatkan lebih banyak pihak, diantaranya WWF-Indonesia, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Kalimantan Barat, Dinas Kebersihan Kota Singkawang, Kepolisian Sektor Singkawang Barat, Komunitas Cosplay, She Slay, WAFF, Beatbox, Mulsic, Kampus Akademi Komunitas, Mahasiswa STKIP dan STIT, Sispala Camar dan Gudep Panji SMA Negri 1 Singkawang serta masyarakat Kuala Singkawang. 

Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Kalimantan Barat, Natalia Karyawati, mengapresiasi terobosan yang dilakukan IKBS, menggerakkan komunitas pemuda untuk peduli akan lingkungan sekitar dengan melakukan penanaman serta pembersihan dikawasan mangrove pesisir kota Singkawang.

“Kegiatan ini merupakan wujud nyata dalam merealisasikan butir-butir dalam unsur sapta pesona untuk meningkatkan sadar wisata bagi pengembangan wisata berbasis masyarakat,” paparnya.

Menurut Natalia, destinasi wisata berbasis mangrove masih minim tersedia di Kalimantan Barat, padahal potensi yang tersedia cukup besar. Setelah Kubu Raya dan Mempawah, kami berharap Singkawang dapat berkembang menjadi salah satu destinasi wisata mangrove. 

“IKBS dapat menjadi pelopor pengembangan destinasi wisata mangrove di Kota Singkawang, dengan perencanaan pengelolaan yang baik, sangat memungkinkan kawasan kuala dapat berkembang menjadi salah satu destinasi wisata mangrove ke depan sesuai dengan target Sapta Pesona Kalbar,” lanjutnya. 

Sementara itu, Program Manajer WWF Indonesia Kalimantan Barat, Albertus Tjiu, turut hadir dalam acara ini menyatakan bahwa WWF Indonesia sangat mendukung upaya penyelamatan kawasan mangrove pesisirutara Kalimantan Barat. Hal ini sinergi dengan strategi WWF untuk mendorong penyelamatan, pelestarian dan pengelolaan kawasan perisai hijau Kalbar secara multipihak. “Ide untuk menggerakkan komunitas pemuda dalam restorasi dan pembersihan kawasan mangrove, adalah sesuatu yang perlu kita apresiasi dengan baik, sehingga perlu didukung oleh lebih banyak pihak,” paparnya. 

“Kami berharap, Penanaman 1.000 bibit mangrove kali ini, yang merupakan kegiatan kedua bersama IKBS setelah pada peringatan Hari Bumi dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pesisir Kuala Singkawang, serta dapat menumbuhkan kesadaran warga akan pentingnya mangrove bagi kehidupan pesisir,” jelasnya. 

“WWF juga mendorong terbangunnya jejaring komunitas mangrove di pesisir utara kalbar, dengan mengumpulkan kelompok-kelompok penggiat mangrove dalam sebuah wadah diskusi untuk pengelolaan dan pengembangan kawasan mangrove,” lanjutnya.

Sebagai kota destinasi wisata, Singkawang diharapkan mampu meningkatkan pengelolaan kawasan, termasuk didalamnya mangrove. Peningkatan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap kawasan pesisir, menjadi modal utama dalam pengembangan wisata di kawasan mangrove. 

“Hari Bumi Sedunia” yang diperingati setiap tahun pada tanggal 22 April, diharapkan dapat menjadi sebuah momentum yang tepat untuk terus mengkampanyekan lingkungan hidup. Sebagai upaya untuk memberikan dukungan yang berdampak positif dalam pembangunan kota dengan mensinergikan peran masyarakat, pemuda serta pemerintah kota Singkawang. (arf)

Berita Terkait