Bersahabat dengan Alam

Bersahabat dengan Alam

  Jumat, 25 March 2016 13:44
BERSAHABAT: Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sanggau, Yohanes Ontot dalam sebuah upacara dalam Musdat Dayak Tobag ke-X di Benua Mangku Kamit Dusun Temurak Desa Meliau Hilir mengajak jaga kelestarian alam. SUGENG/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

SANGGAU – Masyarakat Dayak diminta dapat kembali bersahabat dengan alam sebagai ciptaan Tuhan. Belakangan, kondisinya tidak seperti dulu lagi. Maka harus ada sikap kepedulian yang tinggi. Demikian diungkap Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Sanggau, Yohanes Ontot.

“Budaya harus tetap dipelihara dan dilestarikan agar tidak punah. Tidak ada yang bisa menghargai adat istiadat kita sendiri kecuali orang dayak sendiri,” tegasnya saat membuka acara Musdat Dayak Tobag ke-X di Benua Mangku Kamit Dusun Temurak Desa Meliau Hilir.

Menurutnya, penerapan adat istiadat harus sesuai dengan perkembangan zaman. Yang sudah tidak sesuai dengan era globalisisi ini harus direvisi. Namun, bukan berarti menghilangkan makna aslinya.

Musdat, kata dia, dapat digunakan untuk melakukan revisi keputusan dan kebijakan adat yang sudah tidak bisa diterapkan lagi. “Zaman dulu orang tidak boleh berduaan dengan lawan jenis, ketahuan warga kampung langsung kena adat. Sekarang, bukan tidak cocok lagi. Tetapi konteksnya sudah berkembang luas,” jelasnya.

Dia mencontohkan, misalnya ada seorang wanita datang ke kampung tertentu ingin menemui kepala desa atau pejabat lainnya. Kemudian ada warga yang melihat dan diberikan sanksi adat kepada mereka dengan alasan tertangkap tangan sedang berduaan. “Padahal mereka hanya berurusan masalah pekerjaan. Ternyata si wanita itu seorang staf kantor yang minta tanda tangan. Konteksnya sudah berbeda,” terangnya belum lama ini.

Sementara itu, Ketua DAD Meliau, Tang mengatakan nilai adat harus standar. Dalam arti tidak boleh mengambil keputusan diluar keputusan yang sudah disepakati. Tang juga memaparkan 3 poin yang masih diterapkan adat Dayak Tobag (Toba, Tayan, dan Meliau) yaitu Sapu meja.

 “Sapu meja merupakan penentuan biaya perkara, setiap petugas adat menyebutkan setiap rial ada babinya, hasil putusan yang berupa babi tersebut akan dibagi kepada petugas adat dan dilanjutkan makan bersama,” ujarnya.

Dia berpesan agar masyarakat berhati-hati dengan preman adat yang dapat merusak nilai adat. “Zaman sekarang banyak preman adat berkeliaran, jangan sampai kita berurusan dengan mereka,” tegasnya. (sgg)

Berita Terkait