Bermula Menulis Pengalaman Ikut Ujian Paket A

Bermula Menulis Pengalaman Ikut Ujian Paket A

  Jumat, 26 Agustus 2016 09:30
TELAT SEKOLAH: Aswan menunjukkan dua buku kumpulan cerpennya. Dia membuktikan bahwa anak TKI juga bisa berprestasi. Hilmi Setiawan/Jawa Pos

Berita Terkait

Menyandang status anak tenaga kerja Indonesia (TKI) di Sabah, Malaysia, tak membuat Aswan minder. Justru sebaliknya, dia ingin mengubah persepsi orang bahwa anak TKI juga bisa berprestasi. Dan dia telah merintisnya. 

M. HILMI SETIAWAN, Tangerang

Menjadi seorang anak TKI di Malaysia, tinggal di tengah perkebunan sawit yang jauh dari kota raya, tidaklah mudah. Hidupku bagaikan terkurung dari dunia luar. Tidak bisa melihat dengan jelas, hanya sebatas melirik. Kata orang, aku anak perantau yang tidak kenal akan negeri sendiri.

Itulah petikan kalimat dalam salah satu cerpen di buku kumpulan cerpen berjudul Setelah Gerimis (terbitan Pustaka Kata, 2015) karya Hikayat Ashwan Sha alias Aswan. Ya, dalam buku-buku karyanya, Aswan menggunakan nama pena itu. Katanya, nama tersebut lebih puitis.

Nama Hikayat itu diambil dari buku hikayat yang berisi cerita-cerita Indonesia tempo dulu. Buku tersebut dia baca waktu bersekolah di SMP Terbuka Community Learning Center (CLC) Pontian Fico, Sabah. ”Sementara Sha itu adalah akhiran nama yang baik,” katanya saat ditemui di asrama Permata Insani Islamic School, Desa Sindangsari, Kecamatan Pasarkemis, Kabupaten Tangerang, Selasa (23/8). 

Aswan merupakan anak ketiga di antara delapan bersaudara putra pasangan Amir bin Ten Ratu dan Mardiana, TKI asal Bone, Sulawesi Selatan, yang merantau ke Sabah. Sehari-hari Amir menjadi buruh di kebun kelapa sawit, sedangkan istrinya di rumah. Aswan lahir di tengah perkebunan sawit itu. 

Aswan bisa masuk SMA Permata Insani Islamic School setelah lolos seleksi beasiswa dari pemerintah. Dia tercatat sebagai anak TKI berprestasi. Saat ini Aswan duduk di kelas XII. 

Kamar Aswan di asrama berlantai dua tersebut berisi tiga set ranjang susun. Setiap kamar diisi enam siswa. Ranjang Aswan berada paling pojok. Di sudut kasurnya ada boneka beruang putih yang cukup besar. ”Itu boneka teman saya. Karena ditinggal, saya yang merawat,” kata Aswan, lantas tersenyum.

Selama bersekolah di Tangerang, Aswan tidak pernah meminta uang ke orang tuanya. Karena itu, dia harus pandai-pandai menggunakan uang saku beasiswa bulanannya Rp 300 ribu. Bahkan, kalau memungkinkan, ada yang ditabung agar bisa untuk membeli tiket pesawat PP Jakarta–Kinabalu. Setiap Lebaran, dia memang ”mudik” ke Sabah untuk menjenguk orang tua dan saudara-saudaranya.

Untuk menambah uang saku, Aswan tidak segan-segan berjualan makanan ringan di sekolah. Makanan ringan dia jajakan di kelas-kelas. Dia tidak pernah malu. ”Dari anak ladang sekarang sekolah di Tangerang, itu saya sudah bersyukur,” ucap dia.

Hebatnya, di tengah keterbatasan ekonomi dan keprihatinan hidup, Aswan tumbuh menjadi anak muda yang mandiri dan kreatif. Bahkan, dia tergolong remaja berprestasi. Khususnya di bidang sastra. Hingga kini sudah sembilan buku dia lahirkan. Dua buku kumpulan cerpen, tujuh lainnya antologi puisi. Ada yang karya tunggal. Ada yang bersama teman-teman sesama penulis remaja. 

Buku perdananya, Setelah Gerimis (2015), berisi kumpulan cerpen yang dia tulis sejak masih duduk di SMP Terbuka CLC Sabah. Sedangkan buku kedua Merantau di Negeri Sendiri (2016) berisi antologi cerpen bersama empat teman sesama anak TKI yang bersekolah di Permata Insani Islamic School. Mereka adalah Jamilah, Emy Hasmidar binti Budiman, Mohd. Saenuddin, dan Nurliliana Binti Ibrahim.

Aswan mulai menekuni dunia tulis-menulis ketika duduk di kelas VII SMP. Saat itu usianya sudah 18 tahun. Sudah terlalu tua untuk ukuran anak SMP. Semestinya seumur itu sudah kelas XII SMA. 

Maklum, di tengah hutan kebun sawit, tak banyak anak yang mau bersekolah. Kapasitas sekolah yang ada juga terbatas. Karena itu, kalau toh ada yang bersekolah, rata-rata umurnya sudah terlalu tua. 

Saat itu Aswan diberi tugas oleh gurunya, Haris Cempaka, yang berasal dari Tasikmalaya, untuk membuat karya tulis. Tulisan apa saja. Aswan memilih menulis pengalaman mengikuti ujian paket A. Tulisannya agak dramatis karena sebenarnya dia dipaksa mengikuti ujian kelulusan tingkat SD tersebut. Apalagi, kala itu usianya sudah 17 tahun.

Menurut cerita Aswan, sebenarnya yang ditawari untuk mengikuti ujian paket A adalah Asma, adiknya. Namun, lantaran lokasi ujian jauh, dia ditugasi orang tuanya untuk mengantar Asma. 

Sesampai di lokasi, ternyata bukan hanya Asma yang ikut ujian. Aswan juga dirayu guru perintis sekolah terbuka Dedi Dermawan untuk mengikuti ujian itu. Dan, setelah diyakinkan, Aswan pun bersedia menggarap soal-soal ujian paket A. Padahal, dia sama sekali tidak belajar seperti adiknya. Sehari-hari dia ikut bapaknya bekerja di kebun sawit. Apalagi, dia sudah terpengaruh anak-anak TKI di sana yang enggan bersekolah. 

”Kata mereka, buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh nanti juga bekerja di ladang seperti orang tuamu,” kenang Aswan.

Tulisan soal pengalaman mengikuti ujian paket A itu menuai pujian Haris Cempaka, sang guru. Tapi, Aswan menanggapinya biasa-biasa saja. ”Saya tahu itu pujian untuk menyenangkan hati saya saja,” ujarnya merendah. 

Aswan merasa tulisannya saat itu jelek. Penggunaan bahasa Melayu-nya masih kental. Padahal, saat itu pelajaran bahasa Indonesia. Dia lantas menjadikan pujian tersebut pemicu semangat untuk menekuni dunia tulis-menulis. Dia tidak mau kalah dengan teman-temannya yang memiliki minat terhadap pelajaran tertentu. Ada yang jago matematika, ilmu pengetahuan alam, dan bahasa Inggris.

Semangatnya itu dia tunjukkan di tengah kesibukan membantu sang ayah bekerja di kebun sawit. Di kantong celananya selalu ada buku dan pena. Nah, saat jam istirahat, Aswan menyempatkan diri untuk menuliskan sesuatu di buku. 

Kumpulan tulisan yang dibuat sambil bekerja itu dikumpulkannya dengan rapi. Baru ketika ada kesempatan berkunjung ke rumah gurunya, Haris, dia mengetiknya ulang di laptop.

Beranjak kelas VIII SMP, Aswan ditawari gurunya untuk ikut lomba mengarang yang diselenggarakan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sabah. Selama membuat tulisan untuk lomba tersebut, Aswan dibimbing Diah Rachmawati, guru baru yang datang dari Surabaya. Terinspirasi kisah hidupnya, Aswan membuat tulisan berjudul Anak Pemimpi.

Tak diduga, karya Aswan ditetapkan sebagai juara. Dia mengaku grogi saat harus tampil di panggung untuk menerima piala. ”Tapi, saya juga bangga karena ini pengalaman saya pertama ikut lomba dan menang,” ungkapnya. 

Prestasi Aswan berlanjut. Saat ujian kelulusan SMP, nilai yang dicapai Aswan termasuk tinggi. Bahkan, dengan nilainya itu, dia dinyatakan lolos seleksi beasiswa sekolah di Permata Insani Islamic School Tangerang.

Ketika berangkat untuk bersekolah di Indonesia itu, Aswan membawa serta seluruh karya tulisnya. Dia bertekad karyanya harus menjadi sebuah buku. Akhirnya tekad tersebut terwujud. Lahirlah buku perdana kumpulan cerpen karya Aswan berjudul Setelah Gerimis. Sebagian buku itu dia kirim ke kampung halaman di Sabah. Buku tersebut lantas menjadi koleksi sekolah-sekolah Indonesia di sana.

Nah, saat pulang Lebaran lalu, Aswan diberi tahu bahwa penghuni kompleks perumahan buruh sawit sempat heboh. Pasalnya, sang bos perusahaan mengumumkan bahwa Aswan telah sukses menulis sebuah buku. ”Konon, pengumuman itu dilakukan di tengah-tengah permukiman. Semua pekerja berkumpul saat itu,” kisah Aswan.

Mendengar cerita tersebut, Aswan sangat senang. Dia mengatakan, terbitnya buku itu seakan menjadi jawaban kepada orang-orang yang kerap meremehkan kemampuan anak TKI buruh sawit. 

Kini Aswan duduk di kelas XII SMA. Tahun depan dia harus menghadapi ujian nasional (unas). Maka, dia lebih fokus belajar. Aktivitasnya di dunia tulis-menulis mulai dikurangi. Siswa yang dua kali terpilih sebagai ketua umum majelis perwakilan kelas (MPK) itu ingin mendapatkan nilai unas setinggi-tingginya. Dia ingin melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. ”Mungkin ketinggian ya? Tapi tidak apa-apa. Saya ingin memperdalam ilmu menulis cerpen dan puisi,” celotehnya diikuti tawa. (*/c9/ari)

 

Berita Terkait