Bermula dari Takjil di Depan Kos

Bermula dari Takjil di Depan Kos

  Selasa, 28 June 2016 09:04
RAMAI: kedai Chaikue Jinbu dan Ngopilok di Bandung, tengah ramai dikunjungi pelanggan yang mencicipi cai kwe dan kopi khas Pontianak. ISTIMEWA

Berita Terkait

 
Geliat bisnis mahasiswa di kota perantauan juga menghinggapi dua perempuan asal Pontianak ini. Mereka berkeyakinan membawa makanan khas kota tercintanya ke kota perantauan, Bandung.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

PERTAMA kali niatan mereka muncul untuk membuat sebuah usaha dimulai ketika suatu hari mereka mencoba membuat salah satu makanan khas Pontianak, Chai kwe. “Awalnya asal masak saja karena rindu,” kata Andin (24) pemilik bisnis Chaikue Jinbu kepada Pontianak Post. “Chai kwe buatan pertama kami pun masih sering gagal,” tambahnya lagi.

Ia menceritakan, pada Ramadan 2014 silam ia dan Widya, teman karibnya sama-sama berniat membuat salah satu makanan favorit warga Pontianak itu. Alhasil, dua mahasiswa lulusan universitas di Bandung itu berhasil memperkenalkan chai kwe, bakwan, dan lidah buaya pada teman-temannya yang asli Bandung. “Itu salah satu kepuasannya,” kata Andin.

Keinginan membuat chai kwe itu ia teruskan hingga berhasil mendapatkan resep paling pas. Kala itu tidak ada niatan pasti ia dan temannya Widya ingin membangun bisnis kuliner tersebut. Namun dorongan teman-teman asal Pontianak, barulah mereka yakin memulai usahanya. “Waktu itu, kami hanya berjualan dengan sistem takeaway,” katanya.

Pada pertengahan Ramadan 2014 mereka mulai berjualan chai kwe di depan kos-kosan mereka. “Untungnya di depan kos ada kedai ibu kos yang tidak terpakai,” katanya lagi.

Dari sana, mereka mulai menjajakan chai kwe sebagai menu berbuka puasa atau biasa disebut takjil. Sambutan dari teman-teman dan warga sekitar rumah kos sungguh luar biasa. “Kami waktu itu sampai harus membatasi produksi. Karena hanya berdua Widya, kami pun membatasi produksi hingga 200 chai kwe perharinya,” lanjut Andin.

Produksi pun dimulai dari pagi-pagi sekali. Mulai dari belanja dan membuat isian chai kwe dan kulitnya. “Kira-kira jam delapan pagi kami sudah harus siap,” katanya. Setelah itu chai kwe siap kukus itu disimpan. Sorenya, chai kwe itu dikukus, agar para pelanggan dapat mencicipi kesegaran chai kwe tersebut.

Banyaknya pesanan, membuat para pelanggan harus mengantre. ”Misalnya saja, jika ia pesan Rabu, maka akan mendapatkannya hari Kamis,” ucapnya. Berjalan dua minggu, mereka sudah bisa menghasilkan untung bersih hingga Rp1.200.000.

Beberapa lama berjualan di kedai depan kosnya, Andin dan Widya pun terpaksa pindah ke sebuah kios, juga tak jauh dari rumah kos mereka. Membutuhkan modal besar hingga belasan juta rupiah mereka memberanikan diri mengambil pangsa pasar yang lebih besar pula. Rencana usaha pun semakin besar dengan adanya cost tambahan, yakni dua pegawai yang ia rekrut untuk membantunya memperoduksi chai kwe.

“Kira-kira Februari 2015, kami pun pindah ke kios yang baru. Waktu itu bekerja sama dengan teman yang ingin membuka warung kopi khas Pontianak juga,” katanya. Sedikit banyak, modal awal pun dapat dipangkas sedemikian rupa. Belum lagi lokasinya yang berada di komplek kios membuat nama kedai chai kwe mereka semakin dikenal warga asli Bandung.

Ia menceritakan, Tanggapan kios-kios tetangga dengan kedai chai kwe pun bermacam ragam. “Ada yang penasaran dan langsung memesan, ada juga yang melihat-lihat dan menanyakan tentang makanan itu terlebih dahulu,” katanya. Kebanyakan mereka tidak biasa mengonsumsi makanan khas Pontianak satu ini.

Perporsinya, chai kwe itu ia pasarkan dengan harga Rp15.000 satu porsinya terdapat sepuluh potong chai kwe kukus aneka rasa. Sedang untuk bakwan, ia banderol dengan harga Rp8.000 perporsinya.

Menjalankan bisnis ini pun membuat mereka tak lagi membebani orangtuanya. Mereka mengaku sudah bisa membiayai hidup sehari-hari di Bandung dan biaya sewa kos yang lumayan besar.(*)

Berita Terkait