Berkunjung ke Bumi Arwana di Nanga Suhaid

Berkunjung ke Bumi Arwana di Nanga Suhaid

  Rabu, 13 April 2016 09:00
BUMI ARWANA: Nanga Suhaid, salah satu desa di Kapuas Hulu yang terkenal sebagai penghasil ikan Arwana terbesar di Kalimantan Barat. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Nanga Suhaid merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu. Suhaid terkenal sebagai penghasil ikan Arwana atau Silok terbesar di Kalimantan Barat. Maklum, hampir setiap rumah memiliki keramba sebagai tempat penangkaran ikan Arwana. 

ARIEF NUGROHO, Nanga Suhaid

Setibanya kami di Nanga Suhaid, Senin (11/4) sore, mata saya tertuju pada setiap rumah yang berada di pinggiran Sungai Kapuas itu. Maklum, Nanga Suhaid merupakan salah satu dari desa yang terletak di pesisir sungai Kapuas. 

Layaknya rumah-rumah di pinggiran Sungai Kapuas, rumah di Suhaid tidak ada yang istimewa. Keramba ikan ada di mana-mana. Namun yang membuat saya heran, keramba ikan itu bukan keramba ikan biasa melainkan keramba ikan Arwana atau ikan Silok.

Di Nanga Suhaid, penduduk rata-rata memiliki keramba sebagai tempat penangkaran ikan Arwana. Tak heran jika Nanga Suhaid dijuluki denga Bumi Arwana.

Penangkaran ikan Arwana milik masyarakat Suhaid ini bervariasi, ada yang kecil ada juga yang besar. Kolam penangkaran silok biasanya dibangun di sekitar tempat tinggal, seperti sebelah rumah ataupun di belakang rumah. 

Mereka menggunakan air sungai yang bersumber dari kawasan hutan untuk mengisi kolam. Penggunaan air sungai ini bukan tak beralasan. Hal ini dikarenakan habitat asli ikan arwana berasal dari sungai tersebut. Selain itu kawasan sungai juga menjadi ladang mata pencaharian dan juga menjadi jalur transportasi masyarakat Suhaid.

Jika kita ke Suhaid, maka keramba-keramba itu akan menjadi pemandangan sehari-hari.

Saya pun penasaran ingin membuktikan kebenaran isi keramba itu. Dengan menggunakan motor air, saya menyeberang sungai. Kebetulan di situ ada seorang laki-laki yang sedang duduk di atas keramba. “Sedang apa pak?” Tanya saya kepada laki-laki itu. “Memberi pakan ikan,” jawabnya.

“Ikan apa pak, kok umpannya dipotong-potong?” Tanya saya lagi. “Anakan Arwana,” jawabnya.

Menurutnya, selain bermatapencaharian sebagai nelayan karena letak geografisnya berada di pesisir Kapuas, masyarakat di Suhaid juga bermatapencaharian sebagai penangkar Arwana. 

Nanga Suhaid merupakan daerah terbesar penangkaran arwana jenis super red. Para penangkar arwana bisa dibilang berpangkat kopral bergaji jendral, karena dalam setahun para penangkar tersebut bisa menghasilkan ratusan juta rupiah dari hasil penjualan anak arwana ke Pontianak yang diekspor ke China dan Jepang. Hal inilah yang mendorong laju pertumbuhan ekonomi di Nanga Suhaid.

Dalam menghadapi laju pertumbuhan pembangunan, dan derasnya arus budaya kota, Nanga Suhaid tetaplah Nanga Suhaid yang ramah, kekeluargaan, dan religius. Nilai-nilai inilah yang terus dipertahankan para penghuninya sebagai benteng terhadap hantaman perkembangan zaman.

Nanga Suhaid sendiri merupakan bagian dari rumpun melayu yang ada di Kalbar. Karena bersuku melayu, otomatis penduduknya mayoritas menganut agama Islam. Adat dan budaya mereka hampir sama dengan rumpun melayu pada umumnya, khususnya rumpun melayu yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu.

Nanga Suhaid adalah gabungan dari beberapa desa yang ada di Kecamatan Suhaid yang telah dilakukan pemekaran. Terlepas dari pemekaran desa, desa–desa tersebut tetaplah menjadi bagian dari Nanga Suhaid itu sendiri.

Sama halnya dengan desa lain, Nanga Suhaid juga dibagi menjadi beberapa bagian/sub yang lebih kecil lagi yang disebut dengan istilah kampung. Kampung ini terdiri dari : Desa Baru, Kampung Masjid, Kampung Keraton, Tanjung Harapan, Tanjung Kapuas, Madang (Madang dibagi lagi menjadi Hilir, Tengah, dan Hulu atau Kedaung).

Setiap nama kampung tersebut memiliki makna tertentu. Salah satunya yaitu Kampung Keraton. Kampung tersebut diberi nama Keraton karena di tempat tersebut merupakan tempat tinggal atau istana dari raja Kerajaan Suhaid yang merupakan lambang/simbol dari kejayaan Suhaid tempo dulu. Dan sampai sekarang, ada beberapa peninggalan yang masih bisa dilihat termasuk peta wilayah kekuasaan Keraton Suhaid.

Karena letak Nanga Suhaid yang berada di pesisir Sungai Kapuas, maka sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Nelayan-nelayan tersebut tersebar dari Nanga Suhaid sampai Sungai Tawang.

Sungai Tawang merupakan anak dari Sungai Kapuas yang bermuara di Nanga Suhaid. Sepanjang Sungai Tawang terhambar puluhan anak sungai dan danau-danau dari ukuran kecil sampai besar, termasuk Taman Nasional Danau Sentarum.

Karena memiliki banyak anak sungai dan danau, Sungai Tawang merupakan pusat (sentral) bagi para nelayan yang ada di Kecamatan Suhaid, Kecamatan Selimbau dan sekitarnya.
Dalam setahun lebih dari ratusan ton ikan yang dihasilkan nelayan dari sungai ini. Hal inilah yang membuat para nelayan akhirnya membangun pemukiman sementara di wilayah pesisir Sungai Tawang. 

Sayangnya, saat ini ekosistem di sekitar Nanga Suhaid sampai Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) terganggu. Hal ini diindikasikan makin maraknya ekspansi perkebunan kelapa sawit di sekitar TNDS. Pemanfaatan lingkungan, baik kawasan sungai maupun hutan masih cukup intens dilakukan masyarakat Suhaid. 

Kehidupan masyarakat masih sangat bergantung pada alam, sehingga kelestarian kawasan sungai dan  tersebut perlu dijaga oleh seluruh masyarakat Suhaid agar dapat terus dimanfaatkan hingga di masa yang akan datang. (bersambung)

 

Liputan Khusus: 

Berita Terkait