Berkomunikasi dengan Bawahan

Berkomunikasi dengan Bawahan

  Senin, 28 March 2016 10:04

Berita Terkait

Salah satu keterampilan terpenting dari sebuah kepemimpinan, adalah kemampuan pemimpin untuk berkomunikasi dengan bawahannya. Tujuan dari komunikasi adalah bisa menyampaikan dan mengajak orang lain untuk mengerti apa yang disampaikan dalam mencapai tujuan. Berkomunikasi berarti berusaha untuk mencapai kesamaan makna, berbagi informasi, gagasan atau sikap seseorang kepada orang lain. 

Kendala utama dalam berkomunikasi adalah seringkali mempunyai makna yang berbeda terhadap hal yang sama, itu karena setiap individu memiliki persepsi yang berbeda. Demikian pula yang harus dipahami oleh atasan saat berbicara dengan bawahannya. Demikian yang disampaikan oleh Agus Handini, M. Psi, Psikolog kepada For Her.

Pemahaman seseorang, lanjut Agus juga tidak sama. Ada yang cukup dilihat saja sudah memahami maksud atasan, ada yang harus berkali-kali diperintahkan. Ada pula yang sekali dibicarakan langsung paham. “Tidak semua cara bisa digunakan untuk semua orang. Kalau bisa memahami, maka dapat diterima secara efektif. Terutama saat rapat, ataupun acara formal lainnya,” tutur dia. 

Tak hanya sekadar berbicara, tetapi pemimpin harus bisa memahami karakteristik masing-masing karyawan. “Dalam berkomunikasi dengan bawahan itu tidak bisa disamaratakan antara karyawan A dengan karyawan B. Sama seperti ketika orang memperlakukan anak yang satu dengan yang lainnya. Tentu tidak bisa sama. Pemimpin harus bisa memahami karakteristik karyawan dengan baik, agar komunikasi menjadi efektif,” kata dosen di IAIN Pontianak ini. 

Komunikasi memiliki beberapa fungsi, diantaranya menyampaikan pesan, menghibur, juga mempengaruhi. “Menyampaikan pesan, dan mempengaruhi ini biasanya yang diinginkan dari atasan saat berkomunikasi dengan bawahannya. Bagaimana cara dia mampu berkomunikasi agar bawahannya bisa menjalankan tugas dengan baik,” jelas dia. 

Jika komunikasi yang dilakukan tidak memperhatikan psikologis dari bawahan, sering kali hasilnya tidak sesuai dengan harapan. “Apa yang ingin dirubah malah tak berubah, sebab penerima pesan tidak mampu mencerna apa yang disampaikan dengan baik,” terang Agus. 

Pemimpin adalah penerimaan amanat, begitu juga dengan bawahannya. Menurut Agus semua memiliki tanggungjawab tak hanya sebagai karyawan dalam sebuah perusahaan, tetapi juga kepada Tuhan. “Setiap manusia akan bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya dan manusia akan diperlakukan oleh Tuhan, sebagaimana dia memperlakukan makluk ciptaan Tuhan.Inti dalam berkomunikasi pada prinsipnya adalah pada kemampuan Mendengarkan secara efektif. Hal ini mudah dipelajari jika emphati dikedepankan,” ulasnya. 

Agus mencontohkan ketika seseorang menyampaikan pesan dengan nada yang marah. Tentunya si penerima pesan dalam hal ini bawahan akan menjadi tertekan akibat emosi negatif tersebut. “Kalau sudah tertekan, akan mempengaruhi pemahaman penerima. Itulah sebabnya, saat menyampaikan sesuatu pemimpin harus bisa menyampaikan dengan baik, agar psikologis bawahan itu stabil,” papar Agus.

Kalau menyampaikannya dengan amarah, merasa berkuasa. Maka, lanjut dia jangankan kualitas komunikasi, kuantitas dari komunikasi tersebut saja belum tentu tercerna dengan baik oleh penerima pesan. “Sampaikanlah dengan komunikasi yang tepat,” pungkasnya. 

Berita Terkait