Berkah Agustus Pedagang Bendera

Berkah Agustus Pedagang Bendera

  Rabu, 3 Agustus 2016 09:22
AMBIL PELUANG: Asep (32) saat menata bendera jualannya di depan Fakultas Kehutanan Untan, Jalan Daya Nasional, Pontianak, Senin (1/8) lalu. Memasuki Agustus, ia selalu bersiap meninggalkan rutinitas sehari-harinya dan mulai berjualan bendera. MIFTAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

 
Memasuki bulan Agustus, warga kota akan sangat mudah menemukan bendera dan umbul-umbul terpajang di pingir jalan. Semarak peringatan hari kemerdekaan mulai terlihat. Beberapa pedagang pun ikut ambil bagian, menghiasi pinggir jalan dengan dagangan mereka.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

SETIAP Agustus, sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia untuk menaikkan bendera merah putih di depan rumah. Depan kantor perusahaan dan instansi pemerintah pun tak mau kalah dengan memajang bendera umbul-umbul di pinggir jalan. Semarak peringatan 17 Agustus sudah terasa.

Bendera-bendera yang dinaikkan tersebut seperti pertanda bahwa bulan agustus sudah tiba. Peringatan hari kemerdekaan tinggal sebentar lagi. Masyarakat akan disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk memperingati hari kemerdekaan.

Bagi para penjual bendera dan umbul-umbul, bulan kemerdekaan merupakan bulannya mereka panen untung. Penjual musiman ini selalu datang membawa berbagai ukuran bendera dari beragam warna dan corak yang berbeda. Kehadiran mereka di pinggir jalan juga menjadi penarik mata bagi para pengguna jalan. Bila saatnya sudah tiba, masyarakat pun sudah tahu kapan harus membeli bendera.

Salah seorang penjual bendera dan umbul-umbul, Asep (32), memajang bendera jualannya di depan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjung Pura, Jalan Daya Nasional, Pontianak. Ia memajang dagangan sejak lima hari yang lalu. “Kalau tidak salah, Hari Rabu(28/7) lalu saya membuka lapak di sini,” kata Asep kepada Pontianak Post, Senin (1/8) lalu.

Asep mengaku sudah lima kali Agustus menjual bendera dan umbul-umbul. Menurutnya, bisnis ini sangat menjanjikan untuk diambil peluangnya. Selama lima kali berjualan, dagangannya selalu ludes. Apalagi jika sudah memasuki tanggal 10 Agustus ke atas. Masyarakat akan mulai bergantian mendatangi lapaknya.

Dalam sekali menggelar lapak, ia dapat membawa setengah karung berisi bendera dan umbul-umbul. Setiap tahunnya, ia dapat menghabiskan satu hingga dua karung berisi bendera dan umbul-umbul. “Satu karungnya berisi sekitar 300 – 400 bendera. Kalau habis, biasanya saya akan tambah stok lagi,” katanya.

Satu bendera berukuran 90cm x 60cm ia banderol dengan harga Rp30.000, sedang bendera berukuran 100cm x 80cm dibanderol dengan harga Rp80.000 perlembarnya. “Tapi harganya bisa turun kalau ada yang beli banyak,” katanya lagi.

Bukan hanya pembeli perseorangan, pembeli juga datang dari perusahaan atau instansi pemerintah kepadanya. Hal itu dirasanya sangat menguntungkan karena mereka selalu mengambil bendera dalam jumlah banyak. Diakui Asep, mereka pun seperti sudah tahu kemana harus membeli bendera dan umbul-umbul. Mereka pasti menyasar pedagang sepertinya yang membuka lapak di beberapa tempat strategis di Pontianak.

Namun, tutur Asep, usaha yang dijalankannya ini bukanlah milik Asep seutuhnya. Dia adalah salah seorang penjual yang memiliki bos besar di belakangnya. “Bisa dibilang yang punya modalnya,” jelasnya.

Alhasil, walaupun dalam satu kali musim berjualan bendera, ia bisa mendapatkan omzet kotor Rp10.000.000, ia hanya mendapatkan komisi dari hasil penjualan tersebut. Setelah selesai berjualan, barulah ia menyetor semua keuntungan kepada pemilik usaha atau bosnya. Dari sana, ia akan mendapatkan honor atau komisi beberapa persen dari keuntungan. “Cukuplah buat menghidupi anak dan istri selama dua bulan,” katanya.

Selain Asep, terdapat masih banyak lagi penjual bendera di Pontianak. Salah seorang lagi misalnya, Danu (40) menjajakan dagangannya di depan Rumah Sakit Jiwa Jalan Alianyang, Pontianak. Ia mengaku sudah menggelar lapak sejak Senin (25/7) lalu. Satu minggu berjualan, ia pun mengaku belum mendapatkan untung yang terbilang besar. “Mungkin memang masih belum waktunya membeli bendera,” katanya.

Agustus kali ini merupakan kali ke sepuluhnya berjualan bendera dan umbul-umbul. Sebelumnya ia pernah menggelar lapak di Jalan Prof M Yamin, Kota baru dan di Siantan. Ia mengaku sering berpindah untuk mendapatkan peluang yang lebih bagus dari daerah yang pernah ditempatinya.

Tempat ia berjualan sekarang, merupakan kali keempatnya ia menggelar lapak bendera dan umbul-umbul. Sebagian besar pelanggannya pun berasal dari perusahaan dan instansi pemerintah langganannya. Memasuki bulan Agustus, satu – dua pelanggan lamanya akan menanyakan apakah tahun ini ia menggelar lapak. “Biasanya mereka bertanya di mana saya berjualan,” ungkapnya.

Danu juga mengaku, ia bekerja pada satu orang yang memiliki modal berjualan bendera ini. Diakuinya, ia juga mengetahui Asep. Danu mengatakan, mereka mengambil modal pada satu bos yang sama selama berjualan bendera di Pontianak. “Di sini rata-rata yang berjualan bendera, satu bos semua,” katanya.(*)

Berita Terkait