Berjuang Melintasi Sungai yang Ada Buaya Muara

Berjuang Melintasi Sungai yang Ada Buaya Muara

  Sabtu, 8 Oktober 2016 10:35

Berita Terkait

BAGAN Asam dan Mentuak, dua dusun paling ujung di Kecamatan Toba, Sanggau. Masyarakatnya terus berjuang agar mereka juga bisa menikmati kemerdekaan, sama seperti warga negara Indonesia didaerah lainnya. Dua dusun ini juga berbatasan langsung dengan Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya. Namun, kondisinya masih memprihatinkan.

Jam tiga dini hari pada Selasa (4/10), mengendari kendaraan roda empat ditemani seorang rekan dan Pasi Ter Kodim 1204 Sanggau, Kapten Inf Eko, kami melaju dari Kota Sanggau menuju Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau. Tujuan kali ini adalah Dusun Bagan Asam dan Mentuak yang ada di Desa Bagan Asam, Toba.

Dua dusun ini belum memiliki akses jalan darat untuk menuju ibu kota kecamatan. Selain itu, sejak dua dusun ini ada, mereka juga belum menikmati layanan listrik yang disediakan oleh negara. Masyarakatnya merasa belum merdeka dan masih terisolir dengan kondisi yang ada sampai saat ini.

Menempuh perjalanan selama 6 jam, kami akhirnya sampai di Kota Kecamatan Toba. Dari pusat kota butuh sekira 1 jam perjalanan menuju dermaga kosong-kosong untuk melanjutkan perjalanan ke dua dusun tersebut dengan menggunakan perahu speed atau long boat.

Untuk mencapai dermaga, kami masih bisa menggunakan kendaraan roda empat. Kali ini, kami juga ditemani oleh Kapolsek Toba, Aiptu Sukirman dan dua anggota kepolisian setempat. Agar waktu yang ditempuh tidak terlalu jauh, kami mengambil jalan pintas melalui lokasi penambangan bauksit di PT. Alu Sentosa. Sepanjang perjalanan kami disajikan pemandangan gundukan bauksit di kiri dan kanan jalan.

Lepas dari lokasi penambangan bauksit, kami memilih jalan kebun sawit sebelum akhirnya sampai di Dusun Kemantan, tempat dermaga kosong-kosong berada. Jalur yang kami tempuh ini hanya dapat dilalui saat kering. Jika musim penghujan, jalan akan licin dan sulit dilewati kendaraan.

Tiba di dermaga, jam sudah menunjukkan jam sepuluh siang. Disana Sekretaris Desa Bagan Asam, Dedi Dores telah menunggu kami dan mempersiapkan keberangkatan. Setelah mengambil dokumentasi perjalanan dan membawa barang-barang ke dalam perahu, perjalanan menuju lokasi pun dilanjutkan.

Untungnya, air sungai sedang pasang. Jika tidak, kami harus bertaruh nyawa karena banyaknya buaya muara yang mendiami sungai tersebut. Keberadaan buaya muara di sungai tersebut memang menjadi ancaman. Saat musim kemarau, binatang jenis reptil ini sering terlihat dipinggiran sungai sambil berjemur dan menunggu mangsa.

Kami sedikit lega setelah sekdes memastikan bahwa buaya-buaya tersebut tidak mengganggu manusia. Hal ini dibuktikan-selama ini- tidak ada korban jiwa akibat keganansan buaya yang mendiami sepanjang aliran sungai yang akan kami lewati.

Disepanjang tepian sungai terlihat banyak sekali tumbuh tanaman yang biasa disebut dengan tanaman rasau. Tanaman ini daunnya berbentuk memanjang. Sama persis dengan daun yang biasa digunakan untuk membuat anyaman tikar. Namun, menurut pak sekdes, tanaman yang kami lihat bukanlah yang biasa digunakan untuk kerajinan. Itu hanya tanaman liar yang sejak dulu tumbuh disepanjang pinggiran sungai.

Saya lantas menanyakan kepada pak sekdes, apakah perahu speed seperti ini menjadi satu-satunya akses menuju dua dusun tersebut. Dengan pasti pak sekdes menjawab “Iya,”. Saya membayangkan betapa sulitnya kehidupan masyarakat disana yang sehari-hari hanya bertani dan sesekali mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bukan hanya itu saja, pak sekdes juga menceritakan bahwa satu orang warga harus mengeluarkan uang sebesar Rp200 ribu untuk pulang pergi ke pusat pemerintahan desa yang ada di Mungguk Kemantan. Itu belum lagi jika harus ke ibu kota kecamatannya. Dengan hanya mengandalkan hasil dari bertani jelas ini kesusahan yang butuh diperhatikan oleh pemerintah daerah.

Meski telah mendengar kondisi ini, tidak puas rasanya jika tidak mendengar langsung dari masyarakat setempat. Hal ini tentu saja demi validnya informasi yang akan saya tuliskan sepulang dari dusun tersebut. Sepanjang perjalanan banyak sekali informasi yang saya dapatkan dari pak sekdes mengenai dua dusun ini termasuk kesulitan memperoleh sinyal untuk komunikasi melalui telepon seluler.

Setelah 45 menit menyusuri sungai, saya dan rombongan tiba di Dusun Bagan Asam. Deretan jamban ditepian sungai turut menyambut kedatangan kami. Warga setempat sudah mempersiapkan tempat menginap kami malam ini. Tanpa ragu kami melangkah melewati pinggiran sungai menuju rumah tersebut.

Dirumah milik pak Kubus, warga setempat, saya lantas beristirahat dan ngobrol-ngobrol santai dengan pemilik rumah. Satu-dua jam mengobrol, saya kemudian mohon ijin untuk istirahat sejenak sambil mempersiapkan sejumlah bahan untukwawancara masyarakat.

Saat saya berada disana, kebetulan sekali sedang ada kegiatan TMMD Reguler yang dilaksanakan oleh Tentara Nasional Indonesia. Sejak pagi prajurit dan warga disana sedang melakukan sejumlah kegiatan pembangunan rumah ibadah. Jadi saya tidak sendirian.

Usai beristirahat sejenak, sore harinya saya coba mengunjungi sejumlah rumah warga untuk bersilaturahmi. Masyarakat disini sangat welcome dengan orang-orang baru yang datang ke daerah tersebut. Ini memudahkan saya untuk lebih akrab dan bertanya banyak hal.

Sore itu saya berkunjung ke rumah pak Zul, seorang guru di SMP Negeri 3 Satap Toba. Dia sudah 6 tahun menjadi guru di dusun tersebut. Dia menggambarkan kondisi yang ada disana. Menurutnya, memang jalan darat dan listrik sudah diidamkan masyarakat sejak dusun ini berdiri. Namun belum kunjung terealisasi. Akibatnya, jalur sungai menjadi satu-satunya akses masyarakat.

Begitu juga halnya dengan listrik, kesulitan akan listrik ini membawa kesusahan tersendiri bagi masyarakat dan juga dirinya. Sejauh ini, masyarakat berjuang dengan mesin diesel pribadi mereka. Saat malam, dusun itu biasanya hanya terang dalam satu atau dua jam saja.

Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Julianus Kubus (61). Dia telah 40 tahun tinggal di dusun tersebut, sampai sekarang penerangan sifatnya individu saja menggunakan mesin diesel. Bagi warga yang tidak mampu membeli biasanya menyambung kabel dirumah tetangga. Tetapi ada juga yang tidak mau dan memilih tetap menikmati gelap tanpa cahaya sedikitpun.

Jelang malam, saya menyudahi pembicaraan dan memutuskan untuk pulang ke tempat beristirahat. Bermalam di dusun tersebut membuat saya merasakan langsung bagaimana kehidupan malam disana. Dari pengamatan saya, saat masuk waktu malam, sebagian warga menghidupkan mesin diesel mereka untuk penerangan dan sebagian rumah lainnya tetap terlihat gelap. Disejumlah rumah hanya terlihat cahaya dari emergence lamp dan juga pelita serta lilin. Inilah gambaran yang saya lihat secara langsung di dusun tersebut. Bagi mereka yang menghidupkan mesin diesel biasanya tidak kurang dari 4 jam dan setelahnya dimatikan.

Kondisi ini tidak terlepas dari bahan bakar solar yang digunakan untuk mesin diesel mereka. Di dusun tersebut, harga solar dikisaran Rp10 ribu perliter. Satu liter solar biasanya hanya untuk satu jam saja. Jika menghidupkan mesin diesel selama 4 jam berarti harus mengisi 4 liter solar. Jika dirata-rata 4 liter untuk satu malam, maka selama sebulan masyarakat harus mengeluarkan Rp1,2 juta hanya untuk penerangan.

Jumlah itu dirasakan sangat besar sekali bagi masyarakat yang hanya mengandalkan hasil berkebun karet, berladang dan sesekali mencari ikan. Jumlah itu belum ditambah biaya sehari-hari lainnya. Yang terjadi adalah high cost economy. Ini juga menjadi masalah baru masyarakat disini. Begitulah kira-kira gambaran umum yang ada di dusun Bagan Asam yang saya datangi. Persoalan jalan darat dan listrik serta sinyal ini akhirnya berimbas pada munculnya high cost economy masyarakat.

Masyarakat telah berupaya selama berpuluh-puluh tahun untuk merdeka dari kesulitan mereka. Dan saya percaya bahwa pemerintah kabupaten sanggau akan punya solusi untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di daerah ini. Setelah larut malam, saya memilih istirahat untuk melanjutkan kembali perjalanan ke Dusun Mentuak pagi-pagi sekali esok hari. [*]

 

 

 

 

Berita Terkait