Beri Pencerahan, Panggungkan Asal Muasal "Narsis"

Beri Pencerahan, Panggungkan Asal Muasal "Narsis"

  Senin, 22 Agustus 2016 09:30
FOTO BERSAMA : Sutradara, aktor, pemusik dan kru dalam pertunjukan Narcissus (The Legend of Daffodil) yang digelar di Taman Budaya Kalbar, Sabtu (20/8) malam. SANGGAR SENI PITUNG FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Sanggar Seni Pituah Enggang (Pitung) Pontianak mempersembahkan pertunjukan teater berjudul Narcissus (The Legend of Daffodil) di Taman Budaya Kalbar, 19-20 Agustus 2016. Dalam drama berdurasi sekitar dua jam, penonton diajak mengenal sejarah "Narsis" berdasarkan mitologi Yunani.  

IDIL AQS AKBARY, Pontianak

Taman Budaya Kalbar mulai ramai dipadati penonton sejak pukul 18.30, Jumat (19/8) malam. Berbagai kalangan terlihat hadir mulai dari remaja hingga dewasa, demi menyaksikan malam pertama pertunjukan Narcissus (The Legend of Daffodil), karya Titis Ayu yang disutradarai Dexa Hachika.

Setelah menunggu cukup lama, para penonton akhirnya dipersilahkan masuk sekitar pukul 19.30. Drama pun dimulai. Sejak awal pertunjukan, pemusik dan grup vokal yang mengiringi, berhasil membangun suasana. Meski artisitik panggung cukup sederhana, namun kostum dan lakon para aktor terlihat apik, seolah membawa penonton kembali zaman para dewa-dewa Yunani. 

Cerita dimulai dengan roman antara dewa sungai Kefissos dan istrinya Liriope yang sedang menggendong anaknya, bayi Narcissus. Ketika Narcissus masih kecil, seorang peramal bernama Teiresias berkata kepada kedua orang tuanya bahwa anak mereka akan berumur panjang apabila tidak melihat dirinya sendiri. Dari sana tragedi dimulai.

Narcissus adalah seorang tokoh dalam mitologi Yunani yang diceritakan sebagai seorang pemuda pemilik wajah tampan. Akibat ketampanannya banyak yang jatuh cinta kepadanya, salah satunya nimfa bernama Ekho. Namun karena kesombongannya, tak seorang pun yang dibalas cintanya oleh Narcissus. Demikian pula Ekho, hingga Ekho hidup dalam kesendirian dan kesedihan.

Sampai suatu waktu, Dewi Nemesis mendengar doa Ekho yang cintanya ditolak. Nemessis pun mengutuk Narcissus agar jatuh cinta kepada bayangannya sendiri. Kutukan tersebut menjadi kenyataan ketika Narcissus melihat bayangan dirinya di sebuah kolam. Dia tak henti-hentinya mengagumi sosok yang terlihat dari pantulan air di kolam itu. Sampai akhirnya dia terus memandanginya dan ikut tennggelam bersama bayangannya.

Narcissus yang diperankan Arief Setiawan berhasil membawa penonton terhanyut dalam cerita. Meski akhirnya tragedi, selama pertunjukan berdurasi sekitar dua jam itu, penonton juga disuguhkan unsur-unsur komedi, hingga sesekali ruang pertunjukan riuh dengan gelak tawa. 

Sang sutradara, Dexa Hachika mengungkapkan, pementasan ini diadakan dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-14 Sanggar Seni Pituah Enggang (Pitung) tempatnya bernaung. "Naskah ini sengaja dipilih untuk memberi pencerahan kepada masyarakat bahwa terlalu mencintai diri sendiri  (narsis), dapat membuat rasa apatis muncul dari orang lain dan dapat menjadi bencana buat diri sendiri," ucapnya. 

Selain itu, sederhananya dia ingin masyarakat luas tahu bahwa kata narsis memiliki sejarahnya sendiri. "Lewat pertunjukan ini aku ingin memberi tahu ke mereka (penonton) bahwa asal kata narsis itu dari mana," ucap sarjana seni lulusan ISI Jogja itu. 

Menurutnya pertunjukan ini cukup lama dipersiapkan. Memakan proses latihan sekitar tiga bulan, para pemain atau aktor yang terlibat ada sebanyak 27 orang, ditambah pemusik sekitar 20 orang, serta kru artisitik 10 orang. 

"Ini untuk pertama kalinya aku menjadi sutradara sejak sembilan tahun aktif di Sanggar Seni Pitung dan Alhamdulillah sambutan penonton sangat baik," ujar dara kelahiran Pontianak itu.

Sementara itu, salah satu pendiri Sanggar Seni Pitung, Davi Yunan (28 tahun) berharap, dengan momen HUT kali ini, Sanggar Seni Pitung bisa tetap eksis memberikan kontribusi terhadap kesenian khususnya teater di Kalbar. Bahwa ke depan teater harus terus tumbuh dan tidak hanya menjadi tanggung jawab Sanggar Seni Pitung, tapi semua pihak juga wajib berperan. 

Sebagai generasi pertama dan paling sering menyutradari berbagai pertunjukan di Sanggar ini, dia menilai dengan segala macam perkembangannya, kelompok ini tentu sedikit banyak telah mempengaruhi perkembangan teater di Kota Pontianak maupun Kalbar secara umum. "Sejak 2002 hingga sekarang sudah cukup banyak kami menggelar berbagai pementasan, ke depan harus lebih banyak lagi," pungkasnya.**

Berita Terkait