Berhemat ala Mahasiswa

Berhemat ala Mahasiswa

  Senin, 11 January 2016 08:08

Banyak cara yang bisa dilakukan oleh seseorang untuk berhemat. Begitu pula para mahasiswa. Berhemat dianggap menjadi salah satu kunci agar kebutuhan selama sebulan terpenuhi. Apalagi jika kiriman sering datang terlambat, bisa-bisa perut keroncongan menahan lapar. Oleh : Marsita Riandini

Menjadi mahasiswa sudah pilihan banyak orang. Demi mencapainya, banyak yang rela merantau ke kota, meninggalkan keluarga sementara. Namun, menjalani hidup sebagai seorang mahasiswa apalagi harus tinggal di sebuah kost, bukanlah perkara mudah. Hidup hemat harus digalakkan, jika tidak kebutuhan tak bisa terpenuhi.Tetapi ada banyak godaan yang menghantui. Bila tak segera diantisipasi, kiriman orang tua cepat berlalu pergi. Ingin minta lagi? Belum tentu akan terpenuhi, sebab itu kitalah yang harus pandai membagi-bagi.

Itu pula yang dilakukan oleh Umi Ani Jusida, mahasiswi 19 tahun itu setiap bulannya memiliki cara tersendiri untuk berhemat. “Berhemat itu penting bagi saya. Jika tidak, kiriman akan kurang. Ingin minta lagi tentu tidak enak sama orang tua,” ujar dia yang mendapat kiriman sekitar 500 ribu rupiah untuk tiga minggu ini.

Menghindari pengeluaran yang cukup besar, Umi memilih untuk memasak sendiri. “Kalau beli diluar cenderung lebih besar pengeluarannya. Kalau beli sendiri bisa lebih hemat. Misalnya beli satu ikat sayur bayam, bisa dimasak dua kali. Kalau beli sayur jadi, selain lebih mahal juga tidak segar lagi,” ulas mahasiswi di IAIN Pontianak ini.Siapa bilang mahasiswa tak bisa menabung? Umi sudah bisa membuktikannya. Setiap bulannya dia menyisihkan uang saku sebanyak 50 ribu hingga 100 ribu rupiah. Tentu saja ini ide yang tepat. Sebab dia bisa menggunakannya jika ada kebutuhan yang mendesak. “Itu uang untuk kebutuhan mendesak seperti ban bocor, ganti oli motor, kebutuhan kuliah, laptop rusak dan sebagainya,” ucap mahasiswi asal Sambas ini.

Umi memilih menghindari memanfaatkan jasa laundry. Meskipun praktis, namun kata dia itu bisa menguras kantong cukup besar. “Sesekali mungkin okelah, tetapi saya tetap menghindari. Takutnya sekali-sekali jadi keterusan,” tambahnya.Mencuci juga bisa dihemat dengan cara tidak mencuci setiap hari. “Kalau mencuci tiap hari itu khan boros sabun. Saya memilih mencuci seminggu sekali atau seminggu dua kali,” paparnya.

Tinggal di kota orang, tentu ingin mengunjungi banyak tempat. Apalagi bila sudah berhadapan dengan tugas kuliah yang banyak. Jalan-jalan pun menjadi pilihan banyak mahasiswa. Namun, Umi memilih untuk tidak terlalu sering, sebab akan membuat pengeluaran bensin semakin besar.  Godaan lainnya, kuliner. Kita tahu saat ini di Pontianak begitu banyak sajian kuliner yang menggoda. Belum lagi cafe yang dikemas menarik untuk tempat tongkrongan asyik bermunculan. “Kadang teman-teman suka ngajak nyobain kuliner baru. Kayak kuliner ala Korea, penasaran rasanya gimana, tempatnya seperti apa. Tetapi kalau diikutin semua bisa boros,” ucapnya yang memilih tidak ikut-ikutan.

Hesti Komah (20 tahun), juga memiliki cara jitu terhindar dari pemborosan. “Berhemat itu cukup sulit, sedangkan setiap bulannya uang yang di dapat harus bisa memenuhi untuk waktu sebulan. Jadi harus pandai-pandai berhemat,” papar mahasiswi FKIP Untan ini. Menyadari kebutuhan yang banyak, dia memilih untuk berhemat sejak awal bulan. “Belanjanya seperlu saja. Pokoknya dihemat di awal saja. Apalagi saya khan dapat beasiswa, bukan dari orang tua. Kecuali kalau tidak cukup, baru minta sama orang tua,” jelasnya.

Menghemat di awal bulan, lanjut dia menjadi cara ampuh. Bahkan jika pengeluaran tidak begitu besar, dia bisa membeli baju dan sepatu untuk keperluan kuliah. “Kalau kebutuhannya tidak besar, akhir bulan bisa beli baju atau sepatu untuk kuliah. Tapi tidak selalu sih, kadang-kadang saja pas ada uang lebih,” papar mahasiswi asal Kecamatan Salatiga ini. Dia juga memilih untuk menabung di awal sebesar Rp 150 ribu untuk keperluan mendesak. “Paling bikin menggoda itu kalau belanja. Bisa boros jadinya,” papar dia.

Cerita lainnya dari Zainal Aripin, mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir ini mengaku setiap bulannya harus berhemat, sebab hanya mengandalkan uang tabungan kuliah dan pendapatan dari lainnya yang tidak menentu. “Berhemat sangat penting sekali biar cukup. Meskipun kadang pengeluaran tidak terasa. Kadang lebih dari satu juta,” papar pria asal Kapuas Hulu ini.Meskipun tinggal sendiri di Pontianak, ia memilih tetap memasak sendiri. “Selain higienis, pengeluaran masih bisa ditekan. Meskipun kadang sama saja sih, tapi kalau masak sendiri lebih cocok saja,” ungkapnya yang memilih mengurangi jajan diluar.

Zainal memilih membuat pos-pos belanja setiap bulannya. Cara ini dinilainya efektif untuk menghindari pemborosan. “Sejak awal tuh sudah bagi-bagi uang belanja bulanan Rp 300 ribu, kemudian setiap minggunya Rp seratus ribu untuk kuliah. Kadang juga sih seratus ribu bisa untuk dua minggu. Biaya kost 200 ribu perbulannya,” papar dia.Hal tak kalah penting lainnya, lanjut dia berhemat pulsa dan bensin. “Untuk pulsa kalau tidak penting amat ya bisa 4 hari Rp 10 ribu. Sementara bensin full tank (penuh) bisa empat hari. Kalau cuma untuk kost ke kampus bisa sampai satu minggu,” pungkasnya. **