Berharap Bisa Lebaran Tenpa Kekurangan

Berharap Bisa Lebaran Tenpa Kekurangan

  Jumat, 1 July 2016 09:30
PEMULUNG : Menjelang lebaran pemulung berharap ada rezeki yang datang. FOTO MUSTA’AN/Pontianak post

Berita Terkait

 
Hari raya idulfitri merupakan momen yang ditunggu-tunggu seluruh umat Islam, setelah satu bulan penuh menunaikan ibadah puasa bulan Ramadan. Ternyata, kebahagiaan di hari fitri itu, masih banyak saudara-saudara kita tidak bisa menikmati indahnya momen lebaran karena keterbatasan. Dan berharap ada rezeki yang datang, sehingga disaat merayakan lebaran mereka tidak kekurangan.

MUSTA’AN, Putussibau

WAKTU baru menunjukkan pukul 09.00 Wib, panas sinar matahari sudah mulai terasa menyengat kulit. Kendati berpuasa, Siti Rahmah bersama beberapa pumulung lainnya sudah sibuk mengais-ngais sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah di jalan Lintas Utara Desa Sibau Hulu. Satu per satu sampah mereka pisahkan, sesuai klasifikasi harga yang telah ditentukan para pengepul sampah.

Bau busuk menyengat, lalat berterbangan di sekitar sampah. Dengan beralasan kardus, sekali-sekali para pemulung ini duduk untuk menghilangkan lelah. Walaupun hari masih pagi, bekerja dibawah terik matahari pagi cukup terasa. Sekali-sekali mereka juga terlihat bercanda dengan temannya sesama pemulung. Tertawa lepas seolah-olah menghilangkan beban pikirannya sesaat yang mereka rasakan.

Cukup lama Siti Rahmad bekerja sebagai pemulung, mencari barang bekas. Dia bekerja  dari  pagi hingga sore, ia diantar oleh suaminya. Pekerjaan itu ia lakukan untuk sesuap  nasi dan  biaya sekolah  anak-anaknya. Karena penghasilan suami belum mencukupi kebutuhan keluarga. “Walaupun bekerja sebagai pemulung, saya senang bisa membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga,” ungkapnya.

Siti bekerja sebagai pemulung sudah tiga tahun, dia pun tak pernah merasa malu dengan anak-anaknya atau dengan masyarakat lain. Baginya selama pekerjaan ini halal tetap ia lakukan. Walaupun bekerja di lingkungan yang kotor, ia mengaku tidak takut. Bahkan, selama bekerja sebagai pemulung, ia mengaku jarang sekali sakit. “Ya paling sakit demam atau batuk dan flu biasa," ucapnya.

Ketika ditanya menyambut lebaran ini, Siti agak bersedih karena lebaran baginya dari tahun  ke tahun tak ada yang spesial karena ia harus tetap berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan anaknya menjelang lebaran."Kalau saya tak bekerja, mana bisa saya penuhi kebutuhan anak untuk lebaran. Kasihan anak-anak, temannya bisa beli baju baru, mereka tidak bisa, kami harus berusaha," tuturnya.

Perempuan berusia 47 tahun ini mengaku, semakin ia giat bekerja mengumpulkan barang  bekas, maka hasil yang didapat juga lumayan besar. "Untuk mendapatkan uang banyak, kami harus kerja keras. Karena kami sendiri yang menggaji diri kami," ucapnya.

Dalam satu minggu ia mampu mengumpulkan uang Rp200-300 ribu, hasil tersebut lumayan mencukupi keperluan keluarganya.

Pada tahun ini, Siti berharap bisa menikmati indahnya lebaran bersama keluarga tanpa kekurangan satu apa pun. Senada dengan Siti, Mida pemulung TPA ini mengaku bingung menghadapi lebaran tahun ini karena apakah ia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya dalam hari Idulfitri nanti. "Dikeluarga saya hanya saya sendiri yang bekerja, karena suami sudah tidak bisa bekerja, " ucapnya.

Warga Desa Sibau Hulu  ini ini mengatakan, menghadapi lebaran tahun ini belum ada persiapan apa-apa di rumahnya, karena masih menunggu hasil dari pekerjaan. "Jangankan mau buat kue, beli baju baru saja belum tahu bisa atau ndak," ucapnya.

 Lebaran tahun ini baginya sangat sedih, karena kehidupannya serba kekurangan. Ia jadi pemulung karena  himpitan ekonomi dan tidak ada keahlian. Meskipun hidup dalam keterbatasan, perempuan berusia 25 tahun tersebut selalu merasa bersyukur. Baginya, saat ini yang terpenting adalah anaknya bisa makan. Penghasilannya yang tidak seberapa diakuinya memang masih jauh dari cukup. Namun, ia tak pernah mengeluh. "Saya berharap anak saya bisa jadi anak yang bisa mengangkat derajat kedua orangtuanya,” ungkapnya.(*)

Berita Terkait