Beresi Kandang sampai Urus Kelahiran

Beresi Kandang sampai Urus Kelahiran

  Sabtu, 6 Agustus 2016 09:46
IST RADAR LAMPUNG/JPG ANGGAP ANAK: Seorang Mahout atau Pawang Gajah sedang memandikan gajah di Taman Wisata Lembah Hijau, Jumat (8/5). Untuk merawat gajah dibutuhkan kesabaran

Berita Terkait

HANYA sedikit orang yang memilih hidup berdampingan dengan gajah. Suparman adalah satu dari segelintir orang yang menghabiskan sebagian waktunya bersama salah satu hewan terbesar di dunia ini. Mahout atau pawang gajah adalah orang yang mengurus dan melatih gajah. Di Bandarlampung, keberadaannya memang belum terlalu banyak. Karena hewan yang memiliki berat badan sampai ribuan kilogram (kg) ini baru saja eksis di salah satu taman wisata.

Suparman, salah satu pawang gajah di Bandarlampung, mengatakan, istilah mahout diperuntukkan bagi orang yang mengurus gajah di lembaga konservasi. Kalau di kebun binatang biasanya disebut pawang atau keeper.

”Tapi istilah itu (pawang) sekarang sudah mulai ditinggalkan, jadi sekarang disebutnya mahout,” ucapnya kepada Radar Lampung di Taman Wisata Lembah Hijau (TWLH), kemarin.

Suparman yang berpengalaman menjadi mahout sejak 1998 ini pertama kali ”berkenalan” dengan gajah di Lampung Barat. Kala itu, gajah kerap berpatroli di sekitar kebun sawit.

Sampai akhirnya ada regulasi yang mengatur semua gajah Lampung harus berada di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), nasib Suparman juga sedikit berubah. Dia dipercaya menjadi tenaga honorer di TNWK tetapi tetap mengurus semua urusan gajah.

            Menurut dia, tugas mahout sebagai orang yang berhubungan langsung dengan gajah sangat penting. Suparman bertugas merawat gajah. Termasuk menjaga kenyamanan kandang, menjaga kesehatan, dan memonitor reproduksi gajah. Berjalannya waktu, tidak sedikit pengalamannya hidup bersama gajah. "Gajah itu layaknya manusia. Ada yang cepat tangkap, ada juga yang kurang," ceritanya.

Sementara, alat yang biasa digunakan seorang mahout adalah ankus kait logam untuk memberikan intruksi, selain memakai gerakan tangan. Mantan mahout di Bali Elephant Camp ini mengakui, melatih gajah susah-susah gampang. Bahkan terkadang sampai menganggap anak karena harus melihat pola perilaku gajah setiap hari.

"Ada yang kadang malas, ada yang marah atau ngamuk dan lari saat latihan, bahkan sampai kayak dokter kandungan saat urus kelahirannya," ujarnya. Suparman mengatakan, usia kehamilan gajah mulai dari 19, 21, dan 23 bulan, bergantung dari kesehatan fisik gajah betina.

Pola didik terhadap gajah juga tidak disamaratakan. Masing-masing usia memilik caranya sendiri. Mulai dari lahir, remaja, dewasa sampai tua. Sedangkan makannya, cukup diberi pelepah kelapa, rumput gajah, sampai gorengan buat camilan ikut dimakan.

Saat ini, tanggung jawabnya ada empat ekor gajah dua betina dan dua jantan yang harus diurus dalam waktu panjang di TWLH. "Sama seperti hewan dan makhluk hidup lainnya, Gajah juga harus disayangi," tutupnya. (dna)

Berita Terkait