Berekonomis Tinggi, Masih Banyak Red Arwana

Berekonomis Tinggi, Masih Banyak Red Arwana

  Senin, 27 June 2016 10:21
POTENSI DANAU : Danau Temeruang di Desa Bunut Hilir, Kecamatan Bunut Hilir menyimpan beraneka ragam ekosistem ikan air tawar yang bernilai ekonomis dan satwa liar. MUSTA’AN/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Sebagian besar danau di wilayah Kapuas Hulu memiliki keunikan dan ekosistem yang beragam serta dihuni aneka jenis satwa liar yang dilindungi. Salah satu, dari ratusan danau di bumi uncak kapuas, yang dihuni species terlengkap adalah danau Temeruang di Desa Bunut Hilir, Kecamatan Bunut Hilir.

MUSTA’AN  Kapuas Hulu

DANAU  Temeruang merupakan danau lindung menyimpan ratusan jenis ikan air tawar yang bernilai ekonomis tinggi, seperti ikan red arwana (siluk), ulang uli (botia macracantha), jelawat, dan banyak lagi ikan air tawar lainnya.

Bukan hanya jenis ikan. Disekeliling danau juga terdapat beragam jenis satwa liar dan berbagai jenis kayu hutan tropis yang mulai sudah langka daerah ini, seperti kayu tembesuk.

Selain itu juga banyak ditemukan aneka jenis burung-burung hutan tropis yang tak pernah dijamah oleh manusia. Kondisi danau yang masih alami, seolah-olah surga bagi aneka jenis satwa liar, burung dan berbagai spicies lainnya. Danau ini tidak terlalu luas, tetapi masih dikelilingi hutan lebat dan rindang terutama hutan kerangas yang ditumbuhi berbagai jenis kantong semar serta anggrek hutan.

Danau Temeruang itu asli karena terbentuk secara alami oleh alam, sehingga cocok untuk dijadikan danau wisata. Bahkan, selama ini masyarakat setempat mengandalkan hasil alam yang ada di dalam danau itu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti menjadi nelayan, memanen madu alam. Baik madu/lebat lalau maupun madu tikung yang menghasilkan madu alam berkualitas tinggi.

 “Banyak potensi alam yang terkandung, sangat sayang jika tidak segera di manfaatkan, dibangun menjadi danau wisata,” ujar Ivan Suryadi, warga Bunut Hilir, Minggu (26/6). Dikatakannya, Lokasi Danau Temeruang tepat berada dibelakang desa Bunut Hilir. Saat ini, masyarakat setempat tengah membangun akses jalan menuju kekawasan danau, agar bisa diakses langsung oleh para wisatawan.

Dari Desa Bunut Hilir, Danau Temeruang ini bisa ditemuh berjalan kaki selama kurang lebih 35 menit, jika menggunakan sepeda motor hanya sekitar 10 menit saja. Senda dengan Ivan, warga desa Bunut Hulir lainnya yakni Syapari. Dia  mengatakan, sejak status danau tersebut ditetapkan sebagai danau lindung belum memberikan kontribusi pada masyarakat setempat, ketimbang sebagai danau wisata.

Dia mengaku, dengan status danau lindung, masyarakat menjadi sulit, sebab wilayah untuk mencari ikan mereka semakin sempit. Menurutnya, sulitnya akses transportasi menuju Danau Temeruang bukan alasan yang tepat untuk tidak menjadikan danau tersebut sebagai danau wisata. Sebab untuk menuju Kecamatan Bunut Hilir, dapat melalui jalur lintas selatan yakni Simpang Boyan- Nanga Bunut.

 “Sayang potensi ini tidak digarap. Coba bayangkan, di daerah lain di Indonesia, mungkin ada danau, tapi tidak dihuni spicies yang lengkap. Begitu juga satwa liarnya,” terangnya dia. Alumnis STAIN Pontianak ini berharap ada langkah strategis dari pemerintah untuk mengalihkan usaha masyarakat yang semula tergantung pada alam, beralih ke usaha yang sejalan dengan kabupaten konserpasi. (*)

Berita Terkait