Berdiri dari Keinginan Mempersatukan Suku

Berdiri dari Keinginan Mempersatukan Suku

  Kamis, 20 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

Nanga Bunut, Situs Peninggalan Kerajaan di Kapuas Hulu

SEBAGAI salah satu pemerintahan daerah tingkat II di Provinsi Kalimantan Barat, Kapuas Hulu letaknya cukup jauh dari pusat ibukota Kalbar. Dengan jarak yang mencapai 814 kilometer dari Kapuas Hulu ke Kota Pontianak melalu jalur darat dan hampir mencapai 846 kilometer melalui jalur sungai, tentu ini memakan waktu yang cukup lama. Namun siapa sangka dengan rentang jarak yang begitu jauh begitu banyak potensi sejarah yang terpendam di kabupaten yang akrab disebut Uncak Kapuas ini.

“Dengan luas wilayah mencapai 29.842 kilometer persegi berpenduduk sekira 222.160 jiwa (berdasar sensus penduduk tahun 2010) Kapuas Hulu ini memiliki begitu banyak potensi. Tentu ini tak terlepas dari peninggalan sejarah yang tersimpan. Salah satunya sejarah kerajaan yang menjadi cikal bakal berdirinya daerah otonom hingga saat ini, yang dapat dibuktikan melalui situs dan peninggalan yang tersisa saat ini,” terang Sumardi M Noor, Direktur Eksekutif NGO Al-Ikhrat Kalimantan Barat.

Kapuas Hulu lanjutnya, juga tak lepas dari berdirinya Kerajaan Nanga Bunut, yang berada di Kecamatan Bunut Hilir dengan luas wilayahnya saat ini mencapai 100.289 km persegi dan kini jumlah penduduknya mencapai 11.957 jiwa. “Sekira tahun 1877, proses awal terbentuknya Kerajaan Nanga Bunut. Dimana pusat pemerintahannya saat itu, berada di Kecamatan Bunut Hilir saat ini, dengan pemegang tampuk pemerintahan mulai dari Raden Setia Abang Berita Kyai Adi Pati Jaya, Raden Suma Abang Mandoh dan Kyai Mangku Abang Ubal,” beber Sumardi.

Dia membeberkan terbentuknya Kerajaan Nanga Bunut, melalui surat Asisten Residen Sintang nomor 91 tahun 1877 tertanggal 29 Januari 1877 yang menyatakan Negeri Nanga Bunut telah berdiri selama 64 tahun. Namun kemudian pada tahun 1909 kerajaan tersebut diambilalih dan dikuasai Hindia Belanda.

Berdasarkan referensi berbagai sumber yang didapatkan Sumardi, Kerajaan Nanga Bunut didirikan tiga bersaudara yang berasal dari tanah jawa (Yogyakarta), masing-masing mereka bertekat untuk mendirikan sebuah negeri yang sejahtera. Maka mereka bertiga berembuk untuk membagi daerah mana yang akan menjadi daerah kekuasaan mereka. Maka didapatlah sebuah kesepakatan Raden Setia Abang Berita mendapat bagian memerintah di Bunut, dua orang saudaranya yang lain memerintah di Embaloh dan Daerah Kapuas.

Bermula dari rencana beberapa suku berasal dari Batang Suruk di pedalaman perairan Batang Bunut yang bertempat tinggal di sekitar daratan Gunung Lohot, Sunan dan hampir mendekati Bukit Tekalong. Suku yang berada di sekitar perairan Sungai Kapuas dan Sungai Bunut ini bergabung menjadi satu di dalam satu kerajaan, kendati suku ini berbeda-beda.

Sungai yang dilalui atau dimasuki suku-suku, yaitu: suku yang berada di Sungai Embaloh dengan gelar Suku Embaloh. Suku yang berada di Sungai Batang Palin dan Batang Lauk dengan nama gelar Suku Palin. Suku yang berada di Sungai Kapuas terkenal dengan nama gelarnya Suku Taman Tapah. Sebagian suku yang menetap di Sungai Gulung dengan nama gelarnya Embaloh Gulung. Sementara orang-orang yang menetap dan bertempat tinggal di kawasan Sungai Bunut, tersebut yang cukup dikenal adalah Kyai Adi Pati Ajan bersama keluarga dan anaknya Kyai Adi Pati Turan.

Sekitar abad ke-15 dan ke-16 Kyai Adi Pati Turan dan Kyai Adi Pati Ajan sementara menetap di daerah Ulak Alai, berencana membuat kampung yang baik untuk mengatasi kalau ada serangan musuh.

“Selanjutnya mereka pindah ke Kirin Temiang sekarang disebut dengan Sungai Sunjung. Khawatir dan takut terhadap hal-hal yang mungkin bisa terjadi maka segala harta benda yang berguna itu disimpan di dalam tanah yang ditanam dengan tanaman yang disebut Bambu Temiang karena bambu yang di taman itu selalu mati pucuknya. Lalu mereka sebut daerah itu dengan Kirin Temiang Mati Pucuk.”

Setelah itu Kyai Adi Pati Turan mengadakan musyawarah dan mufakat dengan kawan-kawannya yang lain membuat kampung Nanga Lipat. Kawan-kawannya setuju. Setelah kampung Nanga Lipat berdiri, mereka bermusyawarah mendirikan kampung lagi di Nanga Pilin atas nama Kyai Adi Pati Turan bersama dengan Raden Kasuma Abang Mandoh.Tujuan membangun kampung di Nanga Pilin ini sebagai pertahanan dari serangan-serangan dari pihak musuh.

“Dalam perjalanannya, keluarga Kyai Adi Pati Turan memiliki seorang putra yang diberi nama Abang Berita dengan gelar Kyai Adi Pati Jaya. Abang Berita ini cukup menonjol. Dia memiliki daya ingat dan daya pikir hebat dan ketangguhan hati dalam mengerjakan sesuatu. Ahlaknya di kalangan keluarga dan sahabatnya terpuji,” lanjut Sumardi.

Pada suatu saat Abang Berita mengadakan musyawarah dan mufakat dengan kedua orang tuanya dan dihadiri Abang Mandoh dan Abang Ubal serta kawan-kawan dan sahabatnya, untuk membuat dan mendirikan kerajaan di sekitar daerah Ulak Mahkota Raja, ulak ini merupakan ulak yang terbesar.

Ketika mereka hendak  mendirikan sebuah kampung atau kerajaan, mereka mencari dan memilih kayu berasal dari Pohon Bunut, adapun alat-alat yang dipakai untuk menebang Pohon Bunut ialah Beliung yang terbuat dari timah dengan tangkai beliung timah kayu, pemegangnya atau ulu beliung timah tersebut dibuat dari Kayu Lempung yaitu Kayu Pelai.

”Ceritanya, saat menebang Pohon Bunut, semula mereka menggunakan beliung yang terbuat dari besi. Namun kayu tangkai beliung tersebut selalu patah. Dan pada malam hari Pohon Bunut yang ditebang tersebut kembali seperti semula seperti tidak ada cacat sedikit pun.”

Melalui mimpi sang raja, Pohon Bunut tersebut harus ditebang menggunakan Beliung Timah. Di sekitar pohon-pohon bunut itu terdapat sebuah sungai kecil yang disebut dengan Sungai Perodah. Setelah menebang memakai tangkai Perodah, barulah kayu Bunut tersebut tumbang. Karena kayu itulah di daerah Ulak Mahkota Raja didirikan kerajaan yang disebut Nanga Bunut. “Tempat kejadian dan kenyataannya sekarang Pohon Bunut dan Sungai Perodah memang terletak di Dusun Perodah, Desa Bunut Hulu, Kecamatan Bunut Hilir. Dan bukti bekas kayu tersebut masih ada hingga sekarang ini,” terangnya lagi. (pay/berbagai sumber)

 

Berita Terkait