Berdayakan Warga Berikan Les Gratis dan Taman Bacaan

Berdayakan Warga Berikan Les Gratis dan Taman Bacaan

  Kamis, 23 November 2017 10:00
KAMPUNG BELAJAR: Suasana ruang belajar anak-anak di Dusun Tungkul, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak. Bermula dari les gratis, warga dusun kompak mencanangkan Kampung Belajar.MIFTAHUL/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Menggagas Berdirinya Kampung Belajar di Dusun Tanjung

Warga Dusun Tanjung, Kecamatan Ngabang kini mulai berbenah. Lewat Kampung Belajar, seorang pemuda hadir membawa ide untuk memberdayakan warganya sendiri. Bermula dari les gratis, warga dusun kompak mencanangkan Kampung Belajar.

 

MIFTAHUL KHAIR, Ngabang

BERSAMA rekan-rekannya, Sulaiman Yahya (26) mendirikan Kampung Belajar di Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak. Sekilas, Kampung Belajar ini tidak ubahnya taman bacaan yang ada di desa. Tetapi, sebetulnya tidaklah sesederhana itu.

Kampung Belajar di Dusun Tanjung, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak. Sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat. “Awalnya kampung belajar ini hanya untuk bidang pendidikan. Di mana anak-anak dapat les secara gratis,” katanya kepada Pontianak Post, Rabu (22/11).

Kampung Belajar tepatnya adalah pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Di dalamnya terdapat sekaligus kegiatan kepustakaan, pendampingan belajar, pemberantasan buta huruf latin dan Al Quran, hingga pembekalan keterampilan bagi warga dusun.

Dimulai dari bekas surau yang tak lagi terpakai. Masyarakat secara bergotong royong merenovasi ruangan dalam surau sehingga cocok untuk digunakan sebagai pusat kegiatan belajar anak-anak. Di dalam nya terdapat puluhan bangku kecil, dua papan tulis dan lemari buku. Lengkap dengan berbagai poster belajar anak, layaknya ruang belajar di Taman Kanak-Kanak atau PAUD.

Tembok ruang kelas tersebut dibubuhkan cat warna-warni. Menurut Sulaiman, suasana belajar di sana dibuat senyaman mungkin dan semenarik mungkin. Agar anak-anak tak jenuh saat belajar.

Bicara kurikulum, ia mengaku sedang meramu apa saja yang cocok bagi anak-anak di dusunnya. Berbekal pengalamannya mengajar, setiap lima hari dalam satu minggu ia aktif mengajar di ruangan rekira lima meter persegi tersebut. Mata pelajaran yang diajarkan pun berbeda setiap harinya.

Menyusul di penghujung pekan, anak-anak diberikan mata pelajaran yang lebih ringan seperti kesenian dan budaya. Dia mengharapkan, warga perkotaan yang jauh lebih beruntung mau peduli terhadap pendidikan di daerah pelosok. Paling tidak, dengan turut berpartisipasi menyumbang buku bacaan bekas. Sedikit, tapi amat berarti buat mereka.

Sementara bicara biaya, pada awalnya ia mengaku menggunakan biaya sendiri untuk meprakarsai les gratis bagi anak-anak dusun. “Ini paling tidak bisa sebagai rasa terima kasih saya kepada kampung,” katanya. Setelah mulai berjalan satu bulan. Tepatnya di penghujung Oktober 2017. Hanya, kata Sulaiman, kegiatan les gratis bagi anak-anak sudah berjalan sejak Agustus lalu. Setelah melalui diskusi panjang dengan para senior di dusun, dukungan hadir dari warga dusun hingga akhirnya gagasan untuk mendirikan pusat kegiatan belajar masyarakat.

Dalam waktu singkat pula, keberadaan Kampung Belajar mampu menyedot animo masyarakat sekitar. Bukan hanya di bidang pendidikan, kampung belajar ini juga berfokus pada bidang budaya hingga ekonomi kreatif. Juga, bukan hanya anak-anak yang ikut belajar. Warga dusun yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan itu ikut dilibatkan. Seperti dalam pelatihan ekonomi kreatif.

Sulaiman berharap, warga dusun tempat di mana ia dibesarkan tidak hanya berharap pada sungai. Warga diharapkan dapat lebih mandiri. Salah satunya, kata dia, dalam waktu dekat warga dusun tengah diusahakan untuk mengikuti pelatihan pembibitan ikan. “Jadi nanti, ketika sumber dari sungai habis, mereka tetap bertahan lewat pembibitan itu,” kata pria lulusan magister di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang ini.

Kepala Dusun Tanjung, H. Supriadi Ikal, mengatakan warga dusun sangat mendukung kampung belajar ini. Terutama bagi anak-anak agar mau ikut belajar. Jangan sampai setelah dibentuk, anak-anak tidak diarahkan ke sana.

Melalui kampung belajar ini, diharapkan pula anak-anak dapat memiliki masa depan yang bagus. Kampung Belajar ini menurutnya juga menyasar anak-anak yang putus sekolah. “Kita ini sebagai estafet dan anak inilah sebagai penerusnya,” tegasnya. Hingga kini pun, sudah terdapat rekira 40 anak yang ikut belajar tiap sore harinya. Mereka berbondong menempati ruang belajar tiap sore. Mulai pukul 13.00 hingga 15.00 WIB. “Setelah itu, anak-anak diarahkan untuk mengikuti TPA,” katanya lagi.

Dari 125 keluarga di Dusun Tanjung, jelas Supriadi, mayoritas bekerja sebagai nelayan. Lewat kampung belajar ini pula, warga mulai diarahkan untuk memproduksi jala. Nantinnya warga dapat menjual jala itu ke pasaran. “Bagaimana dusun dapat mengayomi warganya,” tutupnya. (*)

Berita Terkait