Berdayakan Enam Rumah Dalam Menanggulangi Kebakaran Hutan dan Lahan

Berdayakan Enam Rumah Dalam Menanggulangi Kebakaran Hutan dan Lahan

  Selasa, 8 Agustus 2017 16:21   53

oleh  Drs. Suhadi Sw.M.Si

KEBAKARAN hutan dan lahan dibeberapa provinsi di Indonesia, (Kalbar, Kalteng, Riau, Jambi dan Sumatera Selatan),  dari tahun ketahun terus saja terjadi. Dampak yang ditimbulkan tidak saja dirasakan oleh lima provinsi penghasil asap, tetapi provinsi lain bahkan negara lain ikut merasakannya. Termasuk terganggunya transportasi udara, penyakit Ispa dan rusaknya ekosistem.
Peristiwa kebakaran hutan dan lahan ini seharusnya tidak perlu terjadi karena bisa dicegah secara dini. Oleh semua pihak, dengan melakukan langkah langkah konkrit, sesuai dengan tugas pokok,  fungai dan perannya masing-masing,
Ada beberapa solusi yang pernah dilakukan penulis ketika menjadi Kasatgas Karhutla Polda Kalbar diantaranya melalui pemberdayaan enam rumah (rumah tangga, rumah sekolah, rumah adat, rumah ibadah, rumah usaha dan rumah pemerintah).
Pertama Rumah Tangga: setiap kepala rumah tangga diharapkan ikut serta dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan karena semua permasalahan yang besar akan selalu diawali dari lingkungan yang paling kecil, yaitu keluarga.
Kedua rumah sekolah. Polisi yang ada ditingkat provinsi sampai tingkat desa diharapkan bisa menjadi pembina upacara di sekolah sekolah untuk menyampaikan informasi tentang dampak dari Kebakaran Hutan dan lahan bagi kehidupan masyarakat.
Termasuk para dewan guru dan dosen, mengingatkan murid muridnya atau mahasiswanya untuk diteruskan kepada para orang tua masing masing tentang dampak dan sanksi hukum bila melakukan kebakaran hutan dan lahan.
Ketiga Rumah Adat. Dimana dewan adat perlu dilibatkan dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Ketika masyarakat adat akan melakukan ritual membakar hutan dan lahan, harus mengikuti aturan adat yang telah baku. Diantaranya ada yang bertanggung jawab, ada yang menjaga kiri dan kanan , depan dan belakang lahan yang akan dibakar, agar ketika terjadi pembakaran api tidak merambat kelahan milik orang lain. Bila hal itu terjadi maka mereka bisa dikenakan sanksi adat, dan sebelum pelaksanaan ritual, secara berjenjang mereka harus memberitahukan kepada Kepala Desa,  Camat dan Kepala Dinas Perkebunan.
Keempat Rumah Agama, artinya para Kyai, Ustadz, Pendeta, Pastur dan Pandita,  diikut sertakan dalam sosialisasi tentang Bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan, utamanya ketika mereka memberikan siraman Rohani, diselipkan pesan pesan tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan.
Kelima Rumah Usaha. Diharapkan para pengusaha terutama pengusaha dibidang perkebunan, bisa ikut serta membina desa disekitar kebun, minimal 10 Desa melalui dana Corporate sosial responaibility ( CSR)  dengan dilakukan lomba desa, dimana desa yang tidak ada titik api diberikan reward melalui danan CSR.
Keenam rumah pemerintah. Artinya semua instansi terkait sesuai dengan bidang tugasnya, melakukan upaya upaya semenjak dini melakukan sosialisasi atau alih tehnologi Pertanian agar kedepan para petani tidak lagi melakukan pembakaran  hutan dan Lahan  tetapi dengan alih teknologi pertanian masyarakat diberikan pemahaman kepada masyarakat agar melakukan alih teknologi Pertanian membuat Tricodherma, yaitu tehnologi yang ramah lingkungan dengan harga terjangkau. Tanpa harus membakar para petani bisa meningkatkan produktifitas kerja dan ramah Lingkungan.

*) Penulis  Mantan Kasatgas Karhutla Polda Kalbar