Bercermin pada Tahun 2017, Menatap Tahun 2018

Bercermin pada Tahun 2017, Menatap Tahun 2018

  Kamis, 14 December 2017 09:29   257

Oleh: Pitono

Menggenjot Pengeluaran Pemerintah

Hingga triwulan ketiga (Januari-September) 2017, kinerja pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat menunjukkan trend positif. Berdasarkan rilis BPS, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat year-on-year tumbuh sebesar 5,13  persen. 

Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat memang mulai sedikit menggeliat tumbuh dari 4,91 persen  pada triwulan kedua menjadi 5,13 persen pada triwulan ketiga. Hampir seluruh komponen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasar pengeluaran mengalami pertumbuhan.  Konsumsi pemerintah merupakan komponen penting dalam menopang perekonomian daerah. Kontribusinya cukup dominan setelah konsumsi tumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Namun demikian, sumbangsihnya bagi pertumbuhan daerah hanya mencapai 0,64 persen. Padahal peningkatan tajam konsumsi pemerintah pada triwulan ketiga sudah merupakan kelaziman sesuai siklus anggaran (APBN). Namun, hal tersebut belum cukup kuat mendongkrak pertumbuhan PDRB. Dalam tiga tahun terakhir pertumbuhan ekonomi triwulan empat (Oktober-Desember) cenderung melambat, sehingga secara keseluruhan jika pertumbuhan ekonomi selama 2017 dapat mencapai 5 persen menjadi prestasi yang cukup baik. 

Terasa Oktober 

Dampak nyata perbaikan finansial global baru sangat terasa pada Oktober. Titik lemah perekonomian Kalimantan Barat adalah pada struktur lalu lintas modal masuk (capital inflow). Investasi portofolio (jangka pendek) jauh lebih besar daripada investasi langsung (jangka panjang).  Jika struktur lalu lintas modal masuk lebih sehat, niscaya perekonomian Kalimantan Barat akan lebih tangguh menghadapi badai krisis finansial global. Mengingat, kita memiliki modal dasar yang cukup baik di lini ''pertahanan'' (domestik): perbankan kita sangat sehat, ketahanan pangan terjaga untuk jangka pendek, dan tekanan inflasi melemah sejalan dengan penurunan harga komoditas. Inflasi selama tiga tahun terakhir berhasil dikendalikan sesuai dengan targetnya, sampai dengan bulan November 2017 mencapai 3,35%, sesuai dengan sasaran inflasi 2017 yang berkisar antara 3 sampai dengan 3,5 persen. Selain inflasi yang menjadi penopang pertumbuhan adalah ekspor. Sampai bulan Oktober, neraca perdagangan Kalimantan Barat mengalami surplus 481,06 juta US$. Dengan mengandalkan komoditas seperti Bahan Kimia Anorganik, Kayu Barang dari kayu, dan Bijih, Kerak, Abu Logam, Karet dan Barang dari Karet, Lemak dan Minyak Hewan/Nabati, serta Buah-buahan, nilai ekpor sampai bulan Oktober mencapai 691,64 juta US$. Sementara itu, konsumsi masyarakat (private consumption) masih bisa diharapkan tidak mengalami penurunan. Ada dua penopang utama, yang pertama, pemerintah akan semaksimal mungkin menggunakan instrumen kebijakan anggaran untuk menggelontorkan subsidi langsung maupun tak langsung kepada berbagai segmen masyarakat. Di samping itu, pemerintah akan lebih waspada terhadap ancaman kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Kedua, anggaran untuk pembangunan infrastruktur yang bersifat padat karya juga tampaknya akan diperbesar. Jika serangkaian langkah tersebut berlangsung mulus, ancaman kemerosotan pertumbuhan investasi dan ekspor akan bisa diredam oleh konsumsi domestik. Apalagi mengingat porsi konsumsi masyarakat dan pemerintah sangat dominan, yakni lebih dari 65,61 persen PDRB. Dengan kerja keras dan perubahan pola pikir yang melandasi kebijakan pemerintah, maka pertumbuhan ekonomi pada 2018 di atas 5 persen, tampaknya, masih mungkin tergapai.

Membuka Mata 

Krisis finansial global seharusnya makin membuka mata kita bahwa perekonomian Kalimantan Barat yang dewasa ini sudah jauh lebih baik ketimbang semasa krisis sepuluh tahun lalu, namun masih memendam kerawanan  yang memperlemah fondasi untuk tumbuh dan berkembang secara sehat serta berkelanjutan. Struktur pertumbuhan ekonomi yang sedang berlangsung kurang optimal dalam mendukung penyerapan tenaga kerja. Meski lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya, namun lapangan usaha yang tumbuh tinggi pada triwulan III 2017 hanya lapangan usaha yang memiliki daya serap tenaga kerja rendah, seperti konstruksi, transportasi, pergudangan dan komunikasi. Sebaliknya, lapangan usaha yang berdaya serap tenaga kerja tinggi, seperti industri dan perdagangan tumbuh kurang signifikan, hanya sektor pertanian yang tumbuh cukup signifikan.

Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, maka produktivitas tenaga kerja harus ditingkatkan. Pencapaian pertumbuhan ekonomi akan dapat melebihi dari yang dicapai saat ini (5,13 persen), jika  didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk membentuk SDM yang berkualitas, pemerintah dan pemangku kebijakan lainnya tidak bisa hanya mengandalkan intelejensi, kompetensi, dan kapasitas masyarakat saja. Akan tetapi, pembangunan integritas dan karakter dinilai menjadi kunci dalam membentuk SDM yang bisa diandalkan untuk membangun negara. Jadi sangat tepatlah program “Revolusi Mental” yang dicanangkan oleh Pemerintah saat ini. 

Salah satu alat untuk mengukur pembangunan kualitas tenaga kerja adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM berperan penting dalam pembangunan perekonomian modern. Kualitas SDM yang baik akan mampu untuk berinovasi mengembangkan faktor-faktor produksi yang telah ada. Menurut data BPS pada tahun 2016, IPM Provinsi Kalimantan Barat sebesar 65,88 yang mengalami pertumbuhan 6,31 persen dibandingkan tahun 2010. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia di Kalimantan Barat semakin hari semakin membaik.  Namun jika dilihat dari daya saing, SDM di Kalimantan Barat masih belum menggembirakan, karena dilihat dari rata-rata lama sekolah pada tahun 2016 masih sekitar 6,98 tahun atau baru tamat sekolah dasar. Meskipun masih dibawah rata-rata Nasional, namun angka tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan Provinsi NTB (sebesar 6,79 tahun) dan Papua (sebesar 6,18 tahun). 

Ekonomi dan Tenaga Kerja

Ada 2(dua) faktor penting yang mendukung kinerja ekonomi yaitu permintaan domestik dan investasi. Peningkatan permintaan, sangat tergantung pada tingkat pengeluaran konsumsi rumah tangga,  investasi untuk program-program pengurangan kemiskinan, dan kenaikan upah minimum. Karena 2(dua) hal tersebut dapat meningkatkan penghasilan keluarga dan mendorong peningkatan permintaan rata-rata.  Kemampuan Ekonomi Keluarga dapat diukur melalui beberapa cara, salah satunya melalui garis kemiskinan, analisa data tentang konsumsi, pengeluaran melalui ukuran komparatif dan ambang batas lain. Pada bulan Maret 2017, garis kemiskinan Provinsi Kalimantan Barat ditetapkan sebesar Rp.377.219 per bulan dan diperkirakan ada 387,43 ribu jiwa atau 7,88 persen penduduk miskin. Sebagian besar keluarga miskin di Kalimantan Barat bekerja di sektor pertanian dan berada di Desa. Maka dari itu, agar perekonomian masyarakat di  desa membaik, maka  respons kebijakan  sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di desa. Secara khusus, desa membutuhkan strategi dalam meningkatkan produktivitas dan penghasilan di sektor pertanian maupun non-pertanian. Investasi di bidang akses desa, diversifikasi ekonomi, organisasi petani dan pekerja desa yang lain, serta perluasan sistem perlindungan menjadi sangat penting di sini. 

Menatap Tahun 2018

Dalam Sambutan Gubernur BI pada PTBI 2017, disebutkan bahwa dalam jangka menengah panjang perekonomian negara berkembang memainkan peranan lebih besar sebagai sumber pertumbuhan ekonomi global. Negara-negara berkembang diperkirakan tumbuh lebih tinggi dengan Tiongkok dan India sebagai motor utamanya. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang akan tumbuh lebih rendah karena permasalahan aging population dan produktivitas. Pertumbuhan ekonomi global yang meningkat gradual ini akan diikuti oleh pertumbuhan harga komoditas dengan pola serupa.

Dengan perkembangan ekonomi global tersebut, Kalimantan Barat optimis dapat mencapai perekonomian yang lebih baik, karena di saat negara maju mengalami aging produktivitas, Kalimantan Barat malah sebaliknya produktifitasnya mengalami peningkatan utamanya di sektor pertambangan, pertanian, perkebunan, dan perikanan. Sebagaimana diketahui, pemerintah telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2018 berada di kisaran 5,4 persen sampai dengan 6,1 persen. Sedangkan untuk inflasi, pemerintah sudah menetapkan target inflasi pada 2018 berada di kisaran 2,5%-4,5% untuk menjaga daya beli masyarakat agar tetap sehat dan Kalimantan Barat optimis dapat mencapai target yang telah ditetapkan dengan asumsi pelaksanaan PILKADA serentak di Kalbar berjalan dengan kondusif.*

Penulis: Kepala BPS Provinsi Kalimantan Barat