Berburu Emas di Kapuas

Berburu Emas di Kapuas

  Senin, 11 April 2016 09:04
POST PETI: Sejumlah warga sedang menambang emas tanpa izin di Sungai Kapuas. Aktivitas ini dilakukan secara terbuka dan terang-terangan. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK

Berita Terkait

Pertambangan emas tanpa izin (PETI) di sepanjang Sungai Kapuas hingga kini masih marak. Ratusan set alat pertambangan emas bisa disaksikan dengan mudah di sungai terpanjang di Indonesia itu. 

ARIEF NUGROHO, Kapuas Hulu

Dalam ekspedisi menyusuri Sungai Kapuas bersama Kapal Bandong KM Cahaya Borneo, Pontianak Post berhasil mengabadikan sejumlah aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di sepanjang Kapuas. Aktivitas yang oleh warga setempat disebut Jek, ini dengan mudah dijumpai mulai dari Belitang, Kabupaten Sintang, hingga Nanga Silat, Kecamatan Silat Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu. Tidak tanggung-tangung, jumlahnya mencapai ratusan set.

Aktivitas ini mulai terpantau sejak Kapal Bandong yang saya tumpangi memasuki daerah Kabupaten Sintang, Belitang. Di daerah itu sepertinya masyarakat dengan bebas melakukan aktivitas pertambangan emas secara ilegal. 

Begitu pula saat kapal Bandong kami melintas di Lintang Batang, Tempunak, Batu Lalao, Klansam, Misiku, Lebang, Tajung Baong, Ulak Sembam, Ketungau, Penai Hilir, Penai Hulu hingga Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu.

Suara-suara mesin terus menderu. Menyedot pasir-pasir dari dasar sungai yang mengakibatkan air di daerah sekitarnya menjadi keruh dan tercemar.

Warga membuat semacam lanting yang sekaligus digunakan untuk bermalam. Lanting itu dikaitkan dengan pohon besar di pinggir sungai. Lokasinya pun ada yang di pinggir sungai, ada juga yang menjorok ke tengah. Sehingga membahayakan kapal-kapal yang melintas.

Tidak hanya di kawasan sungai, aktivitas PETI juga terpantau di balik rindangnya pepohonan di sepanjang Sungai Kapuas, khususnya Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu. Tak jarang mereka menggunakan mesin berkekuatan rendah. Kebanyakan dari mereka, menggunakan mesin fuso 6 silinder dengan pipa ukuran 8 sampai 12 ins. Bisa dibayangkan seberapa besarnya kapasitas mesin itu.

Menurut cerita, aktivitas PETI di pinggiran Sungai Kapuas sudah ada sejak lama. Bahkan jumlahnya akan meningkat jika musim kemarau. Selain merusak lingkungan, dampaknya juga berimbas pada lalu lintas kapal yang melintasi Sungai Kapuas.

“Kami beberapa kali hampir menabrak mereka. Bagaimana tidak, aktivitas meraka tidak lagi di pinggiran Kapuas, tetapi ada beberapa berada di tengah,” ujar Anai, juragan Kapal Bandong KM Cahaya Borneo. 

Menurutnya, aktivitas seperti itu sudah tidak asing lagi. Selain di pinggiran sungai, PETI juga berada di darat, di balik pepohonan pinggiran Kapuas. “Di balik pepohonan itu, luasnya sudah seperti lapangan pesawat terbang. Mereka kerja di sana. Saya tak habis fikir, kemana aparatnya? Kok mereka terang-terangan melakukan aktivitas seperti ini,” lanjut Anai heran.

Menurut Anai, untuk membuat satu set mesin Jek, tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan. Mencapai ratusan juta rupiah. “ Untuk membeli mesin, spiral, tianly, pom, pipa, hingga membuat lanting. Jika dihitung-hitung sekitar Rp270 an juta.

Hal senada juga diungkapkan Faisal, anak buah kapal. Faisal faham betul tentang aktivitas pertambangan emas tanpa izin. Menurutnya, sebelum menjadi anak buah kapal, ia sempat menggeluti pekerjaan ini selama hampir kurang lebih tiga tahun.

Selama menggeluti pekerjaan sebagai pemburu emas, Faisal bersama kelompoknya beberapa  kali pindah lokasi, mulai dari Nanga Laki, Usaha Baru, Semangut, Sungai Trus hingga Bukit Jitan.

Menurutnya, pekerjaan sebagai penambang emas sangat menjanjikan. Sehingga tak heran jika banyak orang yang menggeluti profesi ini. Bahkan dalam suatu waktu, ia dan kelompoknya pernah mendapatkan lebih dari 1 ons emas atau bahasa local menyebut 35 real. Satu real sama dengan 3,75 gram. “Satu real emas dihargai Rp 1.250.000,” kata Faisal.

Dalam berbagi penghasilan, lanjut Faisal, biasanya yang paling besar mendapatkan keuntungan adalah juragan atau pemilik mesin. Sementara pekerjanya mendapat upah setelah jumlah total pendapatan dipotong biaya operasional. “Saya waktu itu dapat bagian Rp2 jutaan,” lanjutnya. (*)
 

Liputan Khusus: 

Berita Terkait