Berburu Buku Tua dan Langka, Punya 400-an Buku, Abad 19 Sampai Tulisan Soekarno

Berburu Buku Tua dan Langka, Punya 400-an Buku, Abad 19 Sampai Tulisan Soekarno

  Senin, 30 November 2015 09:02

Berawal dari kegemarannya dengan buku, Ribut Ali Wibowo (25) kemudian tertarik pada buku-buku tua. Dia berburu dari kota ke kota, mendatangi banyak kolektor, sampai mendatangi rumah warga yang diketahui banyak menyimpan buku langka. Sekarang koleksinya lebih dari 400 judul, yang sebagian besar diburu oleh banyak pencinta buku di Indonesia.Hendy Erwindi-Pontianak

               Bowo, demikian Ribut Ali Wibowo sering disapa mulai bersemangat berburu buku-buku tua dan langka setelah mendapat buku ‘Penyambung Lidah Rakyat’, biografi Soekarno yang ditulis Cindy Adam pada 2011. Dia mendapatkannya secara tidak sengaja di Bandung. Dari itu, hari kehari, Bowo selalu mencari informasi tentang buku. Dari mal, dia turun ke pasar, ke kaki lima. Dari toko dia pergi ke gerobak-gerobak di trotoar. Aktivitas itu dia banyak lakukan di Bandung. “Memang Bandung merupakan gudangnya buku,” ujarnya, dua hari lalu.

Di Bandung Bowo tidak sekadar mencari buku. Tujuan utamanya adalah kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Pasundan. Di sela-sela waktu kuliah dia berkelana ke penjuru kota yang digelar sebagai Paris Van Java itu untuk mendapatkan buku. Kelananya itulah yang membuat Bowo bertemu dengan budayawan Bandung, Sudarsono Katam, penulis buku Bandoeng Tempo Doeloe. “Pak Sudarsono yang banyak mengarahkan saya ke mana dan bagaimana caranya mencari buku tua dan langka,” ungkapnya.

Tuanya buku bukan menjadi indikator utama Bowo menentukan pilihan. Indikator langka yang menjadi pendampingnya, sebab buku tua tidak selalu langka. Di Indonesia, sebagian buku-buku tulisan Soekarno mengandung dua indikator itu, selain tua, ya langka. Misalnya ‘Di Bawah Bendera Revolusi’, Bowo berhasil mendapatkannya. Tidak satu, tetapi lebih dari lima buah. “Sekarang, saya masih punya empat. Semuanya asli, ada tanda tangan Bung Karno,” tuturnya.

Tidak hanya di Bandung, Bowo juga pergi ke kota lain jika ada informasi tentang buku tua serta langka. Dia pernah ke Bogor, Tasikmalaya, dan Jakarta untuk mencari buku. “Daerah yang pernah menjadi pusat pemerintahan kolonial biasanya banyak buku tua,” ucapnya.

Alumnus SMA PGRI Singkawang itu tidak menyebut berapa uang yang dihabiskannya untuk membeli buku. Menurutnya buku tidak dapat dibandingkan dengan uang. Ilmu dan kepuasan yang lebih dominan menjadi alasannya mengoleksi buku tua dan langka. Meskipun mahasiswa rantau, Bowo tidak memberatkan orang tua untuk membeli buku-buku tersebut. Dia menyisihkan uang jajan dan hasil keringat sendiri untuk membeli buku. Saat kuliah dia juga sambil bekerja, meskipun tidak berkesinambungan. “Kalau ada uang, yang pertama kepikir adalah buku,” ujarnya.

Saat ini, buku paling tua dan langka yang dikoleksinya berjudul ‘Nature’ karangan James Prescott Joule. Buku itu diterbitkan pada 1883. James Prescott Joule adalah fisikawan yang namanya diabadikan pada satuan joule. Buku itupun tidak sengaja dia temukan. Kala itu berjalan di salah satu sudut Kota Bandung. Langkahnya terhenti ketika melintasi pedagang barang-barang tua. Buku ‘Nuture’ terselip di antara barang-barang dagangannya. “Langsung saja saya beli.”

Selain untuk dibaca, Bowo mengoleksi buku tua dan langka karena prihatin dengan kondisi literasi Indonesia. Anak muda mulai meninggalkan buku yang kemudian beralih pada gedget sebagai teman sehari-hari. “Saya ingin menyelamatkan aset. Soalnya sekarang buku-buku Indonesia diburu kolektor-kolektor negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei,” ungkapnya.(*)