Berbuka di Masjid Nabawi Jadi Terapi Jiwa

Berbuka di Masjid Nabawi Jadi Terapi Jiwa

  Minggu, 26 June 2016 10:49

Berita Terkait

Dua puluh satu hari sudah puasa dijalankan umat muslim di Indonesia. Begitu pula di belahan bumi lainnya. Beragam keunikan yang dialami. Ada yang harus beradaptasi dengan lamanya waktu berbuka. Ada pula yang harus memendam rindu dengan sajian menu khas Indonesia. Bahkan ada yang mengaku lebih tenang beribadah, terutama ketika menyaksikan ribuan umat Islam memenuhi rumah Allah di Arab Saudi. 

Bulan Ramadan kali ini menjadi spesial bagi Kholili. Pria 24 tahun ini, menjalankan ibadah umrah sekaligus ibadah puasa hingga Salat Idulfitri di Saudi Arabia. Keberangkatan dilakukan bertepatan dengan 17 Ramadan kemarin. Hari pertama keberangkatan, dia harus menjalankan ibadah puasa terlama. “Dari Indonesia pukul 15.30. Perjalanannya sekitar 8 jam lebih. Puasa saya jadi lebih panjang. Sebab bukanya itu sekitar pukul 22.00 waktu Indonesia,” jelasnya yang berbuka puasa di dalam pesawat dan satu jam kemudian baru mendarat ke Bandara International Amir Mohammad Bin Abdul Aziz. 

Soal makanan, dia mengaku tak perlu beradaptasi. Makanan yang dipesan dari katering orang Indonesia. Bisa pesan menu sesuai keinginan. Tantangan terberat kata Ali-sapaan akrabnya, waktu berbuka puasa lebih lama sekitar satu jam, dengan kondisi cuaca 56 derajat celcius. “Hausnya luar biasa, apalagi langsung ada program city tour, mengunjungi Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud, dan Kebun Kurma,” terangnya yang saat di hubungi berada di Madinah.  

Beda dari Indonesia, ibadah shalat tarawih di sana cukup lama. Tetapi dia mengaku, lebih tenang menjalankan ibadah puasa di tanah Arab tersebut. Apalagi melihat banyak orang dari berbagai negara, latar belakang, saling berlomba-lomba untuk melakukan kebaikkan. “Karena ramainya, bisa berdesak-desakkan, tetapi ibadah tetap lancar. Itulah kuasa Allah. Bagi jemaah yang fisiknya tidak kuat, biasanya 5 kali salam sudah pulang,” papar dia. 

Paling menarik jelang berbuka puasa. Dia melihat banyak orang-orang kaya datang membawa makanan untuk dibagikan di Masjid Nabawi. “Kadang ada yang datang dengan mobil sendiri,  ada pula dengan truk. Ada pula yang turun sendiri ke Masjid Nabawi untuk membagikan makanan. Orang jualan makanan ada, tetapi sedikit pembelinya,” ujarnya kagum. 

Menurut Ali, suasana berbuka puasa di Masjid Nabawi ini menjadi terapi jiwa agar setiap orang tidak merasa tinggi dari yang lainnya.”Dari orang paling kaya, sampai paling miskin makannya di tempat yang sama dan makanan yang sama pula,” jelasnya.

Menu yang dibagikan cukup beragam, tak ketinggalan kurma sebagai menu awal buka puasa. Ada nasi bukhori, nasi mandi, roti arab, minuman kaleng, jus, mineral dan lainnya. “Makanan yang paling diingat jemaah umrah yakni al bek. Semacam makanan siap saji yang terdiri dari ayam goreng, kentang, roti, ditambah mayonaise dan saos. Tetapi khas dan enak,’” ungkapnya.

Kemarin dia juga sempat datang terlambat mendekati waktu berbuka. Ia pun tak kebagian makanan. “Melihat saya tidak dapat makanan, orang sekitar saya duduk bagi-bagi sedikit makanan. Ada yang ngasi nasi, air, buah, eh jadi kebanyakan malah,” pungkasnya bersyukur.**

Berita Terkait