Berbeda Gaya Hidup

Berbeda Gaya Hidup

  Sabtu, 1 Oktober 2016 10:08

Berita Terkait

Banyak pasangan suami istri yang memiliki gaya hidup berbeda. Tak jarang perbedaan ini pun menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada pertengkaran. Jika tak belajar untuk saling memahami dan menyesuaikan diri, dapat menyebabkan konflik keluarga yang berkepanjangan.

 
 

Oleh : Marsita Riandini

 

Tak semua pasangan suami istri berasal dari latar belakang yang sama. Hal ini membuat pola pikir dan karakter keduanya berbeda. Perbedaan ini juga membuat gaya hidup menjadi berbeda, bahkan bertolak belakang.

Lantas bagaimana menyikapi perbedaan gaya hidup dengan pasangan? Yulia Ekawati Tasbita, S. Psi, Psikolog menyatakan seseorang tidak bisa menuntut pasangan agar semua sifat termasuk gaya hidupnya sama seperti dirinya. Sebab, gaya hidup dipengaruhi oleh banyak faktor terutama dari lingkungan terdekat.

“Gaya hidup seseorang itu umumnya dipengaruhi oleh lingkungan, dimulai dari lingkungan keluarga, meluas ke sekolah, pergaulan, tempat kerja,” jelas Yulia yang merupakan salah satu pendiri Biro Konsultasi Persona ini.

Faktor-faktor tersebut membuat gaya hidup suami dan istri menjadi berbeda. Misalnya, ada sepasang suami istri yang sama-sama berasal dari keluarga yang kaya secara ekonomi. Namun, keduanya memiliki perbedaan dalam gaya hidup. Suami cenderung bergaya hidup hedonis, menyenangi barang-barang bermerek dengan harga yang mahal karena memang sudah terbiasa di lingkungan keluarganya. Sementara si istri cenderung lebih sederhana. Pergaulannya pun terbilang dari kalangan biasa saja, berbeda dengan sang suami yang bergaul dengan teman-teman yang high class. Akhirnya perbedaan ini bisa memicu konflik dalam rumah tangga, jika satu dengan lainnya tidak bisa saling menyesuaikan.

“Dalam rumah tangga itu pasti akan menemukan banyak perbedaan. Sebab karakter pasangan berbeda-beda,” papar Yulia.

Ia menyarankan agar belajar menyesuaikan gaya hidup pasangan. Artinya, ketika masuk dalam lingkungan pasangannya, maka dia harus bisa menempatkan posisi sebagaimana mestinya.

“Jika masuk ke lingkungan pergaulan pasangan yang high class, sementara dirinya biasa saja, cobalah untuk belajar menyesuaikan. Penyesuaian tentu tidak harus berlebihan, tetapi bagaimana membuat dirinya merasa nyaman, tanpa ada rasa minder, dan lebih percaya diri,” ungkapnya.

Demikian pula bagi seseorang yang terbiasa dengan gaya hidup high class, juga harus menyesuaikan ketika masuk ke lingkungan yang lebih sederhana.

“Intinya adalah bagaimana seseorang bisa menyesuaikan diri dengan tepat dalam pergaulannya. Terutama bila gaya hidupnya dengan pasangan itu berbeda,” tuturnya.

Menurut Yulia, sebelum seseorang memutuskan untuk menikah dengan pasangannya, dia seharusnya mengetahui gaya hidup pasangannya itu. Apalagi jika ada proses pacaran sebelum menikah, berarti dia sudah siap untuk menyesuaikan dengan kehidupan pasangannya dan begitu pula sebaliknya.

Perbedaan gaya hidup ini tak jarang pula membuat seseorang ragu untuk menikah. Bila ragu, Yulia menyarankan untuk kembali memikirkan matang-matang keinginan untuk menikah dengan calon pasangan. Sebab ketika dipaksakan, dikhawatirkan rumah tangganya tidak berjalan lama.

“Sebelum menikah, sebenarnya sudah bisa dilakukan penyesuaian. Tak hanya dengan pasangan saja, tetapi juga dengan keluarganya dan lingkungan pergaulannya. Sehingga setelah menikah sudah terbiasa,” pungkasnya. **

 

 

 

Berita Terkait