Berawal dari Senang Bersosialisasi

Berawal dari Senang Bersosialisasi

  Selasa, 26 April 2016 09:39
Eva Nurfarihah. Dokter Spesialis THT-KL

Berita Terkait

Pilihannya dr. Eva Nurfarihah, M. Kes, Sp. THT-KL  jatuh pada dunia kesehatan, lantaran kesenangannya bersosialisasi dengan banyak orang. Eva pun menikmati profesinya, bahkan ke depan harapannya bisa membangun  hearing center untuk memudahkan penderita gangguan pendengaran. 

Oleh : Marsita Riandini 

Ruangan Poli THT-KL Rumah Sakit Sultan Syarif Muhammad Alkadrie terlihat lengang dari pasien. Saat ditemui For Her, Eva Nurfarihah (42 th) baru saja selesai menjalankan kewajibannya dari pagi hingga siang hari untuk menangani sejumlah pasien, dari anak-anak hingga dewasa. Pulang dari sana, biasanya Eva lanjut ke tempat praktek, dan malam harinya di RS. Mitra Medika Pontianak. 

Menjadi seorang dokter bukanlah impian kecil dokter asal Bandung itu. Bahkan ketika harus melanjutkan ke perguruan tinggi, dirinya masih meraba-raba bidang apa yang ingin ditekuni. Beruntung orang tuanya membebaskan Eva menentukan pilihan. “Lingkungan orang tua lebih ke agama. Ayah saya hakim di pengadilan agama, sementara ibu  guru. Tapi terpenting itu anaknya bahagia, tidak memaksa mau jadi apa,” ulas wanita kelahiran Sukabumi ini. 

Pilihannya jatuh pada dunia kesehatan, lantaran kesenangannya bersosialisasi dengan banyak orang. “Saya pribadi merasa dokter itu profesi yang tepat. Saya senang bertemu banyak orang, berbagi solusi jika ada masalah,” beber alumni SMA N 3 Bandung ini. 

Lulus kuliah, Eva harus menjalankan tugas sebagai dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap). Pilihannya saat itu adalah Jambi, karena menurutnya tidak butuh antri. “Kalau di Bandung khan, lulusan dokter ramai. Sementara saya tidak mau menunggu. Maka saya cari daerah lain yang lagi kosong. Dipilihlah jambi, sebulan setelah itu saya langsung dipanggil,” ucap dia yang bersyukur triknya mencari wilayah untuk mengabdi sukses. 

Mengaplikasikan ilmunya di tempat orang lain memberikan banyak pengalaman baginya. Terlebih masyarakat mengganggap dokter itu tahu segalanya. Tidak hanya mengobati penyakit saja, dirinya pun menjadi tempat berbagi oleh masyarakat. “Saat jadi dokter PTT, saya mulai nabung buat sekolah lagi. Tetapi saya pikir harus tetap cari peluang PNS biar tidak terlalu berat beban biaya sekolah. Selesai PTT, saya pulang ke Bandung,” papar dokter lulusan Universitas Padjajaran, Bandung ini.  

Tiba di Bandung, ternyata peluang menjadi PNS masih berpihak padanya setelah sebelumnya sempat kecewa karena dia belum menyelesaikan kewajibannya sebagai dokter PTT. “Ternyata saya pulang ke Bandung itu ada gelombang ke tiga. Saya ikut daftar,” tambah alumni SMAN 3 Bandung ini. Sama ketika mencari lokasi untuk mengabdi sebagai dokter PTT, saat melamar PNS pun Eva menggunakan trik tersebut agar tidak banyak persaingan. “Kebetulan saat itu Tasikmalaya yang dulunya satu pecah jadi kota dan kabupaten Tasikmalaya. Nah, banyak dokter yang dipindahkan ke kota. Jadi di kabupaten kosong, makanya saya pilih di sana, akhirnya keterima,”  jelas dia. 

Ditempatkan di Bantarkalong, tiga jam dari Tasikmalaya membuat Eva menemukan banyak hal. Termasuk tertarik menjadi spesialis THT. “Saya memang pingin sekolah, cuma masih bingung mau jadi apa. Kebetulan saat itu  banyak masyarakat yang menderita difteri yang menyerang selaput hidung dan tenggorokan. Akibatnya seseorang bisa kesulitan bernafas. Difteri ini juga menyebabkan amandel. Ini membuat saya tertantang, kemudian tertarik untuk mengambil spesialis THT,” ucap dia yang saat itu menjadi dokter pertama di Kabupaten Tasikmalaya yang lanjut sekolah spesialis. 

Sebelumnya, Eva pernah mengikuti pelatihan kandungan dan kebidanan yang bekerjasama dengan universitas dari Belanda. Namun dia merasa kurang cocok dengan bidang ilmu tersebut. “Kalau menjadi Obgyn (Obstetric (kandungan) dan Gynecology, red) kurang pas di saya, apalagi jam kerja memang tidak teratur. Namanya orang melahirkan tentu harus siap kapan saja,” jelasnya.  

Lalu bagaimana bisa sampai ke Pontianak? “Tahun 2008, saya menikah dengan suami yang dosen di Untan. Karena harus ikut suami, saya ajukan pindah, meskipun di Kabupaten Tasikmalaya membutuhkan spesialis THT. Berhubung di sana rumah sakitnya belum juga berdiri, akhirnya disetujui pindah,” jelasnya. Tiba di Pontianak, ternyata nasibnya sama. Di RSUD Soedarso sudah penuh, sementara RS. Pemerintah Kota Pontianak belum berdiri ketika itu. “Tiga tahun lamanya saya sempat mengabdikan diri di RS. Abdul Aziz, Singkawang mulai tahun 2010 - 2013. Nah ketika RS Sultan Syarif Muhammad Alkadrie milik Pemkot Pontianak sudah beroperasi, saya mengajukan pindah dan diterima. Alhamdulillah bisa lebih kumpul lengkap bersama keluarga lagi,” pungkas ibu satu anak ini. ** 

-----------------------------------------

Pengalaman berkesan 
Saat menjadi koas, saya disuruh jaga di bagian penyakit dalam. Saat itu ada pasien yang habis cuci darah. Ternyata, bapak itu meninggal. Mau tidak mau saya harus menyampaikan ke istrinya. Itu kali pertamanya saya menyampaikan ke orang, kalau keluarganya meninggal. Istrinya sampai bersimpuh, ayo bantu tolong. Disitulah saya lalu berpikir kalau jadi dokter harus bisa menolong, tidak boleh gagal. Sampai terbawa-bawa cukup lama. Mungkin karena masih baru. 

Tantangan yang dihadapi
Penyakit THT ini ternyata cukup banyak di lapangan. Namun masalah yang dihadapi para dokter adalah alat. Untuk mengetahui pasien terkena penyakit apa, alatnya mahal. Ada yang ratusan bahkan milyaran. Tak cukup sampai disitu, harus ada solusinya apa. Masalah lainnya itu, banyak masyarakat yang masih mengabaikan pentingnya pendengaran. Terutama ketika masih balita yang akan mempengaruhi tumbuh kembangnya. 

Cara  membagi waktu 
Pasien THT jarang emergency di luar jam kerja. Kita juga dibatasi tidak boleh lebih dari tiga tempat praktek. Apalagi anak saya masih kecil, jadi tidak menyulitkan bagi waktu. Terutama antara kerja dan keluarga. 

Harapan Kedepan 
Saya ingin membuat hearing center. Dengan begitu masyarakat tidak perlu ke Jakarta atau ke mana. Mereka bisa langsung datang ke satu tempat saja dan mendapatkan solusi dari sakitnya. Termasuk pula apa yang harus mereka lakukan, termasuk terapi yang harus dijalani. (mrd) 

 

Berita Terkait