Berawal dari Makelar, Kini Punya Showroom Sendiri

Berawal dari Makelar, Kini Punya Showroom Sendiri

  Rabu, 25 November 2015 08:44
SELALU KINCLONG: Puluhan unit motor bekas berbagi jenis dan merk dipajang Usman di show room nya.ARISTONO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Bisnis jual beli motor bekas adalah salah satu bisnis yang cocok untuk para pemula. Mengapa demikian? Karena pangsa pasarnya cukup besar. Hampir semua kalangan masyarakan memiliki motor di setiap rumah. Karena harganya yang murah, para pelajar, mahasiswa, karyawan pun memilih menggunakan motor untuk aktivitas sehari-harinya. Motor bekas lebih disukai karena harganya lebih murah daripada motor baru.

Usman (43) pedagang sepeda motor bekas merintis usaha ini dari bawah sekali. Delapan tahun lalu dia hanya seorang buruh bangunan. Tenaga besar yang dikeluarkannya menurutnya tidak setimpal dengan hasil yang didapat. Dia pun mulai mencari usaha sampingan untuk menambah penghasilannya.Salah satunya adalah dengan menjadi makelar sepeda motor bekas.  “Awalnya saya nonkrong di deka Rumah Sakit Yarsi menawarkan sepeda motor bekas milik orang. Ternyata laku, dan saya mendapat untung lumayan,” sebutnya.

Dari situ dia pun memberanikan diri untuk terjun lebih dalam dalam bisnis ini. Berbekal uang pinjaman dari Credit Union dia pun membeli tiga sepeda motor bekas, yang totalnya sekitar Rp20 juta. Motor-motor itu laku dalam waktu tidak terlalu lama. “Uang penjualan itu saya putarkan lagi untuk beli motor bekas, yang saya jual lagi. Ternyata menjual sepeda motor bekas lebih menguntungkan,” ungkapnya.

Demi memperluas usahanya, dia pun berusaha menambah modal. Tidak tanggung-tanggung, sertifikat rumahnya dijadikan agunan untuk memperoleh kredit usaha dari perbankan. Kini dia memiliki pusat penjualan di Jalan Imam Bonjol. Ada belasan sepeda motor dipajang di sana. Di sampingnya, dia juga membuka jasa pencucian sepeda motor. Dalam berbisnis dia hanya dibantu oleh dua orang karyawannya, yang bertugas untuk masalah teknis dan pemasaran.

Soal omzet, Usman enggan membeberkannya. Menurutnya pendapatannya tidak tetap lantaran dia tidak mematok margin yang saklek dari tiap unit sepeda motor yang dijualnya. “Saya ambil untung hanya kecil, yang penting cepat laku saja. Dalam satu bulan saya mampu menjual 30 unit. Tetapi belakangan ini menurun sekitar 25 unit saja, karena ekonomi memang agak lesu,” pungkasnya.

Menurutnya berbisnis sepeda motor tergolong minim resiko. Sejauh ini dia tidak pernah merugi, kecuali satu kali ditipu temannya sendiri. Setiap hari dia hanya menunggu pembeli, memanaskan mesin dan membersihkan produk-produknya. Menunggu pembeli datang, kata dia, adalah seni tersendiri yang tak semua orang betah melakukannya. (ars)

Berita Terkait